JAKARTA, LINTAS – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan bahwa penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama dalam mewujudkan bandar udara yang aman, modern, berkelanjutan, dan mampu bersaing di tingkat global.
Komitmen tersebut disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia (IABI) Tahun 2026 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (27/6).
Dalam sambutannya, Lukman mengapresiasi peran IABI yang selama ini menjadi wadah para profesional, akademisi, dan praktisi dalam mendukung pengembangan sektor kebandarudaraan nasional.

“Atas nama Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, saya menyampaikan apresiasi kepada Ikatan Ahli Bandar Udara Indonesia atas dedikasi dan kontribusinya dalam mendukung pembangunan kebandarudaraan nasional. Sinergi antara pemerintah, organisasi profesi, akademisi, dan industri menjadi modal penting dalam mewujudkan sistem transportasi udara yang semakin maju,” ujar Lukman dikutip Senin (29/6/2026).
Ia mengatakan, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan jaringan bandar udara yang andal untuk memperkuat konektivitas antardaerah, mendorong pertumbuhan ekonomi, mendukung sektor pariwisata, serta memperluas akses masyarakat terhadap transportasi udara.
Saat ini terdapat 257 bandar udara yang beroperasi di Indonesia. Selain itu, pemerintah telah menetapkan 39 lokasi pembangunan bandar udara baru dalam Tatanan Kebandarudaraan Nasional. Dengan demikian, total Rencana Induk Bandar Udara Nasional mencakup 296 bandar udara yang diharapkan mampu memperkuat konektivitas hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Infrastruktur Transportasi
Menurut Lukman, pembangunan bandar udara di Indonesia memiliki tantangan yang sangat beragam karena dilakukan di berbagai kondisi geografis, mulai dari kawasan rawa, tanah gambut, pesisir pantai, pegunungan, hingga pulau-pulau kecil.
Pengalaman tersebut, lanjutnya, menjadi modal penting bagi Indonesia untuk terus mengembangkan infrastruktur transportasi udara dengan mengedepankan inovasi teknologi dan rekayasa konstruksi.



“Ke depan, pembangunan bandar udara tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus mengedepankan keselamatan, keberlanjutan, pemanfaatan teknologi, serta ketahanan terhadap perubahan iklim,” kata Lukman.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan bandar udara sangat bergantung pada kualitas para ahli di berbagai bidang, mulai dari perencanaan, desain, konstruksi, pengawasan, hingga pengoperasian bandar udara.
Karena itu, peningkatan kompetensi SDM harus menjadi prioritas dalam mendukung transformasi kebandarudaraan nasional.
Lukman juga mendorong IABI agar terus memperkuat perannya sebagai organisasi profesi yang mampu menjadi pusat pengembangan kompetensi, inovasi, dan kolaborasi para ahli bandar udara. Menurutnya, pengembangan sistem sertifikasi profesi yang diakui secara nasional maupun internasional juga perlu terus ditingkatkan.
“Saya berharap IABI menjadi rumah besar bagi para ahli bandar udara Indonesia, melahirkan SDM yang profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence, serta mampu berkontribusi tidak hanya dalam pembangunan bandar udara di Indonesia, tetapi juga pada berbagai proyek kebandarudaraan di tingkat regional maupun global,” tuturnya.
Gagasan dan Solusi
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Indonesia (APJAPI), Alvin Lie, menilai Munas IABI 2026 menjadi momentum strategis untuk mempertemukan para pakar kebandarudaraan dan penerbangan dalam membahas berbagai tantangan industri.
“IABI mengumpulkan para pakar untuk berdiskusi tidak hanya mengenai pengembangan bandar udara, tetapi juga berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi industri penerbangan saat ini. Kami berharap dari forum ini lahir berbagai gagasan dan solusi yang dapat berkontribusi dalam memperbaiki ekosistem penerbangan Indonesia,” ujar Alvin.
Melalui penyelenggaraan Munas IABI 2026, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara berharap kolaborasi antara pemerintah, akademisi, operator bandar udara, pelaku industri, dan organisasi profesi semakin kuat dalam membangun ekosistem kebandarudaraan yang inovatif, aman, berkelanjutan, serta memiliki daya saing internasional.
Munas IABI 2026 juga menjadi momentum pergantian kepengurusan organisasi dari Ketua Umum IABI periode 2016–2026, Moh. Iksan Tatang, kepada M. Pramintohadi Soekarno yang akan memimpin IABI untuk masa bakti 2026–2029. (CHI)
Baca Juga:Bandara Kertajati Bakal Jadi Pusat Perawatan Pesawat















