JAKARTA, LINTAS – Akses masyarakat di Jalur Malalak, ruas Koto Mambang–Balingka, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terus dipulihkan setelah diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengebut penanganan sejumlah titik terdampak agar konektivitas warga, distribusi logistik, serta aktivitas ekonomi dan sosial kembali berjalan.
Pemulihan ruas jalan tersebut menjadi prioritas karena Jalur Malalak merupakan salah satu akses penting yang menghubungkan masyarakat di wilayah terdampak bencana. Selain membuka kembali mobilitas warga, perbaikan juga ditujukan untuk memastikan perjalanan berlangsung lebih aman dan mendukung kelancaran distribusi kebutuhan masyarakat.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pemulihan konektivitas menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana, mengingat jalan dan jembatan memiliki peran vital dalam mendukung pergerakan masyarakat.
“Kementerian PU terus berusaha agar akses ini kembali fungsional secepat mungkin. Jalan dan jembatan merupakan urat nadi pergerakan masyarakat dan distribusi logistik,” kata Dody dikutip Jumat (14/8/2026).

Sejumlah Titik Rusak Ditangani Bertahap
Ruas Koto Mambang–Balingka yang mendapat penanganan berada pada segmen KM 69+500 hingga KM 87+875. Banjir bandang dan longsor menyebabkan kerusakan di sejumlah lokasi, mulai dari badan jalan amblas, material longsor menutup saluran drainase, hingga jembatan yang hilang dan memutus akses masyarakat.
Kementerian PU menerapkan penanganan secara bertahap dengan mengutamakan pemulihan fungsi jalan terlebih dahulu. Setelah akses kembali dapat digunakan, pekerjaan dilanjutkan dengan penguatan secara permanen untuk meningkatkan keamanan dan keandalan infrastruktur dalam jangka panjang.
Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di KM 74+875, lokasi jembatan yang sebelumnya hilang akibat bencana hingga menyebabkan akses masyarakat terputus. Pemulihan dilakukan melalui pemasangan jembatan untuk membuka kembali konektivitas di kawasan tersebut.
Sementara itu, pada KM 69+575, KM 75+950, dan KM 76+290, pekerjaan diarahkan pada penguatan badan jalan, lereng, serta saluran air. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kestabilan infrastruktur sekaligus mengurangi risiko gangguan terhadap akses masyarakat.
Penanganan saluran drainase juga dilakukan di KM 74+610 yang sebelumnya tertutup material bencana. Pembersihan saluran diperlukan agar aliran air kembali lancar dan tidak mengganggu fungsi badan jalan.




Gunakan LiDAR untuk Petakan Lokasi Sulit
Untuk menangani lokasi longsor yang memiliki medan sulit dijangkau, Kementerian PU memanfaatkan teknologi Light Detection and Ranging (LiDAR). Teknologi ini digunakan untuk membantu memetakan kondisi medan sehingga penanganan dapat ditentukan secara lebih tepat.
Salah satu lokasi yang ditangani menggunakan pendekatan tersebut berada di KM 78+050 hingga KM 82+700. Pekerjaan meliputi pembersihan material longsor serta penataan kembali jalur agar akses dapat kembali berfungsi.
Rangkaian pekerjaan tersebut ditujukan untuk memastikan Jalur Malalak dapat kembali digunakan masyarakat secara aman dan lancar. Pemulihan akses diharapkan tidak hanya mempermudah mobilitas warga untuk bekerja dan menjalankan aktivitas sehari-hari, tetapi juga memperlancar akses terhadap layanan dasar, distribusi logistik, serta kegiatan ekonomi di wilayah sekitar.
Pemulihan ruas Koto Mambang–Balingka dilaksanakan dalam dua tahap utama, yakni pemulihan fungsi jalan dan penguatan secara permanen. Seluruh pekerjaan konstruksi telah dimulai sejak Desember 2025 dan ditargetkan selesai pada Desember 2026. (CHI)
Baca Juga: KSOP Utama Tanjung Perak Siapkan EAZI, Waktu Tunggu Kapal Lebih Cepat











