SURABAYA, LINTAS – KSOP Utama Tanjung Perak menghadirkan inovasi layanan Express Anchorage Zone Service (EAZI) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi pelayanan kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Inovasi ini ditujukan untuk mengurangi waktu tunggu kapal sebelum sandar, mengoptimalkan kapasitas terminal peti kemas, sekaligus memperkuat daya saing logistik nasional.
Kepala KSOP Utama Tanjung Perak, Agustinus Maun, S.T., M.T., mengatakan EAZI lahir sebagai respons atas meningkatnya kepadatan lalu lintas kapal di perairan wajib pandu Tanjung Perak, khususnya kapal domestik yang melayani terminal peti kemas di kawasan Teluk Lamong, yakni TPK Nilam, TPK Berlian, dan TPK Teluk Lamong.
“EAZI merupakan hasil kolaborasi strategis antara operator terminal, regulator, dan seluruh pemangku kepentingan kepelabuhanan untuk menciptakan sistem pelayanan kapal yang lebih efisien, terintegrasi, dan berbasis digital,” ujar Agustinus kepada Lintas, Rabu (29/7/2026), di Surabaya.
Menurutnya, implementasi EAZI melibatkan berbagai pihak, di antaranya PT Terminal Teluk Lamong (TTL), KSOP Utama Tanjung Perak, KSOP Gresik, Distrik Navigasi Kelas IA Tanjung Perak, Pelindo Jawa Sub Regional, serta PT Pelindo Jasa Maritim (PJM).
Secara konseptual, EAZI merupakan penataan ulang sekaligus optimalisasi pemanfaatan Zona Labuh 2 melalui sistem pelayanan yang terintegrasi, terjadwal, dan terukur. Layanan ini didukung digitalisasi melalui integrasi Inaportnet milik Kementerian Perhubungan dengan platform Phinnisi milik Pelindo, serta pengawasan digital menggunakan sistem Cakrawala.
Jawab Berbagai Permasalahan Operasional
Agustinus menjelaskan, EAZI dirancang untuk menyelesaikan sejumlah persoalan operasional maupun keselamatan pelayaran yang selama ini dihadapi Pelabuhan Tanjung Perak.
Permasalahan pertama adalah lamanya waktu transisi kapal dari lepas sandar hingga kembali sandar (ship to ship/STS). Sebelum EAZI diterapkan, proses tersebut membutuhkan waktu rata-rata 4 hingga 6 jam.
“Dengan EAZI, waktu transisi ditargetkan turun menjadi maksimal dua jam. Bahkan dalam beberapa implementasi sudah tercapai sekitar 1 jam 30 menit, atau berkurang hampir 70 persen,” jelasnya.
Permasalahan berikutnya adalah kepadatan dan ketidakteraturan plotting kapal di area labuh. Sebelumnya, kapal domestik dengan panjang hingga 150 meter LOA dan ukuran di atas 4.000 GT harus menunggu di area labuh luar tanpa sistem penjadwalan yang optimal sehingga memicu antrean.
Melalui EAZI, kapal diarahkan menuju titik labuh yang telah ditentukan berdasarkan sistem penjadwalan terintegrasi sehingga posisi kapal menjadi lebih tertata, terprediksi, dan efisien.
Selain itu, lamanya waktu tunggu kapal juga berdampak pada terbatasnya kapasitas pelayanan terminal dan memperlambat arus peti kemas. Setelah implementasi EAZI, peningkatan throughput mulai terlihat. Salah satunya, TPK Nilam berhasil mencatat arus peti kemas tertinggi sepanjang tahun 2026.
EAZI juga memperkuat aspek digitalisasi pelayanan melalui peningkatan akurasi Estimated Time of Arrival (ETA), sinkronisasi data antarpemangku kepentingan, serta optimalisasi proses perencanaan dan perizinan labuh. Di sisi lain, penerapan kewajiban aktivasi Automatic Identification System (AIS) dan kepatuhan terhadap zona maupun prosedur pelayaran turut meningkatkan transparansi dan akuntabilitas layanan.
Produktivitas Peti Kemas Naik 19 Persen
Saat ini, implementasi EAZI masih memasuki tahap uji coba Tahap I yang difokuskan di Terminal Nilam.
Berdasarkan hasil evaluasi uji coba pada 16 Juli 2026, penerapan EAZI menunjukkan hasil yang menggembirakan. Produktivitas arus peti kemas meningkat hingga 19 persen dibandingkan sebelum implementasi.
Agustinus menjelaskan, manfaat paling nyata yang dirasakan adalah berkurangnya waktu pergantian kapal (ship to ship).
“Sebelumnya ketika dermaga telah kosong, kapal yang akan sandar masih berada di zona labuh luar sehingga membutuhkan waktu pelayaran menuju terminal. Dengan EAZI, kapal yang telah memenuhi persyaratan dapat menunggu di Zona Labuh 2 yang lokasinya lebih dekat dengan terminal,” ujarnya.
Dengan posisi kapal yang lebih dekat, begitu dermaga tersedia kapal dapat langsung bergerak menuju lokasi sandar. Kondisi tersebut mampu mengurangi waktu kosong dermaga sehingga pemanfaatan fasilitas terminal menjadi jauh lebih optimal.
Dalam pelaksanaannya, mekanisme operasional EAZI dilakukan melalui koordinasi intensif antara terminal, PT Pelindo Jasa Maritim (SPJM)/SDM Pandu, serta KSOP Utama Tanjung Perak.
Koordinasi dilakukan sejak tahap perencanaan kedatangan kapal, kesiapan dermaga, penugasan pandu hingga pengaturan olah gerak kapal. Sinergi tersebut memastikan kapal yang memenuhi persyaratan dapat dilayani secara tepat sasaran, tepat waktu, aman, dan efisien meskipun aktivitas pelabuhan berlangsung sangat padat.
Siap Diperluas ke Terminal Lain
Ke depan, KSOP Utama Tanjung Perak menargetkan EAZI dapat segera diterapkan secara penuh setelah seluruh tahapan uji coba dan evaluasi selesai dilaksanakan.
“Hasil evaluasi akan menjadi dasar penyempurnaan mekanisme operasional agar implementasi EAZI semakin efektif dan memberikan manfaat optimal bagi seluruh pengguna jasa,” kata Agustinus.
Ia berharap EAZI tidak hanya diterapkan di Terminal Nilam, tetapi juga dapat diperluas ke terminal-terminal lain yang telah memenuhi persyaratan teknis, operasional, dan keselamatan pelayaran.
Menurutnya, implementasi yang lebih luas akan meningkatkan efisiensi pelayanan kapal, mendongkrak produktivitas pelabuhan, menambah jumlah ship call, meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), sekaligus memperkuat daya saing logistik nasional di tengah meningkatnya aktivitas perdagangan. (CHI)
Baca Juga: Investasi Asing Jalan Tol Indonesia Tembus Rp 36 Triliun











