Apa yang sebenarnya diwariskan?
Ganjar Kurnia benar dalam satu hal mendasar: generasi masa depan tidak boleh dipaksa membayar keputusan buruk generasi sekarang.
Tetapi prinsip keadilan antargenerasi juga mengharuskan kita melihat sisi lainnya.
Generasi masa depan tidak hanya menerima utang negara. Mereka menerima jalan, pelabuhan, bendungan, universitas, sistem listrik dan jaringan kereta yang dibangun generasi sebelumnya.
Maka ukuran moral dan ekonomi pembangunan bukan apakah sebuah proyek mempunyai utang berumur panjang.
Ukurannya adalah apa yang tersisa ketika utang itu masih berjalan.
Jika 50 tahun dari sekarang Whoosh menjadi jalur pendek yang terisolasi, kehilangan penumpang, membutuhkan subsidi terus-menerus dan tidak menghasilkan manfaat ekonomi yang sepadan, kritik bahwa generasi berikutnya hanya diwarisi tagihan akan terbukti benar.
Tetapi jika jalur yang sama menjadi bagian dari tulang punggung perkeretaapian Jawa yang menghubungkan kota-kota utama, mengurangi ketergantungan pada mobil dan penerbangan jarak pendek, meningkatkan produktivitas, membayar pajak, serta tetap beroperasi setelah sebagian besar pengambil keputusan hari ini telah tiada, maka penilaiannya akan sangat berbeda.
Karena itu, perdebatan Whoosh sebaiknya bergerak dari pertanyaan sempit “siapa membayar utangnya?” menuju pertanyaan yang lebih sulit tetapi lebih berguna:
“Bagaimana memastikan aset yang dibayar lintas generasi juga menghasilkan manfaat lintas generasi?”
Jawabannya bukan dengan menutupi utang. Bukan pula dengan menghentikan pembangunan karena takut berutang.
Jawabannya adalah transparansi fiskal, evaluasi ekonomi yang independen, pembagian risiko yang benar, kompetisi pembiayaan, integrasi jaringan dan perencanaan jangka panjang.
Cicilan memang dapat hidup lebih lama daripada kita.
Tetapi infrastruktur yang direncanakan dengan benar seharusnya hidup lebih lama lagi, dan terus menciptakan manfaat setelah cicilannya selesai.












