JAKARTA, LINTAS — PT MRT Jakarta (Perseroda) terus mengembangkan konsep placemaking sebagai bagian dari strategi pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini diarahkan agar kawasan di sekitar stasiun MRT tidak hanya menjadi tempat transit, tetapi berkembang menjadi ruang publik yang hidup, inklusif, nyaman, dan mampu menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, R. Samuel Ryan Pradipta Pranowo, dalam acara MRT Fellowship Journalist, Rabu (9/9/2026) mengatakan placemaking menjadi salah satu pendekatan penting dalam pengembangan bisnis MRT Jakarta ke depan.
Menurutnya, placemaking pada dasarnya menggambarkan bagaimana sebuah kawasan dapat dihidupkan kembali, baik melalui aktivitas masyarakat maupun kegiatan ekonomi.
“Placemaking ini menggambarkan bagaimana sebetulnya sebuah kawasan itu bisa dihidupkan kembali. Tidak hanya secara bisnis, secara aktivitas, tapi juga secara mendukung kegiatan masyarakat,” ujar Ryan.

Tak Hanya Membangun Transportasi
Ryan menjelaskan, pengembangan placemaking tidak dapat dilepaskan dari visi bisnis MRT Jakarta, yakni “Increasing Mobility, Improving Life Quality.”
Visi tersebut, kata dia, tidak sekadar menjadi slogan perusahaan. MRT Jakarta ingin meningkatkan kemudahan mobilitas masyarakat sekaligus berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup warga Jakarta dan sekitarnya. Untuk mewujudkan visi tersebut, MRT Jakarta mengembangkan tiga pilar bisnis, yakni network provider, urban platform, dan city regenerator.
Sebagai network provider, MRT Jakarta tidak hanya melihat dirinya sebagai penyedia layanan transportasi dari satu titik ke titik lainnya. Perusahaan ingin membangun jaringan transportasi yang semakin luas sehingga masyarakat dapat berpindah antarkawasan dengan lebih mudah.
Pengembangan jaringan tersebut antara lain diarahkan melalui rencana perluasan jaringan MRT, termasuk koridor menuju wilayah Tangerang Selatan serta pengembangan jalur Timur-Barat.
“Jadi kami menyediakan jaringan selengkap mungkin supaya orang bisa dengan mudah berpindah dari titik yang cukup banyak, tidak hanya dari satu titik ke titik lain,” kata Ryan.
MRT Jakarta Ingin Menjadi Urban Platform
Pilar kedua adalah urban platform, yakni menjadikan MRT sebagai platform bagi aktivitas masyarakat perkotaan. Dalam konsep tersebut, stasiun dan kawasan sekitarnya tidak hanya digunakan untuk naik dan turun kereta.
Kawasan tersebut dapat menjadi tempat masyarakat makan, berkumpul, berkomunitas, menghadiri kegiatan, hingga menikmati berbagai aktivitas hiburan. Salah satu contoh yang dikembangkan adalah Blok M Hub.
Kawasan tersebut diarahkan menjadi ruang yang dapat mempertemukan berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari kuliner hingga kegiatan komunitas.
“Harapannya masyarakat itu merasa identitasnya bukan lagi mobil atau motor saya, tetapi saya naik MRT. Jadi memudahkan masyarakat perkotaan,” jelasnya.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya MRT Jakarta mengembangkan transportasi yang terintegrasi dengan gaya hidup masyarakat.
Kerja sama juga dilakukan dengan berbagai mitra transportasi untuk mendukung kebutuhan first mile dan last mile, termasuk layanan menuju dan dari stasiun.
Selain itu, MRT Jakarta mengembangkan kerja sama dengan pusat perbelanjaan, pelaku usaha, platform digital, tempat wisata, hingga penyelenggara kegiatan.
Tujuannya, sambung Samuel, agar perjalanan menggunakan MRT tidak berhenti ketika penumpang turun dari kereta, tetapi terhubung dengan berbagai aktivitas yang mereka lakukan sehari-hari.
Dari Transportasi Menjadi City Regenerator
Pilar ketiga adalah city regenerator. Melalui pendekatan ini, MRT Jakarta ingin ikut menghidupkan kembali kawasan-kawasan perkotaan yang sebelumnya mengalami penurunan aktivitas.
Ryan mencontohkan perubahan yang terjadi di kawasan Blok M. Menurutnya, kawasan tersebut kini mengalami perubahan signifikan dengan hadirnya ruang-ruang baru yang lebih nyaman bagi masyarakat. Perubahan itu juga diharapkan memberikan dampak langsung terhadap aktivitas ekonomi, termasuk pertumbuhan UMKM.
“Yang paling penting sebetulnya ekonominya jadi tumbuh. Di situ UMKM bisa berkembang. Kalau belanjanya banyak, UMKM-nya tumbuh, pada ujungnya nanti pendapatan daerah di Jakarta juga meningkat,” tuturnya.
Karena itu, MRT Jakarta melihat pengembangan kawasan bukan semata-mata dari sisi pembangunan fisik. Kawasan yang telah dibangun harus memiliki aktivitas yang mampu menarik masyarakat untuk datang, tinggal lebih lama, berinteraksi, dan melakukan berbagai kegiatan. (CHI)












