JAKARTA, LINTAS — Ancaman kekeringan terhadap lahan pertanian mendorong Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat infrastruktur sumber daya air di sejumlah wilayah. Salah satunya melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kampung Kalobo dan Waibu, Papua Barat Daya.
Infrastruktur tersebut dirancang untuk menyediakan pasokan air alternatif bagi lahan pertanian yang menghadapi keterbatasan sumber air permukaan. JIAT di kedua wilayah itu melayani lahan pertanian seluas sekitar 100 hektare dan diproyeksikan memberikan manfaat bagi sekitar 90 petani.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan JIAT menjadi salah satu langkah untuk menjaga ketersediaan air bagi pertanian, terutama ketika wilayah tersebut menghadapi musim kering berkepanjangan yang dipengaruhi fenomena El Nino.
“Melalui JIAT ini, kita ingin memastikan ketersediaan air sehingga produktivitas pertanian meningkat dan ketahanan pangan semakin kuat,” kata Dody, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, pembangunan jaringan irigasi air tanah tidak cukup hanya dengan menyediakan sumur bor dan pompa. Infrastruktur tersebut juga perlu didukung jaringan saluran tersier agar air dapat didistribusikan secara efektif hingga ke lahan pertanian.
JIAT merupakan sistem irigasi yang memanfaatkan air tanah melalui sumur bor dan pompa untuk memenuhi kebutuhan air pertanian, khususnya di daerah yang belum terjangkau jaringan irigasi permukaan.




Layani 100 Hektar Lahan Pertanian
Di Kampung Kalobo dan Waibu, sistem JIAT dibangun dengan jaringan irigasi sepanjang sekitar 10 kilometer. Infrastruktur tersebut dilengkapi 80 bangunan pendukung untuk menunjang distribusi air ke kawasan pertanian.
Untuk memenuhi kebutuhan air, terdapat 10 titik sumur bor dengan kapasitas debit sekitar 12 liter per detik pada setiap titik. Air dari sumur kemudian dialirkan melalui jaringan irigasi dengan debit layanan sekitar 2,5 liter per detik per titik.
Sistem tersebut juga dilengkapi bak penampung berkapasitas 50 meter kubik. Bak ini menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung pengaturan dan distribusi air menuju lahan pertanian.
Ketersediaan sumber air alternatif diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap curah hujan. Dengan demikian, kegiatan budidaya tetap dapat berlangsung ketika terjadi periode kering.
Keandalan pasokan air juga berpotensi meningkatkan produktivitas lahan sekaligus membuka peluang bagi peningkatan produksi dan pendapatan petani.
Infrastruktur Air Menjangkau Wilayah Terpencil
Pembangunan JIAT di Kalobo tidak lepas dari tantangan geografis. Akses menuju Kampung Kalobo dari Kota Sorong harus ditempuh menggunakan speedboat dengan jarak sekitar 26,3 kilometer dan waktu perjalanan sekitar satu jam.
Kondisi geografis tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan infrastruktur dasar. Namun, keterbatasan akses tidak menghalangi upaya pemerintah menyediakan infrastruktur sumber daya air bagi masyarakat.
Kementerian PU terus mendorong pembangunan dan pengelolaan infrastruktur sumber daya air untuk memperkuat ketahanan air dan ketahanan pangan, terutama di tengah ancaman kekeringan dan perubahan kondisi iklim.
Pembangunan JIAT di Kalobo dan Waibu diharapkan tidak hanya memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian, tetapi juga menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat. (CHI)
Baca Juga : Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 Ditutup 9-11 September, Ini Jalur Alternatifnya












