JAKARTA, LINTAS – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyiapkan pengembangan kawasan Stasiun Bogor untuk mengantisipasi pertumbuhan pengguna KRL Jabodetabek. Pengembangan tidak hanya menyasar fasilitas di dalam stasiun, tetapi juga akses penumpang dan integrasi dengan berbagai moda transportasi.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pelayanan sekaligus membuat perjalanan penumpang KRL lebih mudah dan terintegrasi.
Menurut Anne, layanan Bogor Line saat ini memiliki frekuensi perjalanan mencapai 392 perjalanan per hari. Sementara itu, jumlah pengguna pada periode Januari hingga Agustus 2025 tercatat sekitar 105 juta pelanggan.
“Untuk Bogor Line, frekuensinya per hari sekarang 392 dengan total sebanyak 105 juta untuk Januari sampai Agustus 2025,” Anne, belum lama ini.
Baca Juga: Seluruh Peron Stasiun Bogor Kini Layani 12 KRL
Kapasitas Peron Stasiun Bogor Bertambah
Anne menjelaskan, KAI juga telah melakukan peningkatan kemampuan pelayanan di sejumlah peron Stasiun Bogor. Salah satunya adalah peron 6, 7, dan 8 yang sebelumnya belum dapat melayani rangkaian kereta dengan kapasitas 12 kereta. Setelah dilakukan pengembangan, seluruh peron tersebut kini sudah dapat melayani rangkaian KRL hingga 12 kereta.
“Peron 6, 7, 8 yang awalnya belum bisa melayani 12 kereta, saat ini semuanya sudah bisa melayani 12 kereta untuk yang Bogor,” kata Anne.
Peningkatan kapasitas peron menjadi salah satu langkah KAI dalam mengoptimalkan pelayanan di tengah tingginya mobilitas masyarakat yang menggunakan KRL dari dan menuju Bogor.
Stasiun Paledang Ikut Dikembangkan
Selain Stasiun Bogor, KAI juga menyiapkan pengembangan akses menuju Stasiun Bogor Paledang. Penataan akses tersebut diharapkan membuat mobilitas penumpang semakin mudah sekaligus membuka peluang peningkatan kapasitas angkutan pelanggan, khususnya pengguna transportasi kereta api di kawasan Bogor.
Pengembangan akses menjadi penting karena Stasiun Bogor dan Paledang berada di kawasan dengan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi. KAI melihat pertumbuhan kawasan Bogor terus memberikan potensi peningkatan jumlah pengguna transportasi publik.
KAI Siapkan Integrasi Bus dan Penataan Ojek
Pengembangan Stasiun Bogor nantinya tidak hanya berfokus pada bangunan dan fasilitas perkeretaapian. KAI juga menyiapkan penataan kawasan sekitar stasiun agar lebih terintegrasi dengan transportasi umum lainnya.
Sejumlah aspek yang akan menjadi perhatian antara lain integrasi dengan angkutan bus di Kota Bogor, penataan area ojek online maupun ojek konvensional, serta akses menuju jembatan penyeberangan orang (JPO).
Penataan tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi penumpukan kendaraan dan meningkatkan kenyamanan penumpang saat berpindah dari satu moda transportasi ke moda lainnya. Dengan konsep tersebut, Stasiun Bogor diarahkan tidak hanya menjadi tempat naik dan turun penumpang kereta, tetapi juga menjadi bagian dari sistem transportasi perkotaan yang lebih terintegrasi.
KAI dan Pemkot Bogor Siapkan Kerja Sama
Untuk mendukung penataan kawasan tersebut, KAI juga akan menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kota Bogor. Anne mengungkapkan, KAI dan Wali Kota Bogor dalam waktu dekat akan melakukan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) terkait kerja sama penataan kawasan Bogor.
Kerja sama ini diharapkan dapat menyatukan berbagai kepentingan dalam pengembangan kawasan stasiun, mulai dari akses transportasi, penataan kendaraan, hingga konektivitas antarmoda.
“Dalam waktu dekat KAI dan Wali Kota Bogor akan ada MoU untuk kerja sama di dalam penataan kawasan Bogor,” ujar Anne.
KAI menilai penataan tersebut perlu dilakukan seiring dengan perkembangan Kota Bogor dan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap transportasi publik.
“Kami melihat pertumbuhan Bogor ini juga sangat luar biasa,” kata Anne. (CHI)
Baca Juga: Sejumlah Bandara Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau Kembali Dibuka












