Surabaya: jangan sekadar memperpanjang Whoosh
Menurut saya, prospek kereta cepat menuju Surabaya tetap kuat dalam jangka panjang. Namun Indonesia sebaiknya tidak memandangnya hanya sebagai perpanjangan fisik Jakarta–Bandung.
Kita perlu kembali kepada perencanaan jaringan Jawa.
Koridor utama yang layak dikaji adalah poros utara Jawa, dimulai dari Bandara Soekarno-Hatta dan bergerak melalui kawasan metropolitan Jakarta, Karawang, Cirebon, Semarang hingga Surabaya. Whoosh kemudian dapat berfungsi sebagai cabang Bandung Raya yang terhubung menuju koridor utama melalui arah Tegalluar–Dawuan–Kertajati.
Mengapa konsep seperti ini penting?
Karena Surabaya bukan sekadar tujuan wisata atau tambahan stasiun. Ia adalah pusat ekonomi terbesar di Jawa Timur. Semarang merupakan pusat ekonomi Jawa Tengah, sementara koridor utara Jawa menampung konsentrasi penduduk, industri, logistik dan kegiatan perkotaan yang sangat besar.
Tetapi keputusan pembangunan harus dilakukan bertahap.
Rencana sampai Surabaya tidak berarti seluruh jalur harus dibangun sekarang.
Plan long, build in stages.
Pelajaran Whoosh untuk fase berikutnya
Restrukturisasi saat ini justru memberi Indonesia kesempatan memperbaiki model.
Purbaya mengatakan cicilan setelah restrukturisasi berkisar Rp1 triliun per tahun selama tenor yang dapat mencapai 80 tahun dan menilai beban tersebut dapat ditangani melalui institusi di bawah Kementerian Keuangan.
Secara ekonomi politik, ini berarti karakter Whoosh telah berubah. Proyek yang pada awalnya ditekankan sebagai kerja sama business-to-business antara konsorsium BUMN Indonesia dan China sekarang mempunyai lapisan risiko yang semakin dekat dengan negara.
Kita harus mengakuinya secara terbuka.
Namun pelajaran yang tepat bukan berarti Indonesia harus berhenti membangun kereta cepat. Pelajarannya adalah jangan mengulangi arsitektur pembiayaan fase pertama secara otomatis.
Untuk koridor berikutnya, negara dapat mengambil tanggung jawab pada risiko yang memang bersifat publik, seperti perlindungan koridor, pengadaan lahan dan integrasi tata ruang. Risiko konstruksi, operasi dan komersial harus dialokasikan kepada pihak yang paling mampu mengelolanya.
Utang valuta asing juga perlu dibatasi atau dilindungi dengan lebih baik ketika pendapatan operator terutama dalam rupiah.
Dan yang tidak kalah penting, proyek berikutnya harus terbuka bagi kompetisi internasional. Pengalaman kerja sama Indonesia-China dalam Whoosh menjadi modal pembelajaran, tetapi pengembangan Jawa berikutnya harus memungkinkan China, Jepang, Korea, Eropa maupun mitra lain bersaing secara transparan berdasarkan biaya sepanjang umur proyek, teknologi, pembiayaan, transfer pengetahuan dan nilai terbaik bagi Indonesia.












