Home Berita Tata Kelola Air Diperkuat Menuju Forum Air Dunia di Bali

Tata Kelola Air Diperkuat Menuju Forum Air Dunia di Bali

Share

Jakarta, Lintas – Indonesia terus memperkuat tata kelola air, seperti penyediaan bendungan, dalam upaya mitigasi dan menangani fenomena baru kondisi hidrologis. Momen Forum Air Dunia atau World Water Forum di Bali memperkuat kolaborasi global dalam menangani isu air.

Demikian disampaikan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dalam forum Webinar Narbo dengan tema “Peran Infrastruktur Sumber Daya Air untuk Mitigasi Bencana”, Rabu (1/3/2023).

“Bendungan (yang giat dibangun oleh Pemerintah Indonesia) memiliki peran penting dalam mengelola air guna mengantisipasi fenomena kekeringan akibat El Nino pada tahun ini. Kementerian PUPR terus memonitor ketersediaan air secara intensif serta memantau dan mengelola distribusi air,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga menerapkan pola operasi reservoir dengan memperhatikan pola tanam musiman sehingga akan cukup untuk mencapai musim tanam pertama.

Untuk mengantisipasi banjir, kata Basuki, Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian PUPR, melepaskan 205 reservoir pada awal tahun 2022. Sehingga, total kapasitas air naik menjadi 4,7 miliar meter kubik yang dilepaskan dari bendungan-bendungan yang ada. Strategi ini terbukti mampu memitigasi risiko banjir yang terjadi selama tahun 2022.

Kuatkan Kerja Sama

Dalam kesempatan itu, Basuki mengajak para anggota Network of Asia River Basin Organization (Narbo)/Organisasi Pengelola Daerah Aliran Sungai (DAS) se-Asia untuk menguatkan kerja sama bidang Sumber Daya Air (SDA), khususnya dalam menghadapi tantangan masalah air yang ditimbulkan oleh Fenomena La Nina dan mitigasi bencana kekeringan akibat El Nino.

Menurut Menteri Basuki, acara webinar yang digelar ini dapat menjadi kesempatan yang baik memperkuat hubungan dalam mengelola sumber daya air, meningkatkan profesionalisme, berbagi pengalaman, dan mengadopsi teknologi terbaik dalam tata kelola air. Menteri Basuki juga mengajak para anggota Narbo untuk hadir bersama 30.000 pemangku kepentingan di bidang air dari seluruh dunia untuk berbagi pengalaman dan inovasi dalam acara WWF ke-10 tahun 2024 di Bali.

Sebagai salah satu kementerian yang mendapatkan peran langsung dalam mengawal pertemuan terkait air terbesar di dunia tersebut, Kementerian PUPR mendorong 6 topik penting terkait tata kelola air yang akan dibahas dalam WWF ke-10. Pertama, air untuk manusia dan alam (relasi human and nature). Angka pertumbuhan dan perkembangan penduduk mengakibatkan perubahan alam dan kondisi lingkungan yang memengaruhi sumber daya air.

Kedua, ketahanan dan kesejahteraan air (water security and prosperity), yakni perubahan kuantitas dan kualitas air juga dapat memengaruhi ketahanan pangan dan energi, seperti ketersediaan air bersih dan sanitasi. Indonesia ingin mendorong negara-negara anggota untuk bersama-sama menjaga ketahanan air, ketahanan pangan hingga menjamin air bersih yang cukup serta menjaga sanitasi yang layak.

“Ketiga, pengurangan risiko bencana dan manajemen (disaster risk reduction and management). Tantangan global saat ini yang terkait dengan air dan berdampak secara langsung pada masyarakat adalah bencana alam, berupa banjir dan kekeringan,” kata Basuki.

Keempat, kerja sama dan hidro-diplomasi (cooperation and hydro diplomacy). Pada pembahasan hubungan internasional yang melibatkan air sebagai instrumen diplomasi ini terdapat beberapa topik diskusi, yakni dialog dan kerja sama lintas sektoral, kolaborasi yang adil dan inklusif berdasarkan konsensus.

Selanjutnya, kerja sama air yang inklusif lintas batas berdasarkan Hukum Air Internasional yang berlaku, komunikasi antarpemangku kepentingan, pemanfaatan air yang adil, wajar, dan tidak menyebabkan kerugian kepada salah satu pihak serta mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif, dan transparansi serta integritas.

Kelima, terkait pembiayaan yang inovatif dalam pengelolaan air (water and innovative finance). Saat ini masih terdapat berbagai kendala pada kapasitas pembiayaan fiskal dalam pasokan air.

“Mengendalikan potensi risiko bencana hidrometeorologi adalah tantangan bagi seluruh pemerintah, kita harus menemukan jalan keluar melalui inovasi pembiayaan,” kata Menteri Basuki.

Keenam berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (knowledge and technologies). Menteri Basuki mengatakan hanya melalui inovasi teknologi kita dapat meningkatkan sinergi antara air, energi dan ekosistem pangan.

“Sistem Smart Water perlu dibangun untuk menyeimbangkan secara akurat mengenai pemenuhan kebutuhan dan ketersediaan air,” kata Menteri Basuki. (*/HRZ)

Oleh:

Share