JAKARTA, LINTAS – Penurunan debit Sungai Mahakam akibat kemarau panjang mulai mengganggu transportasi air dan distribusi kebutuhan pokok menuju Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Kondisi muka air sungai yang terus menyusut membuat jalur transportasi air kini hanya dapat melayani hingga Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus memantau kondisi Sungai Mahakam untuk mengantisipasi dampak penurunan debit terhadap ketersediaan air baku maupun aktivitas masyarakat yang bergantung pada transportasi sungai.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, pemantauan dilakukan secara intensif oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Samarinda sebagai bagian dari upaya mitigasi menghadapi kondisi kemarau.
“Kami instruksikan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk terus memantau kondisi Sungai Mahakam. Hal ini sebagai langkah mitigasi dampak kemarau,” kata Dody dikutip Sabtu (5/9/2026).
Baca Juga: Karhutla Mengancam Transportasi, Kemenhub Siapkan Mitigasi di Semua Moda
Kondisi tersebut terjadi di tengah penurunan curah hujan yang cukup signifikan selama puncak musim kemarau pada Juli-Agustus 2026. Padahal, secara umum Kalimantan Timur memiliki curah hujan tahunan yang relatif tinggi, berkisar 3.600-3.700 milimeter.
Pada Juli 2026, curah hujan tercatat sekitar 289 milimeter. Angka tersebut kemudian turun tajam menjadi hanya sekitar 25 milimeter pada Agustus 2026.






Minimnya curah hujan turut menyebabkan debit Sungai Mahakam menurun, terutama di wilayah hulu. Di bagian hilir, debit sungai juga mengalami penurunan, tetapi kondisinya relatif lebih stabil.
Perbedaan kondisi antara wilayah hulu dan hilir tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain efek damping atau peredaman aliran, baseflow dari anak-anak Sungai Mahakam yang berasal dari sejumlah kabupaten lain, serta pengaruh pasang surut.
Transportasi Air Terbatas
Kepala BWS IV Samarinda Andri Rachmanto Wibowo mengatakan, penurunan muka air Sungai Mahakam berdampak langsung terhadap aktivitas transportasi air. Selama ini, sungai tersebut menjadi salah satu jalur penting untuk mobilitas masyarakat sekaligus pengangkutan bahan pangan dan bahan bakar minyak (BBM).
“Dengan kondisi muka air sungai saat ini, transportasi air hanya dapat melayani hingga Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat,” ujarnya.
Terbatasnya jalur pelayaran tersebut turut memengaruhi distribusi bahan pangan dan BBM menuju Kabupaten Mahakam Ulu. Saat ini, jalur darat menjadi akses utama yang dapat digunakan untuk mengangkut kebutuhan masyarakat ke wilayah tersebut.
Namun, distribusi melalui jalur darat membutuhkan waktu tempuh yang cukup panjang, yakni sekitar 2 x 24 jam. Kondisi ini berpotensi memengaruhi ketersediaan BBM sekaligus mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di tingkat masyarakat.
Pemantauan Debit Terus Dilakukan
Menghadapi kondisi tersebut, Kementerian PU melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air terus memantau perkembangan debit dan muka air Sungai Mahakam.
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi sungai sekaligus mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap ketersediaan air dan aktivitas masyarakat.
Kementerian PU juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk meminimalkan dampak penurunan muka air sungai, khususnya terhadap transportasi, distribusi kebutuhan pokok, dan pasokan BBM bagi masyarakat di wilayah yang aksesnya bergantung pada jalur Sungai Mahakam. (CHI)
Baca Juga: Jembatan Pulau Laut Kalsel Senilai Rp 5,25 Triliun Ditargetkan Rampung 2028












