Home Berita Jembatan Gantung Setrokalangan Dibangun di Perbatasan Kudus-Demak, Akses Warga Makin Aman

Jembatan Gantung Setrokalangan Dibangun di Perbatasan Kudus-Demak, Akses Warga Makin Aman

Share

JAKARTA, LINTAS — Warga Desa Setrokalangan, Kabupaten Kudus, dan Desa Kedungwaru, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, akan memiliki akses penyeberangan yang lebih aman melintasi Sungai Wulan. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membangun Jembatan Gantung Setrokalangan untuk menggantikan jembatan apung yang selama ini digunakan masyarakat.

Pembangunan jembatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyediakan akses transportasi yang lebih andal bagi masyarakat di kedua wilayah. Selama ini, warga mengandalkan jembatan apung dengan sistem tambatan perahu untuk menyeberangi Sungai Wulan.

Namun, akses tersebut memiliki keterbatasan, terutama ketika debit sungai meningkat atau terjadi banjir. Kondisi itu membuat aktivitas penyeberangan tidak dapat berjalan secara optimal dan berpotensi mengganggu mobilitas warga.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pembangunan jembatan gantung menjadi salah satu solusi untuk membuka akses masyarakat di daerah yang masih menghadapi keterbatasan konektivitas.

“Jembatan gantung memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Mobilitas menjadi lebih mudah, distribusi hasil pertanian lebih lancar, dan akses terhadap layanan publik semakin terbuka,” kata Dody dikutip Jumat (4/9/2026).

Baca Juga: Hashim Djojohadikusumo Temui Menteri PU, Bahas Infrastruktur dan Pengentasan Kemiskinan

Bentang 120 Meter di Atas Sungai Wulan

Jembatan Gantung Setrokalangan memiliki panjang keseluruhan sekitar 180 meter, dengan bentang efektif sekitar 120 meter dan lebar sekitar 2 meter.

Jembatan tersebut dirancang untuk pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Dengan fasilitas itu, masyarakat dari kedua desa dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa lagi sepenuhnya bergantung pada jembatan apung dan tambatan perahu.

Selain menjadi jalur penyeberangan, keberadaan jembatan juga diharapkan membantu aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk mobilitas hasil pertanian serta akses menuju fasilitas pelayanan publik.

Dari sisi teknis, pembangunan jembatan mempertimbangkan kondisi Sungai Wulan, termasuk perubahan muka air dan potensi sedimentasi.

Elevasi jembatan dirancang sekitar 3–4 meter dari muka air pada saat debit puncak. Perencanaan juga memperhitungkan potensi sedimentasi sekitar 10–20 sentimeter.

Pertimbangan tersebut menjadi bagian dari desain agar jembatan dapat beroperasi sesuai karakteristik lingkungan di lokasi sekaligus memberikan tingkat keamanan yang memadai bagi pengguna.

Gunakan Rangka Baja dan Abutmen Beton

Jembatan Gantung Setrokalangan menggunakan tipe rigid dengan material rangka baja dan abutmen beton. Kapasitas jembatan mengacu pada Surat Edaran (SE) Nomor 02/SE/M/2010 dan SE Direktur Jenderal Bina Marga Nomor 16/SE/Db/2021.

Berdasarkan ketentuan tersebut, jembatan memiliki kapasitas beban sebesar 5 kPa atau 0,5 ton per meter persegi secara bersamaan, dengan ketentuan beban tidak terkonsentrasi pada satu titik.

Pembangunan jembatan juga berjalan beriringan dengan pekerjaan normalisasi Sungai Wulan yang dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air.

Program normalisasi tersebut dibiayai melalui pinjaman Asian Development Bank (ADB) dan ditargetkan selesai pada akhir 2026.

Dengan hadirnya Jembatan Gantung Setrokalangan, masyarakat di perbatasan Kudus-Demak diharapkan memiliki pilihan akses penyeberangan yang lebih aman dan dapat digunakan secara lebih konsisten.

Keberadaan jembatan ini sekaligus membuka peluang mobilitas yang lebih lancar bagi warga kedua desa, terutama untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, serta akses terhadap layanan publik. (CHI)

Baca Juga: Kementerian PU Periksa Jembatan Gantung Pongpet Pangandaran yang Rooboh, Opsi Bangun Ulang Dibuka

Oleh:

Share