Home Berita KRL dan LRT Jadi Tulang Punggung Mobilitas Jabodetabek

KRL dan LRT Jadi Tulang Punggung Mobilitas Jabodetabek

Share

JAKARTA, LINTAS — PT Kereta Api Indonesia (Persero) melalui KAI Commuter dan LRT Jabodebek terus memperkuat layanan angkutan urban seiring meningkatnya kebutuhan perjalanan masyarakat di kawasan metropolitan.

Sepanjang Januari hingga November 2025, layanan KRL Jabodetabek, LRT Jabodebek, dan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta melayani ratusan juta perjalanan. Total pengguna KRL Jabodetabek tercatat mencapai 317,67 juta orang, disusul LRT Jabodebek sebanyak 26,11 juta pengguna, serta Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta yang melayani 2,12 juta pelanggan.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan penguatan mobilisasi urban dilakukan melalui peningkatan kinerja layanan, optimalisasi simpul transit, serta perluasan integrasi antarmoda agar perjalanan masyarakat semakin lancar dari titik awal hingga tujuan akhir.

“Mobilitas urban Jabodetabek terus meningkat. KAI Group memastikan layanan berbasis rel hadir sebagai pilihan harian yang andal, terintegrasi, dan mampu menjawab kebutuhan perjalanan jarak dekat maupun menengah,” ujar Anne dikuti Selasa (16/12/2025).

KRL Commuter Line Jabodetabek. | Dok. KAI
KRL Commuter Line Jabodetabek. | Dok. KAI

Lima Lintas Utama

Pada periode Januari–November 2025, Commuter Line Jabodetabek melayani 317.671.127 pengguna atau rata-rata 951.111 pengguna per hari. Pergerakan penumpang tersebut tersebar di lima lintas utama, yakni Bogor Line dengan 141.125.256 pengguna, Cikarang Line 78.049.475 pengguna, Rangkasbitung Line 70.496.181 pengguna, Tangerang Line 24.794.995 pengguna, serta Tanjung Priuk Line sebanyak 3.205.220 pengguna.

Aktivitas perjalanan terkonsentrasi di sejumlah stasiun utama. Stasiun Bogor mencatat 33.081.659 transaksi gate in–out, disusul Tanah Abang 29.768.022 transaksi, Sudirman 22.559.386 transaksi, Citayam 20.683.468 transaksi, serta Bekasi 20.176.011 transaksi.

Sebagai stasiun transit terbesar secara nasional, Stasiun Manggarai mencatat 52.409.989 transaksi transit hingga November 2025. Untuk layanan gate in–out, stasiun ini melayani 9.654.021 transaksi KRL dan 866.015 transaksi Commuter Line Bandara, dengan total mencapai 10.520.036 transaksi.

Pada moda pendukung, Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta melayani 2.120.170 pelanggan sepanjang Januari–November 2025. Angka tersebut tumbuh 24,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sementara itu, KA Lokal Area I Jakarta melayani 3.287.317 pelanggan atau meningkat 4 persen secara tahunan.

LRT Jabodebek

Di sisi lain, LRT Jabodebek mencatat 26.113.546 pengguna hingga November 2025. Rata-rata pengguna harian pada hari kerja mencapai 98.172 orang, sementara pada akhir pekan melayani sekitar 41.780 orang.

Stasiun Dukuh Atas menjadi stasiun tersibuk dengan 7.548.845 transaksi gate in–out, diikuti Harjamukti 6.041.570 transaksi, Kuningan 4.727.984 transaksi, serta Cikoko 4.190.204 transaksi.

Menurut Anne, integrasi antarmoda terus diperkuat melalui simpul strategis Dukuh Atas dan Cikoko–Cawang yang menghubungkan langsung layanan LRT Jabodebek dengan Commuter Line.

“Dukuh Atas berperan sebagai penghubung utama menuju Stasiun Sudirman, sedangkan koneksi Cikoko–Cawang mempercepat pergerakan penumpang dari wilayah timur menuju pusat aktivitas Jakarta,” ujarnya.

Konektivitas ini turut mendukung distribusi arus perjalanan di stasiun dengan volume tinggi seperti Sudirman, Tanah Abang, Cawang, dan Manggarai, sekaligus memperkuat peran transportasi publik sebagai fondasi mobilitas metropolitan.

Alokasi Anggaran

Sejalan dengan penguatan layanan tersebut, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam sambutannya pada peresmian di Stasiun Tanah Abang, 4 November 2025, menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam memperkuat transportasi publik perkotaan.

Pemerintah menyetujui alokasi anggaran hingga Rp5 triliun untuk pengadaan 30 rangkaian KRL baru di wilayah Jabodetabek guna meningkatkan kapasitas dan keandalan angkutan urban.

Sebagai bagian dari penguatan sarana, KAI melalui KAI Commuter juga telah mengoperasikan 11 rangkaian KRL baru secara bertahap sejak Juni 2025. Setiap rangkaian terdiri dari 12 kereta, sehingga total terdapat 132 unit kereta yang digunakan sebagai pengganti sarana KRL yang telah memasuki masa habis pakai sekaligus menjaga keandalan operasional layanan harian.

Baca Juga: Antisipasi Nataru 2025/2026, Menhub dan Dirut KAI Tinjau Jalur Kereta Api Rawan Banjir

Anne menambahkan, KAI Group secara bertahap terus memperkuat sarana eksisting sekaligus menyiapkan langkah lanjutan melalui penambahan rangkaian baru dan program penggantian sarana berusia lanjut. Proses tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan PT INKA (Persero) yang saat ini telah memasuki tahap finalisasi.

“Dalam jangka pendek, penguatan sarana diperlukan untuk menjaga keandalan layanan. Sementara dalam jangka panjang, penambahan kapasitas dan replacement sarana menjadi kebutuhan strategis agar transportasi publik tetap mampu mengikuti pertumbuhan mobilitas Jabodetabek,” tutur Anne. (CHI)

Oleh:

Share