JAKARTA, LINTAS – PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan terus memperkuat kapasitas layanan transportasi berbasis rel di wilayah Bogor.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pengembangan peron jalur 6, 7, dan 8 di Stasiun Bogor guna mendukung operasional rangkaian Commuter Line 12 kereta (SF12).
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan progres pekerjaan yang dimulai sejak 15 April 2026 tersebut berjalan lebih cepat dari target dan diharapkan selesai pada Juli 2026.
“Alhamdulillah, pekerjaan pengembangan peron jalur 6, 7, dan 8 di Stasiun Bogor berjalan lebih cepat dari target yang telah ditetapkan. Percepatan ini menjadi kabar baik karena kapasitas layanan dapat segera ditingkatkan untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus tumbuh di Bogor Line,” kata Bobby saat meninjau langsung lokasi proyek, Senin (1/6/2026).
Pengembangan ini dilakukan seiring pertumbuhan jumlah pengguna Bogor Line yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data KAI menunjukkan volume pelanggan Bogor Line mencapai 102,05 juta pelanggan pada 2022, meningkat menjadi 133,04 juta pelanggan pada 2023, kemudian naik lagi menjadi 145,92 juta pelanggan pada 2024, dan menembus 155 juta pelanggan pada 2025.

Pelanggan Meningkat
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menjelaskan bahwa hingga April 2026 jumlah pelanggan Bogor Line telah mencapai 51,86 juta orang. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah pelanggan bertambah sekitar 52,9 juta atau tumbuh 51,9 persen.
Menurut Anne, pertumbuhan tersebut menegaskan posisi Bogor Line sebagai salah satu tulang punggung mobilitas masyarakat Jabodetabek. Sebagian besar pengguna merupakan kelompok usia produktif, dengan 52 persen perjalanan dilakukan untuk bekerja maupun bersekolah. Selain itu, 42 persen pelanggan berprofesi sebagai pegawai swasta dan 55 persen memiliki tingkat penghasilan hingga Rp5 juta per bulan.
Tingginya mobilitas tersebut tercermin dari aktivitas di Stasiun Bogor sebagai salah satu stasiun tersibuk dalam jaringan Commuter Line Jabodetabek. Sepanjang 2025, jumlah pelanggan yang melakukan gate in mencapai 18,19 juta orang, sementara gate out mencapai 18,17 juta orang. Angka ini meningkat dibandingkan 2024 yang mencatat 17,12 juta pelanggan gate in dan 17,27 juta pelanggan gate out.
Sementara itu, pada periode Januari hingga April 2026, volume pelanggan yang masuk melalui gate in telah mencapai 6,14 juta orang dan gate out sebanyak 5,95 juta orang.
Anne menjelaskan, tingginya aktivitas pelanggan juga sejalan dengan intensitas perjalanan kereta yang dilayani di Stasiun Bogor. Saat ini terdapat 392 perjalanan Commuter Line setiap hari kerja dan 373 perjalanan pada akhir pekan, menjadikan stasiun tersebut sebagai salah satu pusat operasional tersibuk di kawasan Jabodetabek.
Selain meningkatkan kapasitas layanan KRL, KAI juga terus memperkuat konektivitas antarmoda melalui integrasi Stasiun Bogor dengan Stasiun Bogor Paledang. Kedua stasiun kini terhubung melalui skybridge yang memudahkan pelanggan berpindah dari layanan Commuter Line menuju KA Pangrango tujuan Sukabumi.
Pengembangan Peron
Konektivitas yang semakin baik tersebut turut mendorong pertumbuhan pelanggan KA Pangrango. Jumlah pengguna meningkat dari 786.001 pelanggan pada 2023 menjadi 874.789 pelanggan pada 2024, lalu melonjak menjadi 1.109.398 pelanggan pada 2025. Pada triwulan pertama 2026, layanan ini telah melayani 281.659 pelanggan.
Melalui pengembangan peron jalur 6, 7, dan 8, Stasiun Bogor dipersiapkan untuk mendukung operasional rangkaian SF12 yang memiliki kapasitas angkut lebih besar dalam satu perjalanan. Langkah ini diharapkan mampu mengoptimalkan distribusi pelanggan, terutama pada jam-jam sibuk, sekaligus meningkatkan kenyamanan dan efisiensi layanan.
Menurut Anne, pengembangan tidak hanya mencakup perpanjangan peron, tetapi juga pembangunan kanopi baru yang terhubung dengan area selasar stasiun. Saat ini pekerjaan telah memasuki tahap pemasangan ulang tiang Listrik Aliran Atas (LAA) serta pembangunan konstruksi calon peron baru.
Selama proses pembangunan berlangsung, KAI bersama KAI Commuter tetap menjaga kelancaran operasional melalui pengaturan arus pelanggan, optimalisasi pelayanan petugas, serta penyampaian informasi perjalanan secara intensif. Rekayasa arus penumpang juga diterapkan pada periode sibuk, termasuk pemanfaatan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Paledang untuk mengurangi kepadatan di area stasiun.
“Bogor Line merupakan koridor dengan volume pelanggan terbesar di jaringan Commuter Line Jabodetabek. Karena itu, peningkatan kapasitas dan kualitas layanan akan terus kami lakukan secara bertahap. Pengembangan Stasiun Bogor, penguatan konektivitas melalui Bogor Paledang, serta integrasi antarmoda menjadi bagian dari upaya KAI menghadirkan perjalanan yang semakin mudah, nyaman, dan terhubung bagi masyarakat,” pungkas Anne. (CHI)
Baca Juga:

























