JAKARTA, LINTAS – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino 2026 di Provinsi Jawa Barat.
Upaya antisipasi dilakukan sejak dini melalui penguatan pengelolaan sumber daya air, optimalisasi bendungan dan jaringan irigasi, serta penyiagaan personel dan peralatan guna menjaga pasokan air bagi sektor pertanian maupun kebutuhan masyarakat.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan pemerintah telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Antisipasi El Nino untuk memperkuat koordinasi lintas unit organisasi di lingkungan Kementerian PU.
Menurutnya, dampak El Nino tidak hanya mengancam sektor pertanian, tetapi juga berpotensi memengaruhi layanan penyediaan air minum dan operasional infrastruktur sumber daya air.
“Untuk mengantisipasi El Nino, kami membentuk Satgas. Karena yang terdampak tidak hanya irigasi dan sawah yang kekeringan, tetapi mungkin di beberapa titik SPAM dan bendungan juga akan mengalami kekeringan,” kata Dody dari keterangan tertulis yang dikutip Selasa (7/7/2026).




Di tingkat pelaksana, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung mengoptimalkan sistem mitigasi melalui Unit Pengelola Prasarana Pengendali Banjir dan Kekeringan (UP3BK).
Sistem ini mengintegrasikan pemantauan kondisi bendungan, bendung, daerah rawan kekeringan, pengaturan operasi air, layanan call center, Tim Reaksi Cepat (TRC), hingga koordinasi dengan berbagai instansi agar potensi gangguan terhadap layanan air dapat ditangani secara cepat.
Sebanyak 290 personel disiagakan selama musim kemarau untuk memastikan seluruh prasarana sumber daya air tetap berfungsi optimal. Pemantauan dilakukan setiap hari terhadap sembilan bendungan, 33 embung, 23 situ, 25 bendung, serta jaringan irigasi di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung.
Hingga 30 Juni 2026, sembilan bendungan yang dipantau meliputi Bendungan Jatigede, Cipanas, Darma, Kuningan, Malahayu, Setupatok, Sedong, Bolang, dan Rancabeureum dengan total volume tampungan air mencapai sekitar 1,10 miliar meter kubik.
Kapasitas tersebut dinilai masih mampu mendukung kebutuhan air irigasi bagi lahan pertanian seluas sekitar 136.254 hektar selama musim kemarau. Dalam pengoperasiannya, pelepasan air dari bendungan dilakukan secara terukur berdasarkan kondisi tampungan dan kebutuhan di lapangan.
Pengaturan ini bertujuan menjaga pasokan air untuk irigasi, penyediaan air baku, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sekaligus mempertahankan cadangan air selama musim kemarau. Seluruh data elevasi, volume tampungan, dan debit pengeluaran air dipantau setiap hari sebagai dasar pengambilan keputusan operasi bendungan.
Perkuat Keandalan Jaringan Irigasi
Selain mengoptimalkan pengelolaan bendungan, Kementerian PU juga terus memperkuat jaringan irigasi guna menjaga produktivitas pertanian.
Pada Tahun Anggaran 2025, penguatan tersebut dilakukan melalui rehabilitasi jaringan irigasi utama di 69 lokasi, peningkatan jaringan irigasi tersier melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) di 441 lokasi, pelaksanaan Instruksi Presiden Percepatan Pembangunan Irigasi di 69 lokasi, serta pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di 45 lokasi.
“Berbagai program tersebut diharapkan mampu meningkatkan keandalan layanan irigasi sehingga pasokan air untuk lahan pertanian tetap terjaga meski menghadapi musim kemarau,” tutur Dody.
Sementara itu, sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim, BBWS Cimanuk Cisanggarung juga mendorong penerapan teknologi Irigasi Padi Hemat Air (IPHA). Sistem ini menggunakan metode pengairan berselang (intermittent) sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien tanpa mengurangi produktivitas tanaman.
Melalui penerapan IPHA, pemerintah menargetkan efisiensi penggunaan air meningkat, indeks pertanaman bertambah, serta hasil produksi dan pendapatan petani dapat terus meningkat.


Siapkan Puluhan Peralatan Antisipasi Kekeringan
Dody menambahkan, Kementerian PU juga telah menyiapkan berbagai skenario penanganan apabila kekeringan terjadi di sejumlah wilayah. Sebanyak 58 unit peralatan disiagakan, terdiri atas 16 unit excavator, dump truck, trailer, mobil pompa, mobil tangki air, pompa air, pompa tenaga surya, mesin bor, hingga peralatan geolistrik.
Peralatan tersebut akan digunakan untuk mendukung berbagai langkah penanganan, seperti distribusi air bersih menggunakan mobil tangki, penyiraman lahan dengan sprinkler, pemanfaatan pompa air dan flood pump, survei geolistrik untuk mencari sumber air bawah tanah, hingga pembangunan sumur bor di daerah yang mengalami kesulitan air.
Baca Juga: Ditjen Cipta Karya Ajukan Tambahan Anggaran Rp 19,35 Triliun untuk Air Minum dan Sanitasi















