Home Berita Lahan Belum Tuntas, Proyek Akses Tol Patimban Paket 1 Diperkirakan Mundur hingga 2027

Lahan Belum Tuntas, Proyek Akses Tol Patimban Paket 1 Diperkirakan Mundur hingga 2027

Share

SUBANG, LINTAS – Proyek pembangunan Jalan Tol Akses Patimban Paket 1 masih menghadapi tantangan besar akibat belum tuntasnya pembebasan lahan. Meski progres fisik terus berjalan, sejumlah titik krusial belum dapat dikerjakan sehingga penyelesaian proyek diperkirakan bergeser dari target kontrak.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) JBH 2 Provinsi Jawa Barat Jalan Tol Akses Patimban Paket 1, Erwin Herlambang Kuncoro Putra, mengatakan hingga akhir Juni 2026 pembebasan lahan telah mencapai 96,85 persen. Namun, lahan yang benar-benar dapat dimanfaatkan untuk pekerjaan konstruksi baru sekitar 88,04 persen.

“Dari lahan yang sudah dibebaskan, belum semuanya bisa kami kerjakan. Masih ada sekitar 8,81 persen yang belum dapat diakses,” ujar Erwin saat ditemui Lintas di Subang, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, kendala tersebut terjadi karena masih terdapat bidang tanah yang belum dibebaskan. Selain itu, ada pula lahan yang secara administrasi sudah dibebaskan, tetapi bangunan maupun tanaman di atasnya belum selesai proses pembebasannya.

“Tanahnya sudah dibayar, tetapi objek di atasnya seperti rumah atau tanaman belum seluruhnya dibebaskan. Jadi prosesnya memang bertahap dan kondisinya cukup unik,” jelasnya.

Erwin menambahkan, bidang-bidang yang masih bermasalah kini telah masuk kategori super prioritas agar penyelesaiannya dapat dipercepat.

Interchange Purwadadi

Pada Paket 1 sepanjang 7,69 kilometer, salah satu titik penting adalah konektivitas menuju Interchange Purwadadi yang dikerjakan oleh BUJT, yaitu PT Jasamarga Akses Patimban (JAP). Interchange tersebut berada di sekitar STA. 14+110 dan akan menjadi akses utama menuju Pelabuhan Patimban.

“Kalau Interchange Purwadadi sudah selesai, maka jalur menuju pelabuhan sudah bisa difungsikan. Saat ini kami masih menunggu penyelesaiannya,” katanya.

Sepanjang ruas Paket 1 juga dibangun empat jalan lintas atas (overpass) dan 10 jembatan jalan utama untuk menjaga konektivitas wilayah di sekitar jalan tol.

Erwin mengungkapkan, kawasan permukiman menjadi salah satu hambatan paling berat dalam proses pembebasan lahan. Akibatnya, pembangunan salah satu abutment pada Jembatan Jalan Utama No. 5 hingga kini belum dapat dilaksanakan.

“Masih banyak rumah yang belum berhasil dibebaskan sehingga pekerjaan jembatan belum bisa dilanjutkan,” ujarnya.

Tak hanya itu, pekerjaan timbunan tanah juga ikut terdampak karena masih terdapat bidang yang belum dapat digunakan. Padahal, pekerjaan timbunan merupakan salah satu item pekerjaan paling kritis mengingat membutuhkan proses preloading selama sekitar delapan bulan sebelum pekerjaan konstruksi berikutnya dapat dilaksanakan.

“Dampaknya satu jembatan belum bisa dikerjakan. Sementara pekerjaan timbunan adalah major item sehingga seluruh jadwal ikut bergeser,” kata Erwin.

Tantangan Konstruksi

Selain persoalan lahan, kondisi geologi di lokasi proyek juga menjadi tantangan tersendiri. Mayoritas trase Jalan Tol Akses Patimban Paket 1 berada di atas tanah lunak sehingga membutuhkan perlakuan khusus agar konstruksi tetap stabil dalam jangka panjang.

Erwin menjelaskan, metode yang digunakan adalah preloading, yakni pemberian beban timbunan terlebih dahulu hingga penurunan tanah mencapai tingkat konsolidasi sekitar U90.

“Kami memastikan dulu tanahnya stabil sebelum pekerjaan jembatan diselesaikan. Setelah settlement mencukupi, baru dipasang plat injak sehingga risiko penurunan setelah jalan dioperasikan dapat diminimalkan,” jelasnya.

Ia menegaskan, metode tersebut dipilih bukan semata-mata untuk mengejar waktu, tetapi untuk menjamin kualitas konstruksi dalam jangka panjang.

Menurutnya, penggunaan timbunan ringan sebenarnya dapat mempercepat pekerjaan. Namun, dari sisi efisiensi biaya dan kondisi lapangan, metode preloading dinilai lebih sesuai.

“Kami berupaya memenuhi seluruh persyaratan teknis sekaligus melakukan efisiensi karena nilai kontrak sudah dikunci,” ujarnya.

Penurunan Tanah

Erwin mengakui penurunan tanah setelah proyek beroperasi tetap berpotensi terjadi, terutama pada pertemuan antara badan jalan dan jembatan. Meski demikian, seluruh metode konstruksi telah dirancang untuk meminimalkan dampak tersebut.

“Kalau struktur jembatan penurunannya sangat kecil, tetapi pada timbunan masih mungkin terjadi sekitar satu sentimeter per tahun karena adanya secondary settlement. Yang kami lakukan adalah meminimalkan penurunan itu,” katanya.

Menurutnya, kualitas konstruksi nantinya akan terlihat setelah proyek memasuki masa Provisional Hand Over (PHO) maupun ketika mulai dilalui kendaraan dalam beberapa tahun pertama.

Target IRI 2 Tetap Dikejar

Di sisi kualitas perkerasan jalan, Erwin mengatakan proyek masih mengacu pada Spesifikasi Umum untuk Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Tol Tahun 2020 yang memperbolehkan nilai International Roughness Index (IRI) hingga 4. Namun demikian, tim pelaksana tetap menargetkan kualitas perkerasan yang lebih baik.

“Target kami tetap IRI 2. Sejak dulu saya memang mengusulkan agar spesifikasi kembali ke angka dua karena hasil jalannya akan lebih nyaman,” ujarnya.

Ia optimistis target tersebut dapat dicapai karena ruas ini menggunakan perkerasan aspal. Menurut Erwin, sejumlah proyek lain juga berhasil mencapai nilai IRI 2 dengan penerapan metode konstruksi yang tepat.

Progres Mendekati Target

Secara keseluruhan, progres pembangunan Jalan Tol Akses Patimban Paket 1 per tanggal 28 Juni 2026 mencapai sekitar 59,04 persen, sementara progres rencana berada di kisaran 61,01 persen sehingga terdapat deviasi sekitar minus 1,97 persen.

Erwin menjelaskan deviasi tersebut dipengaruhi dominasi pekerjaan timbunan yang mencapai sekitar 68,43 persen dari keseluruhan paket pekerjaan.

“Karena sebagian besar pekerjaan berupa pekerjaan timbunan yang membutuhkan proses preloading cukup lama, maka progres secara persentase memang terlihat lebih lambat,” jelasnya.

Berdasarkan amendemen kontrak terakhir, pekerjaan Jalan Tol Akses Patimban Paket 1 ditargetkan selesai pada Desember 2026. Namun menurutnya target tersebut sepenuhnya bergantung pada penyelesaian pembebasan lahan.

Melihat kondisi di lapangan saat ini, Erwin menilai penyelesaian proyek secara realistis berpotensi bergeser hingga Kuartal III 2027 atau sekitar September 2027.

“Kalau melihat perkembangan pembebasan lahan sekarang, perkiraan kami penyelesaiannya menjadi sekitar Kuartal III Tahun 2027. Itu lebih realistis dengan kondisi yang ada saat ini,” pungkasnya. (PAH/CHI)

Baca Juga: Progres Tol Akses Patimban Paket 4 Capai 74,5 Persen, Dua Kendala Ini Dikebut

Oleh:

Share