JAKARTA, LINTAS – Meningkatnya mobilitas masyarakat menggunakan kereta api mendorong PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI untuk meningkatkan pengelolaan keselamatan di seluruh jaringan, termasuk pada titik perlintasan sebidang yang menjadi ruang interaksi langsung antara perjalanan kereta dan pengguna jalan.
Sepanjang Januari–Juli 2026, KAI Group mencatat 307,86 juta pelanggan, tumbuh 8,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, KAI Commuter melayani 242,93 juta pelanggan, sedangkan kereta api jarak jauh dan lokal yang dikelola KAI mencapai 35,26 juta pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan pertumbuhan jumlah perjalanan harus berjalan seiring dengan peningkatan standar keselamatan. Pendekatan tersebut diterapkan melalui konsep safety at scale, yakni pengelolaan keselamatan yang mampu mengikuti peningkatan skala dan intensitas operasional.
“Semakin tinggi intensitas perjalanan, semakin besar kebutuhan terhadap disiplin operasi, pengelolaan risiko, kesiapan SDM, teknologi, infrastruktur, dan kolaborasi di sepanjang jaringan,” kata Anne dikutip Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Menyusuri Malam dengan Kereta Cepat Whoosh, Sawah Berganti Gemerlap Lampu
190 Perlintasan Jadi Prioritas
Perlintasan sebidang menjadi salah satu perhatian utama karena melibatkan aktivitas perjalanan kereta api dengan lalu lintas kendaraan dan masyarakat di jalan raya.
Pada 2026, KAI menetapkan 190 titik prioritas peningkatan keselamatan perlintasan sebidang yang tersebar di sembilan Daerah Operasi (Daop) dan empat Divisi Regional (Divre).
Program penanganan mencakup pembangunan atau penyediaan gardu, pemasangan rambu, alat keselamatan dan komunikasi, penyediaan sumber daya manusia penjaga perlintasan yang tersertifikasi, hingga pemasangan pintu perlintasan secara bertahap.
Langkah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan karakteristik masing-masing lokasi sehingga penanganan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas, tetapi juga pada tingkat risiko.
1.214 Titik Dipetakan Berdasarkan Risiko
KAI juga menggunakan pendekatan berbasis data dalam menentukan prioritas keselamatan. Dari 1.214 titik perlintasan sebidang yang dipetakan, sebanyak 43 lokasi masuk kategori risiko tinggi, 630 lokasi risiko sedang, 538 lokasi risiko rendah, dan tiga lokasi masuk kategori sangat rendah.
Menurut Anne, pemetaan tersebut menjadi dasar dalam menentukan bentuk penanganan yang sesuai dengan kondisi setiap perlintasan.
“Pemetaan risiko membuat penanganan dapat disusun berdasarkan kondisi lapangan. Karakter lalu lintas jalan, status perlintasan, lingkungan, dan intensitas perjalanan kereta berbeda pada setiap lokasi,” katanya.
Selain peningkatan fasilitas keselamatan, KAI bersama para pemangku kepentingan juga telah merealisasikan penutupan 172 lokasi perlintasan sebidang yang masuk dalam target program.
Penutupan perlintasan menjadi salah satu upaya untuk mengurangi titik konflik antara perjalanan kereta api dengan lalu lintas jalan, terutama pada lokasi yang memiliki tingkat risiko tertentu dan memungkinkan dilakukan pengalihan akses.
Keselamatan Masuk Agenda Transformasi KAI
Pengelolaan keselamatan juga menjadi bagian dari agenda korporasi KAI. Dalam RJPP 2026, perusahaan menempatkan sejumlah program terkait keselamatan dan operasional melalui tema Strengthening Operational and Organizational Foundations.
Program tersebut mencakup pengembangan Train Safety & Security System, intelligent rail service and inspection, digitalisasi sistem pengelolaan infrastruktur, serta modernisasi sarana perkeretaapian.
Transformasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam memantau kondisi operasional, mengidentifikasi potensi risiko, serta mengambil langkah penanganan secara lebih cepat dan terukur.
Anne menilai aspek keselamatan tidak dapat hanya mengandalkan teknologi maupun fasilitas. Partisipasi masyarakat menjadi bagian penting karena aktivitas pengguna jalan bersinggungan langsung dengan perjalanan kereta api, khususnya di perlintasan sebidang.
“Teknologi dan fasilitas memberikan lapisan perlindungan. Disiplin pengguna jalan, kepatuhan terhadap rambu dan koordinasi antarinstansi melengkapi lapisan tersebut,” ujarnya.
Dengan jumlah perjalanan dan pelanggan yang terus bertambah, KAI menilai pengelolaan risiko harus berkembang mengikuti skala operasional. Keselamatan bukan hanya menjadi bagian dari pelayanan, tetapi juga menjadi fondasi agar pertumbuhan transportasi berbasis rel dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“World-class railway dimulai dari kemampuan tumbuh dengan aman. Ketika jumlah perjalanan meningkat, standar pengelolaan risiko juga harus semakin matang,” pungkas Anne. (CHI)
Baca Juga: Menguji Standar Keselamatan Jalan Tol: Evaluasi Regulasi dan Catatan Kritis KNKT












