Usai menghadiri sebuah acara di Kota Bandung, saya memilih cara berbeda untuk kembali ke Jakarta. Bukan menggunakan kendaraan umum yang biasanya membutuhkan waktu sekitar 2–3 jam, melainkan mencoba menikmati perjalanan dengan Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.
Pilihan ini terasa menarik, terutama karena perjalanan malam itu hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari Padalarang menuju Stasiun Halim. Waktu tempuh yang terasa singkat untuk perjalanan yang jika ditempuh menggunakan kendaraan biasa bisa memakan waktu berjam-jam.
Perjalanan saya diawali dari Stasiun Bandung, ada waktu sekitar dua jam yang saya habiskan di stasiun Bandung untuk menunggu kereta feeder. Karena memang saya memilih perjalanan malam hari. Saya menggunakan kereta feeder pada pukul 19.15 WIB menuju Stasiun Padalarang. Tepat pukul 19.15 saya menuju kereta Feeder yang akan menuju stasiun Padalarang. Perjalanan ini menempuh waktu 19 menit dan berhenti di Stasiun Cimahi.
Premium Economy dengan Jendela Besar
Untuk perjalanan kali ini, saya memilih kelas Premium Economy dengan harga tiket Rp 350.000. Pilihan lainnya adalah Business Class Rp 450.000 dan First Class Rp 600.000. Di kelas Premium Economy, susunan kursinya terdiri dari dua dan tiga kursi dalam satu baris. Saya cukup beruntung mendapatkan kursi dengan jendela berukuran besar.
Jendela besar seperti ini sebenarnya menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Penumpang bisa lebih leluasa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Sayangnya, perjalanan saya berlangsung malam hari.




Jadi, jangan berharap bisa melihat hamparan sawah, perbukitan, atau lanskap Jawa Barat seperti ketika naik Whoosh pada siang hari. Pemandangan yang terlihat dari balik jendela lebih banyak berupa cahaya lampu rumah dan kendaraan yang melintas.
Ketika memasuki kawasan Cikampek, kerlap-kerlip lampu kendaraan di jalan raya justru menjadi pemandangan tersendiri. Dari dalam kereta, lampu-lampu itu terlihat bergerak cepat seiring Whoosh melaju.
Dari 2–3 Jam Jadi Sekitar 30 Menit
Inilah bagian yang paling terasa dari perjalanan menggunakan kereta cepat. Jika menggunakan kendaraan biasa, perjalanan Bandung menuju Jakarta dapat menghabiskan waktu sekitar 2–3 jam, bahkan bisa lebih lama tergantung kondisi lalu lintas. Dengan Whoosh, waktu perjalanan terasa sangat singkat.
Kereta yang dijadwalkan berangkat pukul 19.53 WIB baru bergerak sekitar pukul 20.00 WIB. Setelah meninggalkan Padalarang, Whoosh melaju dengan kecepatan tinggi. Dalam perjalanan, kecepatan kereta mencapai sekitar 379 km per jam.


Namun yang menarik, meski melaju sangat cepat, perjalanan di dalam kereta tetap terasa tenang.
Tidak ada guncangan berlebihan yang mengganggu. Saya masih bisa duduk santai, menikmati perjalanan, bahkan sesekali melihat keluar jendela tanpa merasa sedang berada di dalam kereta yang melaju ratusan kilometer per jam.
Kecepatan tinggi justru terasa begitu halus.
Seperti yang sering disampaikan dalam berbagai pengujian dan pengalaman perjalanan Whoosh, salah satu keunggulan kereta cepat ini adalah perjalanan yang relatif nyaman dan minim guncangan, meski kereta melaju dalam kecepatan tinggi.
Berhenti Tiga Menit di Karawang
Dalam perjalanan menuju Halim, Whoosh berhenti sejenak di Stasiun Karawang. Pemberhentian berlangsung sekitar tiga menit untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Setelah itu, kereta kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Waktu tiga menit terasa begitu cepat. Tidak lama kemudian, perjalanan kembali dilanjutkan. Malam semakin gelap. Dari jendela, pemandangan berubah menjadi kombinasi lampu kendaraan, rumah-rumah, dan cahaya kota yang sesekali terlihat dari kejauhan.
Sekitar pukul 20.35 WIB, Whoosh tiba di Stasiun Halim.
Perjalanan Belum Selesai
Turun dari Whoosh di Stasiun Halim bukan berarti perjalanan saya selesai. Dari stasiun kereta cepat tersebut, saya melanjutkan perjalanan menggunakan LRT yang sudah terintegrasi.
Perpindahan moda ini menjadi pengalaman tersendiri. Dari Stasiun Bandung, saya naik feeder menuju Padalarang, kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan Whoosh hingga Halim, dan setelah itu berpindah ke LRT.
Semuanya tersambung dalam satu perjalanan.
Bagi saya, pengalaman malam itu menunjukkan bahwa perjalanan Bandung–Jakarta kini bukan lagi soal berapa lama harus duduk di dalam kendaraan, tetapi bagaimana perjalanan tersebut bisa dibuat lebih cepat, nyaman, dan terintegrasi.
Memang, naik Whoosh pada malam hari membuat saya kehilangan kesempatan menikmati hamparan sawah dan lanskap Jawa Barat dari balik jendela.
Tetapi sebagai gantinya, saya mendapatkan pengalaman berbeda: melihat kerlap-kerlip lampu kendaraan dari ketinggian, merasakan kereta melaju hingga sekitar 350 km per jam, tetapi tetap bisa duduk nyaman tanpa guncangan berarti.
Dan yang paling penting, perjalanan yang biasanya membutuhkan waktu sekitar 2–3 jam dengan kendaraan biasa bisa dipangkas menjadi sekitar 30 menit dengan kereta cepat. Cepat, tenang, dan tanpa terasa perjalanan sudah sampai Jakarta. (CHI)
Baca Juga: Travoy Jasa Marga Hadir di Danantara Housing Expo 2026, Apa Saja Fiturnya?












