JAKARTA, LINTAS — Jumlah pengguna Commuter Line yang mencapai 242,93 juta perjalanan hingga Juli 2026 mendorong KAI Commuter mengembangkan fungsi stasiun sebagai bagian dari ekosistem mobilitas perkotaan.
VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda mengatakan, tingginya mobilitas masyarakat menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan stasiun dan integrasi antarmoda.
“Sepanjang 2026, per Juli lalu Commuter Line berhasil melayani 242.932.764 orang di seluruh wilayah operasinya,” kata Karina, Senin (31/8/2026).
Dari jumlah tersebut, wilayah Jabodetabek mencatat kontribusi terbesar dengan sekitar 210,46 juta perjalanan atau 86,6 persen dari total pengguna.
Menurut Karina, angka tersebut menunjukkan besarnya peran Commuter Line Jabodetabek dalam menunjang mobilitas masyarakat di kawasan aglomerasi Jakarta, khususnya perjalanan menuju pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan layanan publik.
Baca Juga: Mulai 1 September 2026, Naik-Turun KRL di Stasiun Karet Dialihkan ke BNI City
Pengguna Commuter Line Tersebar di Sejumlah Wilayah
Selain Jabodetabek, layanan KAI Commuter di berbagai daerah juga mencatat jumlah pengguna yang cukup signifikan sepanjang 2026.
Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta melayani sekitar 1,39 juta pengguna, Commuter Line Merak sebanyak 2,83 juta pengguna, Commuter Line di wilayah Bandung 11,87 juta pengguna, wilayah Yogyakarta 6,32 juta pengguna, serta layanan Commuter Line di wilayah Surabaya sekitar 10 juta pengguna.

Sementara itu, layanan Kereta Petani dan Pedagang lintas Rangkasbitung–Merak mencatat 31.884 pengguna. Layanan tersebut menghubungkan kawasan permukiman dengan sentra produksi, pasar tradisional, hingga pusat kegiatan ekonomi di wilayah Banten.
Karina mengatakan, keberadaan transportasi dengan tarif terjangkau juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Pengeluaran dapat ditekan dari sisi transportasi, dan itu bisa dialihkan untuk membeli bahan baku, menambah modal, menjaga kualitas produk, atau memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.
Tingginya aktivitas perjalanan masyarakat juga berkaitan dengan karakter kawasan metropolitan yang memiliki konsentrasi penduduk usia produktif dan aktivitas ekonomi yang tinggi. Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap transportasi publik berkapasitas besar, terjadwal, dan saling terhubung semakin penting.
Stasiun Dikembangkan sebagai Simpul Antarmoda
Sejalan dengan peningkatan jumlah pengguna, KAI Group bersama KAI Commuter mengembangkan konsep integrasi transportasi dan penataan kawasan stasiun strategis melalui pendekatan Transit-Oriented Development (TOD).
Salah satu proyek terbaru adalah integrasi Stasiun Karet dengan Stasiun Sudirman Baru/BNI City yang mulai dikerjakan pada 1 September 2026.
Kawasan tersebut memiliki posisi strategis karena terhubung dengan sejumlah moda transportasi, antara lain Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta (Basoetta), MRT Jakarta, LRT Jabodebek, dan TransJakarta.
Integrasi kawasan diharapkan memudahkan perpindahan penumpang dari satu moda ke moda lainnya sekaligus meningkatkan aksesibilitas menuju pusat kegiatan di kawasan perkotaan.
Selain penataan kawasan, peningkatan kapasitas prasarana stasiun juga dilakukan untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan pengguna.
Di Stasiun Bogor, misalnya, peningkatan kapasitas panjang peron telah dilakukan dan kini dapat digunakan untuk melayani rangkaian Commuter Line dengan formasi 12 kereta atau SF12.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya KAI Commuter menghadirkan layanan transportasi perkotaan yang lebih efisien, terjangkau, nyaman, dan terintegrasi. (CHI)
Baca Juga: Kementerian PU Bangun 375 Infrastruktur Sanitasi di Sumatera Utara












