Home Berita Permintaan Logistik Jakarta Terus Tumbuh, Hub Distribusi Jadi Kebutuhan

Permintaan Logistik Jakarta Terus Tumbuh, Hub Distribusi Jadi Kebutuhan

Share

JAKARTA, LINTAS – Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi membuat kebutuhan distribusi barang di Jakarta semakin kompleks. Dengan jumlah penduduk DKI Jakarta yang diproyeksikan mencapai 10,68 juta jiwa pada pertengahan 2025, kebutuhan akan sistem logistik perkotaan yang cepat dan efisien menjadi semakin penting.

Kebutuhan tersebut tidak hanya berasal dari penduduk Jakarta. Aktivitas ekonomi ibu kota juga ditopang jutaan pekerja komuter dari wilayah penyangga serta kegiatan bisnis, pemerintahan, perdagangan, perhotelan, restoran hingga berbagai layanan publik.

Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, mengatakan kondisi tersebut membutuhkan fasilitas logistik yang memiliki fungsi lebih luas dari sekadar gudang penyimpanan.

Menurut dia, hub logistik perkotaan perlu mampu menjalankan berbagai fungsi, mulai dari konsolidasi barang, pengolahan pesanan, cross-docking, rantai dingin (cold chain), hingga distribusi cepat.

“Fungsi tersebut dibutuhkan untuk melayani berbagai jenis komoditas, mulai dari pangan, barang konsumsi, produk industri, farmasi hingga perdagangan elektronik,” ujar Setijadi dari keterangannya yang dikutip Senin (31/8/2026).

Jakarta Utara Punya Posisi Strategis

Jakarta Utara dinilai memiliki posisi yang strategis untuk dikembangkan sebagai hub logistik perkotaan. Wilayah ini terhubung langsung dengan Pelabuhan Tanjung Priok, jaringan distribusi Jabodetabek dan nasional, sekaligus berada dekat dengan pasar utama Jakarta.

Selain konektivitas, Jakarta Utara memiliki basis penduduk dan kegiatan ekonomi yang besar. Jumlah penduduk wilayah tersebut mencapai sekitar 1,82 juta jiwa.

Data sangat sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta Utara atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp 713,97 triliun.

Baca Juga: Kementerian PU Bangun 375 Infrastruktur Sanitasi di Sumatera Utara

Dari angka tersebut, sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 207,88 triliun atau 29,12 persen. Berikutnya sektor perdagangan mencapai Rp 136,78 triliun atau 19,16 persen, sedangkan sektor transportasi dan pergudangan mencapai Rp 41,89 triliun atau 5,87 persen.

Ketiga sektor tersebut—industri pengolahan, perdagangan, serta transportasi dan pergudangan—secara keseluruhan menyumbang 54,15 persen terhadap PDRB Jakarta Utara. Struktur ekonomi tersebut sekaligus menunjukkan besarnya aktivitas yang berkaitan langsung dengan pergerakan barang dan kebutuhan layanan logistik.

Pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan juga menunjukkan tren positif. Secara riil, sektor tersebut tumbuh 8,67 persen pada 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Jakarta Utara yang tercatat 4,92 persen.

Kondisi itu menunjukkan bahwa kapasitas dan kualitas layanan logistik perlu mengikuti perkembangan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.

Tak Cukup Hanya Bangun Gudang

Rektor Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Yuliantini, menilai pengembangan hub logistik di Jakarta Utara perlu mempertimbangkan keterbatasan lahan dan tingginya biaya ruang perkotaan.

Menurut dia, fasilitas yang dibangun harus memiliki produktivitas lahan tinggi dan mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan distribusi secara terintegrasi.

Sejumlah fasilitas yang dapat menjadi prioritas antara lain urban consolidation center, cold-chain hub, pusat distribusi cepat, serta layanan logistik bernilai tambah yang didukung sistem digital.

Pengembangan fasilitas tersebut juga perlu berjalan seiring dengan penataan ruang, konektivitas multimoda, pengaturan angkutan barang, mitigasi risiko lingkungan, pemanfaatan teknologi, serta ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten.

“Kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan industri diperlukan agar fasilitas tersebut benar-benar menjawab kebutuhan distribusi dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Yuliantini.

Menurut dia, hub logistik yang dirancang dengan baik dapat membantu mengurangi perjalanan kendaraan barang yang tidak efisien, menjaga kelancaran pasokan, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan distribusi kepada masyarakat.

Perlu Pemetaan Sebelum Dibangun

Yuliantini mengingatkan pembangunan hub logistik tidak cukup hanya berdasarkan ketersediaan lahan atau kedekatan dengan pusat kegiatan ekonomi.

Pemerintah perlu terlebih dahulu memetakan pola permintaan barang pada siang dan malam hari, asal dan tujuan pergerakan barang, waktu tempuh, biaya distribusi, kebutuhan pengguna, hingga potensi investor.

Pemetaan tersebut diperlukan agar fasilitas yang dibangun memiliki tingkat pemanfaatan yang optimal dan tidak berakhir menjadi infrastruktur yang kurang produktif.

Karena itu, pengembangan hub logistik Jakarta Utara disarankan dilakukan secara bertahap. Setiap tahap perlu didukung komitmen pengguna utama serta target utilisasi dan efisiensi yang terukur.

Dengan pendekatan tersebut, pembangunan hub logistik tidak hanya layak secara komersial, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sistem distribusi perkotaan yang lebih efisien dan mampu menopang kebutuhan Jakarta yang terus berkembang. (CHI)

Baca Juga: Sekolah Rakyat di Kepri Dikebut, Tiga Lokasi Ditargetkan Rampung Juni 2027

Oleh:

Share