Home Berita Hadapi El Nino, Kementerian PU Perkuat Irigasi Air Tanah di NTT

Hadapi El Nino, Kementerian PU Perkuat Irigasi Air Tanah di NTT

Share

AKARTA, LINTAS – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat upaya menjaga ketahanan pangan nasional melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Infrastruktur ini menjadi solusi penyediaan air bagi lahan pertanian di daerah yang rentan mengalami kekeringan, terutama saat fenomena El Nino memicu musim kemarau lebih panjang dan curah hujan menurun.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan pembangunan JIAT merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga produktivitas pertanian di wilayah dengan keterbatasan sumber air permukaan. Pemanfaatan air tanah secara berkelanjutan diharapkan mampu memastikan pasokan air tetap tersedia sehingga aktivitas bercocok tanam tidak terganggu.

Menurut Dody, pembangunan sumur JIAT harus diikuti dengan percepatan pembangunan jaringan irigasi tersier agar distribusi air ke lahan pertanian berlangsung lebih efektif dan efisien.

“Air ini harus kita hemat dan kelola dengan baik. Saya minta agar jaringan tersier segera dibangun, sehingga air tidak terbuang dan bisa menjangkau lebih banyak sawah secara efisien,” kata Dody, Sabtu (18/7/2026).

Salah satu JIAT yang telah beroperasi berada di Kelurahan Batuplat, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Sumur tersebut memiliki kedalaman 57 meter dengan debit air mencapai 8 liter per detik dan mampu mengairi lahan pertanian seluas sekitar 9 hektar.

Fasilitas itu juga dilengkapi jaringan pipa sepanjang 1.000 meter, 13 box pembagi air, reservoir berkapasitas 50 meter kubik, serta menggunakan panel surya sebagai sumber energi utama dengan dukungan listrik PLN sebagai cadangan.

Dibangun Berdasarkan Usulan Daerah

Kepala Satuan Kerja NVT Air Tanah dan Air Baku Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II, Djoniur Doga, menjelaskan lokasi pembangunan JIAT ditentukan berdasarkan usulan pemerintah daerah agar benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Pembangunan sumur di Batuplat dimulai pada September 2025 dan rampung pada Desember 2025 sebagai bagian dari Program Instruksi Presiden yang membangun 18 titik JIAT di Provinsi NTT.

Menurut Djoniur, proses pembangunan mendapat dukungan penuh dari masyarakat setempat. Bahkan, terdapat warga yang secara sukarela menghibahkan lahannya untuk pembangunan rumah pompa dan pemasangan panel surya.

“Puji Tuhan kami memperoleh debit air sekitar 8 liter per detik dari kedalaman sumur 57 meter. Dukungan masyarakat juga sangat besar sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan baik,” katanya.

Selain memenuhi kebutuhan irigasi, JIAT juga dilengkapi fasilitas penyediaan air bersih skala kecil bagi petani yang bekerja di area pertanian. Fasilitas tersebut merupakan arahan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air agar petani tetap memperoleh akses air bersih selama beraktivitas di lahan.

Djoniur menambahkan, tantangan selanjutnya adalah meningkatkan efisiensi penggunaan air melalui pendampingan kepada petani mengenai pola irigasi yang tepat sehingga pemanfaatan air tanah dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Tanaman sebenarnya tidak membutuhkan air berlebihan. Yang penting adalah bagaimana air digunakan secara hemat dan sesuai kebutuhan tanaman,” ujarnya.

Petani Rasakan Manfaat Nyata

Keberadaan JIAT mulai dirasakan langsung oleh para petani di Batuplat. Meike, salah seorang petani setempat, mengungkapkan sebelum adanya jaringan irigasi tersebut, kebutuhan air hanya mengandalkan sumur gali sedalam sekitar delapan meter. Air diambil secara manual menggunakan ember sehingga membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup besar.

Saat musim kemarau, keterbatasan air membuat petani hanya mampu melakukan panen sekali dalam setahun. Kini kondisi tersebut berubah. Dengan pasokan air dari JIAT yang lebih stabil, lahan pertanian tetap dapat diairi meski memasuki musim kemarau. Dampaknya, intensitas tanam meningkat menjadi dua kali dalam setahun sehingga produktivitas pertanian ikut terdongkrak.

“Kami sangat bersyukur karena sekarang tetap bisa menanam dan panen dua kali dalam setahun meski musim kering. Semoga jaringan irigasi ini terus dimanfaatkan dengan baik agar semakin banyak petani yang merasakan manfaatnya,” ujar Meike.

Hingga saat ini, BBWS Nusa Tenggara II telah membangun lebih dari 300 titik Jaringan Irigasi Air Tanah serta sekitar 1.600 infrastruktur air tanah dan air baku yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di NTT.

Sebagai langkah lanjutan untuk mengantisipasi kekeringan, Kementerian PU juga menyiapkan pembangunan empat titik JIAT baru pada 2026, masing-masing dua titik di Kota Kupang dan dua titik di Kabupaten Malaka. Program ini diharapkan semakin memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di wilayah Nusa Tenggara Timur. (CHI)

Baca Juga: Menteri Dody: 82 Sekolah Rakyat Sudah Berfungsi

Oleh:

Share