JAKARTA, LINTAS – Pemulihan konektivitas udara menjadi salah satu perhatian penting setelah gempa bumi melanda sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara turun langsung meninjau kondisi sejumlah bandar udara untuk memastikan fasilitas penerbangan dapat kembali berfungsi secara optimal dan aman.
Peninjauan dilakukan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa bersama jajaran pada Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebut bertujuan mengidentifikasi dampak gempa terhadap infrastruktur dan fasilitas bandar udara sekaligus memetakan kebutuhan penanganan yang harus segera dilakukan.
Lima bandar udara menjadi lokasi peninjauan, yakni Bandar Udara Komodo, Bandar Udara Fransiskus Xaverius Seda Maumere, Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman Ende, Bandar Udara Soa Bajawa, serta Bandar Udara Frans Sales Lega Ruteng.
Dalam kunjungan tersebut, Lukman melihat langsung kondisi fasilitas dan aset bandar udara pascagempa. Pemeriksaan mencakup sejumlah fasilitas yang berkaitan dengan pelayanan penumpang maupun operasional penerbangan.
Menurut Lukman, peninjauan lapangan diperlukan agar pemerintah memperoleh gambaran faktual mengenai kondisi masing-masing bandara. Hasil pemeriksaan tersebut selanjutnya akan menjadi dasar dalam menentukan penanganan dan prioritas pemulihan.
“Dengan adanya musibah ini semoga kita selalu dikuatkan dalam keadaan apa pun. Semoga kita semua selalu diberi perlindungan agar terus bisa menjalankan aktivitas bandara serta menyampaikan bantuan kepada yang membutuhkan,” ujar Lukman.



Prioritaskan Fasilitas Terdampak
Salah satu bandara yang menjadi perhatian dalam peninjauan adalah Bandar Udara Soa Bajawa. Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, pemulihan sejumlah struktur bangunan dan fasilitas pendukung menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian.
Area terminal penumpang serta fasilitas penunjang operasional penerbangan termasuk dalam fasilitas yang menjadi perhatian untuk dipulihkan. Penanganan akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan kebutuhan masing-masing fasilitas.
Baca Juga: WIKA Beton Kembangkan Pemecah Gelombang Efisien dan Ramah Ekosistem
Lukman menegaskan, pemerintah tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik bangunan, tetapi juga memastikan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas selama proses penanganan berlangsung.
“Kita ingin memastikan setiap kebutuhan di lapangan teridentifikasi dengan baik. Selanjutnya akan kita tindak lanjuti sesuai tingkat kerusakan dan kebutuhan, agar fasilitas bandar udara dapat segera dipulihkan dan mendukung kembali aktivitas masyarakat serta konektivitas di wilayah NTT,” jelasnya.
Selain mengecek kondisi infrastruktur, rombongan Ditjen Perhubungan Udara juga memberikan bantuan kepada jajaran di wilayah terdampak. Bantuan tersebut menjadi bentuk dukungan bagi para pegawai yang tetap menjalankan tugas pelayanan penerbangan di tengah situasi pascabencana.
Jaga Konektivitas NTT
Bandar udara memiliki peran strategis bagi NTT, terutama dalam menjaga mobilitas masyarakat, distribusi bantuan, serta konektivitas antardaerah. Karena itu, pemulihan fasilitas penerbangan dinilai penting untuk mendukung aktivitas masyarakat sekaligus mempercepat proses pemulihan pascabencana.
Ditjen Perhubungan Udara terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait dalam menangani dampak gempa. Setiap langkah pemulihan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi lapangan serta standar keselamatan dan keamanan penerbangan.
Peninjauan langsung ke sejumlah bandara diharapkan dapat mempercepat identifikasi kebutuhan sekaligus memastikan penanganan dilakukan secara terukur. Dengan demikian, fasilitas penerbangan yang terdampak dapat segera dipulihkan dan kembali mendukung konektivitas serta pelayanan masyarakat di NTT.
Dalam peninjauan tersebut, Lukman didampingi Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Achmad Setiyo Prabowo, Kepala Otoritas Bandar Udara Wilayah IV Bali Cecep Kurniawan, Kepala Balai Kesehatan Penerbangan Capt. Renato Joelfian Joesaki, serta Kepala Bagian Keuangan Arif Priyo Utomo.. (CHI)
Baca Juga: Badan Otorita: “Giant Sea Wall” Pantura Lindungi 48 Juta Penduduk dan Ekonomi Nasional












