BANDUNG, LINTAS – Pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa (Pantura) tidak hanya membutuhkan struktur yang kuat menghadapi gelombang laut, tetapi juga teknologi yang efisien dan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem pesisir. Menjawab kebutuhan tersebut, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WIKA Beton) mengembangkan teknologi pemecah gelombang dengan bobot material yang lebih ringan.
Teknologi tersebut antara lain Brinlock dan BPTLock, yang dirancang dengan sistem penguncian antarelemen sehingga struktur mampu menahan gaya gelombang dengan kebutuhan material lebih rendah dibandingkan teknologi konvensional.
Direktur Teknik dan Produksi WIKA Beton, Ir. Verly Widiantoro, mengatakan inovasi tersebut dapat menjadi alternatif teknologi pemecah gelombang seperti tetrapod yang selama ini banyak digunakan dalam pembangunan perlindungan pantai.
“Kalau menggunakan tetrapod 10 ton, dengan Brinlock atau BPTLock cukup 5 ton,” ujar Verly dalam seminar nasional bertajuk The Giant Sea Wall of Java’s Northern Coast: Advancing Coastal Resilience and National Economic di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, Sabtu (29/8/2026).
Lebih Ringan, Tetap Tahan Gelombang
Menurut Verly, keunggulan Brinlock dan BPTLock terletak pada desain yang memungkinkan setiap elemen saling mengunci. Sistem tersebut membuat struktur memiliki kemampuan menahan tekanan gelombang tanpa harus menggunakan material dengan bobot sebesar struktur konvensional.
“Dengan model lock seperti ini, beratnya bisa dikurangi sampai setengahnya,” katanya.
Pengurangan bobot material dinilai dapat memberikan sejumlah keuntungan dalam proses konstruksi, mulai dari efisiensi penggunaan material hingga kemudahan dalam penanganan dan pemasangan struktur di lapangan.
Namun, bagi WIKA Beton, efisiensi konstruksi bukan satu-satunya pertimbangan. Pengembangan teknologi pemecah gelombang juga diarahkan untuk menjawab tantangan lingkungan yang muncul seiring pembangunan infrastruktur perlindungan pesisir.
Perhatikan Ekosistem Laut
Verly menegaskan, pembangunan Giant Sea Wall perlu dirancang dengan mempertimbangkan keberlangsungan ekosistem laut di sekitar struktur. Karena itu, desain pemecah gelombang tidak semata-mata ditujukan untuk meredam energi gelombang, tetapi juga dapat memberikan ruang bagi kehidupan biota laut dan terumbu karang.
“Jadi tidak hanya menyelesaikan masalah yang sifatnya sipil, tetapi kita juga berbicara tentang alam dan lingkungan,” ujar Verly.
Pendekatan tersebut menjadi penting mengingat Giant Sea Wall akan berada di kawasan pesisir yang memiliki fungsi ekologis sekaligus ekonomi. Infrastruktur perlindungan pantai diharapkan mampu mengurangi risiko banjir rob dan ancaman gelombang laut tanpa mengabaikan kondisi lingkungan di sekitarnya.
Dorong Teknologi Konstruksi Dalam Negeri
Pengembangan Brinlock dan BPTLock menjadi bagian dari upaya WIKA Beton mendorong pemanfaatan teknologi konstruksi dalam negeri untuk proyek infrastruktur berskala besar.
Verly menilai pembangunan Giant Sea Wall dapat menjadi momentum bagi para insinyur dan pelaku industri konstruksi nasional untuk menghasilkan teknologi yang sesuai dengan karakteristik wilayah pesisir Indonesia.
Baca Juga: Badan Otorita: “Giant Sea Wall” Pantura Lindungi 48 Juta Penduduk dan Ekonomi Nasional
Selain teknologi pemecah gelombang, WIKA Beton juga mengembangkan sistem konstruksi pracetak untuk mendukung pembangunan Giant Sea Wall.
Menurut Verly, teknologi pracetak memiliki sejumlah keunggulan, terutama dalam pengendalian kualitas, pelacakan produk, modularitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan.
“Teknologi pracetak itu kualitasnya terkontrol dan traceable. Kemudian juga modular, sehingga bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar,” katanya.
Penggunaan elemen pracetak juga dinilai dapat membantu meningkatkan konsistensi kualitas produk karena proses produksi dapat dilakukan dalam kondisi yang lebih terkendali sebelum elemen dikirim dan dipasang di lokasi proyek.
Utilitas Perlu Dirancang Sejak Awal
Selain struktur perlindungan pantai, Verly mengingatkan pentingnya memperhitungkan kebutuhan utilitas dalam perencanaan Giant Sea Wall sejak tahap awal.
Jalur kabel, jaringan utilitas, dan berbagai kebutuhan infrastruktur pendukung lainnya, kata dia, perlu disiapkan dan diintegrasikan ke dalam desain struktur. Langkah tersebut diperlukan untuk menghindari pembongkaran atau pekerjaan konstruksi berulang ketika kawasan Giant Sea Wall telah beroperasi. (CHI)












