BANDUNG, LINTAS – Pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa (Pantura) dinilai perlu dirancang lebih dari sekadar infrastruktur perlindungan pesisir. Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BKS PII) mendorong agar proyek strategis tersebut turut mengintegrasikan sumber energi baru dan terbarukan untuk memperkuat ketahanan air, energi, serta perekonomian nasional.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua BKS PII Ir. Habibie Razak dalam seminar regional bertajuk “The Giant Sea Wall of Java’s Northern Coast: Advancing Coastal Resilience and National Economy” yang digelar di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung, Sabtu (29/8/2026).
Menurut Habibie, pengembangan Giant Sea Wall perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan kawasan pesisir yang lebih luas. Infrastruktur tersebut tidak hanya ditujukan untuk menghadapi ancaman banjir rob, kenaikan muka air laut, dan dampak perubahan iklim, tetapi juga dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan energi di kawasan Pantura.
Giant Sea Wall dan Potensi Energi Terbarukan
Habibie mengatakan, pembangunan tanggul laut berskala besar perlu dikaji secara multidisiplin, mulai dari aspek konstruksi, ketahanan iklim, pengelolaan risiko pesisir, hingga kebutuhan energi.
Baca Juga: Rektor Unpar: Giant Sea Wall Harus Jadi Strategi Ketahanan Pesisir
Salah satu peluang yang menurutnya perlu dikaji adalah integrasi Giant Sea Wall dengan sumber energi baru dan terbarukan, termasuk pembangkit listrik tenaga surya terapung atau floating solar photovoltaic (floating solar PV) serta energi angin di kawasan dekat pantai.
“Pembangunan Giant Sea Wall perlu dibandingkan dan diadopsi dengan konstruksi tanggul laut berskala besar yang terintegrasi dengan pengembangan energi baru dan terbarukan, seperti floating solar PV dan energi angin dekat pantai,” ujar Habibie.
Menurutnya, konsep tersebut dapat mengubah fungsi infrastruktur perlindungan pesisir menjadi bagian dari ekosistem pembangunan kawasan. Dengan perencanaan yang tepat, Giant Sea Wall berpotensi memberikan manfaat ganda, yakni melindungi kawasan pesisir sekaligus mendukung penyediaan energi.
“Ketahanan terhadap perubahan iklim untuk mendukung ketahanan air dan ketahanan energi merupakan bagian dari pembangunan ekonomi nasional,” katanya.
Pantura Koridor Ekonomi Strategis
Habibie menilai urgensi pembangunan infrastruktur pesisir semakin besar karena Pantura merupakan salah satu koridor ekonomi terpenting di Indonesia. Kawasan ini menjadi lokasi berbagai aktivitas industri, pelabuhan, logistik, dan infrastruktur energi yang menopang pergerakan ekonomi nasional.
Ia menyebut Pantura memiliki sekitar 70 kawasan industri, 196 pelabuhan dan hub logistik, serta 28 infrastruktur energi.
“Pantura merupakan koridor pesisir paling produktif di Indonesia dan berkontribusi sedikitnya 20 persen terhadap PDB Indonesia,” ujarnya.
Besarnya aktivitas ekonomi tersebut membuat perlindungan kawasan Pantura tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan teknis pembangunan tanggul. Ketahanan infrastruktur, keberlanjutan lingkungan, pengelolaan kawasan pesisir, serta kesinambungan aktivitas ekonomi perlu menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.
Perlu Perencanaan dan Tata Kelola Terintegrasi
Habibie menambahkan, proyek Giant Sea Wall merupakan pekerjaan berskala besar yang membutuhkan perencanaan jangka panjang dan pendekatan lintas sektor.
Pembahasannya tidak hanya mencakup desain serta konstruksi, tetapi juga pengelolaan risiko pesisir, aspek lingkungan, model pembiayaan, hingga tata kelola kawasan setelah infrastruktur dibangun.
Menurutnya, keterlibatan berbagai disiplin keinsinyuran menjadi penting agar proyek tersebut mampu menjawab kompleksitas persoalan Pantura.
“Mulai dari insinyur struktur, sumber daya air, lingkungan, pesisir, hingga konstruksi perlu dipersiapkan untuk mendukung pengembangan infrastruktur Pantura,” kata Habibie. (CHI)
Baca Juga: Dua Jembatan Vital di Flores NTT Dipulihkan, Kementerian PU Perkuat Ketahanan Gempa












