JAWA TENGAH, LINTAS – Sebanyak 12 jembatan gantung tengah dibangun di sejumlah wilayah Jawa Tengah pada 2026 untuk membuka akses masyarakat di daerah yang terkendala kondisi geografis. Pembangunan tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dalam memperluas konektivitas hingga wilayah pelosok.
Melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah-DI Yogyakarta, Kementerian PU mengalokasikan pembangunan 20 unit jembatan gantung di Jawa Tengah pada tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12 paket pekerjaan telah terkontrak dan kini memasuki tahap pelaksanaan.
Kepala BBPJN Jawa Tengah-DI Yogyakarta Iqbal Tamher mengatakan, seluruh pekerjaan 12 jembatan gantung tersebut ditargetkan selesai secara bertahap pada Oktober hingga Desember 2026.
“Saat ini, 12 paket Jembatan Gantung tersebut telah terkontrak dan sedang dalam masa pelaksanaan pekerjaan. Pembangunan ditargetkan selesai di Oktober hingga Desember 2026,” ujar Iqbal.
Pembangunan jembatan gantung di Jawa Tengah menjadi bagian dari target nasional pembangunan 105 jembatan gantung di 25 provinsi pada 2026. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan akses masyarakat, khususnya di wilayah yang terpisahkan sungai, jurang, maupun kondisi geografis lainnya.

12 Lokasi Jembatan Gantung
Sebanyak 12 paket pembangunan jembatan gantung yang saat ini berjalan tersebar di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah. Lokasinya meliputi Jembatan Gantung Gading Asri di Kendal, Jatisari-Singorojo dan Johar di Jepara, serta Cikangkareng di Cilacap.
Baca Juga: Menyusuri Malam dengan Kereta Cepat Whoosh, Sawah Berganti Gemerlap Lampu
Selanjutnya, Jembatan Gantung Langkap-Kramat di Purbalingga, Luwung di Banjarnegara, serta Gunung Payung di Temanggung.
Sementara di Kabupaten Semarang terdapat Jembatan Gantung Dresi dan Getuk Gondoriyo. Adapun di Kabupaten Grobogan, pembangunan mencakup Jembatan Gantung Juwok-Antirejo, Nglobar-Pulungkrambé, dan Cingkrong.
Program tersebut melanjutkan pembangunan jembatan gantung yang telah dilakukan pada 2025. Pada tahun sebelumnya, sebanyak delapan jembatan gantung dibangun di enam kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Pembangunan jembatan gantung merupakan bagian dari implementasi Strategi PU 608 yang diarahkan untuk mendukung pemerataan pembangunan sekaligus membuka akses masyarakat menuju pusat-pusat ekonomi dan fasilitas pelayanan publik.




Memangkas Jarak dan Membuka Akses Warga
Manfaat pembangunan jembatan gantung mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah yang sebelumnya harus mengandalkan jalur alternatif dengan jarak tempuh lebih jauh.
Salah satunya dirasakan warga Dusun Suruhan, Kabupaten Semarang, setelah Jembatan Gantung Suruh Panjang dibangun. Jembatan sepanjang 80 meter tersebut menghubungkan Dusun Suruhan dan Dusun Siroto, Kecamatan Ungaran Barat.
Kasminto, warga Dusun Suruhan, mengatakan sebelum jembatan dibangun, warga harus menggunakan jalan setapak yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan.
“Sebelum ada jembatan ini, kami lewat jalan setapak. Kalau musim hujan, jalannya licin sehingga tidak bisa dilalui kendaraan bermotor dan kami harus memutar cukup jauh,” ujar Kasminto.
Menurut dia, keberadaan jembatan tidak hanya memudahkan mobilitas warga, tetapi juga mendukung aktivitas sosial dan perekonomian masyarakat.
“Adanya jembatan ini memberikan banyak manfaat, seperti meningkatkan interaksi antarwarga desa karena bisa lebih mudah mengadakan berbagai kegiatan dan memperlancar perekonomian,” katanya.
Manfaat serupa dirasakan masyarakat di sekitar Jembatan Gantung Tinjomoyo, Kota Semarang. Jembatan tersebut menghubungkan Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, dengan Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati.
Bagi pelajar, keberadaan jembatan turut memangkas waktu perjalanan menuju sekolah maupun fasilitas pendidikan.
“Sebelum ada jembatan ini, kami harus jalan memutar dulu. Setelah ada jembatan, perjalanan menjadi lebih mudah dan cepat untuk sampai ke sekolah,” ujar Sakura, santriwati Pondok Pesantren Al Jaelani Tinjomoyo.
Pembangunan jembatan gantung di sejumlah daerah di Jawa Tengah diharapkan dapat memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat yang selama ini menghadapi hambatan geografis. Selain memperpendek jarak tempuh, infrastruktur tersebut juga menjadi penghubung bagi aktivitas pendidikan, sosial, ekonomi, dan pelayanan masyarakat sehari-hari. (CHI)
Baca Juga: Cegah Banjir, Menteri PU Minta Sungai dan Muara Tanjungpinang Ditata












