Di antara perbukitan hijau di wilayah Cianjur, sebuah stasiun kecil berdiri tanpa hiruk pikuk kota besar. Namanya Stasiun Lampegan. Ukurannya sederhana, aktivitasnya tampak tenang, tetapi perannya jauh dari kata kecil.
Setiap pagi, dari peron yang tak terlalu panjang itu, perjalanan dimulai. Ada pedagang yang membawa harapan di dalam tas belanja, pekerja yang mengejar waktu, hingga keluarga yang menunggu kepulangan di sore hari. Di tempat inilah ritme kehidupan desa dan kota saling terhubung.
Kereta yang Menjadi Bagian dari Keseharian
Stasiun ini melayani perjalanan kereta lokal relasi Cipatat–Sukabumi pulang pergi. Bagi warga sekitar, perjalanan dengan kereta bukan sekadar transportasi—ia sudah menjadi bagian dari rutinitas hidup.

Sepanjang Januari hingga Maret 2026, tercatat 8.482 pelanggan berangkat dari Lampegan dan 9.680 pelanggan tiba di stasiun ini. Angka tersebut meningkat dibanding periode yang sama tahun 2025, yang mencatat 7.502 pelanggan naik dan 7.589 pelanggan turun. Kenaikan ini menunjukkan satu hal sederhana: kebutuhan untuk bergerak terus tumbuh.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menggambarkan suasana stasiun kecil ini dengan hangat.
“Di Stasiun Lampegan, perjalanan terasa dekat dengan keseharian. Pagi hari, ada yang berangkat membawa dagangan ke kota. Siang hingga sore, ada yang kembali dengan cerita dan hasil usaha. Di sela itu, perjalanan juga menghubungkan keluarga yang saling menunggu di rumah,” ujarnya dikutip Minggu (19/4/2026).
Dengan tarif hanya Rp 2.000 hingga Rp 5.000, perjalanan kereta menjadi akses penting bagi masyarakat. Harga yang terjangkau membuat mobilitas tetap terbuka—bagi siapa saja.
Gerbang Kecil Menuju Wisata dan Alam
Di sekitar stasiun, kehidupan tumbuh dari pertanian, perkebunan, hingga wisata. Lokasinya yang dekat dengan Situs Gunung Padang memberi peluang pergerakan wisatawan, terutama saat akhir pekan.
Tak sedikit penumpang yang turun dengan ransel di punggung, mencari petualangan di alam dan jejak sejarah. Perjalanan kereta pun berubah menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.
Stasiun Lampegan bukan hanya tempat naik turun penumpang. Ia juga menyimpan sejarah panjang perkeretaapian. Dibangun pada periode 1879–1882, keberadaannya berkaitan erat dengan Terowongan Lampegan yang berada tak jauh dari lokasi.
Bangunannya masih mempertahankan gaya kolonial: bentuk simetris, jendela besar, dan atap pelana yang khas. Kini, stasiun ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh KAI—warisan yang tetap hidup dan digunakan setiap hari.
Berada di ketinggian sekitar 439 meter di atas permukaan laut, stasiun ini dikelilingi sawah, kebun teh, dan perbukitan. Perjalanan kereta di sini terasa lebih dekat dengan alam—pelan, tenang, dan menenangkan.
Lebih dari Sekadar Titik Perhentian
Pertumbuhan jumlah pelanggan di Lampegan menunjukkan bahwa kereta api tetap menjadi pilihan masyarakat di berbagai wilayah. Bahkan dari stasiun kecil, dampaknya bisa besar.
Dari Lampegan, perjalanan terus berjalan. Menghubungkan aktivitas, mempertemukan keluarga, dan membawa harapan yang ikut bergerak di setiap keberangkatan dan kedatangan. Sebuah titik kecil yang diam-diam menjaga banyak cerita tetap terhubung. (CHI)
Baca Juga: Jalan Gombel Lama Ditutup Total untuk Perbaikan































