Home Berita Rekonstruksi Infrastruktur Sumatera Harus ‘Build Better and Stronger’, AHY: Jangan Kejar Cepat tapi Rapuh

Rekonstruksi Infrastruktur Sumatera Harus ‘Build Better and Stronger’, AHY: Jangan Kejar Cepat tapi Rapuh

Share

JAKARTA, LINTAS – Kebutuhan membangun kembali infrastruktur di Sumatera setelah bencana hidrometeorologi makin mendesak. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa proses rekonstruksi tidak boleh sekadar mengejar percepatan.

Menurutnya, pembangunan harus berlangsung jauh lebih kuat, lebih tangguh, dan benar-benar mampu bertahan dari ancaman bencana di masa depan.

Dalam agenda Balairung Dialogue 2025 di Jakarta, AHY mengingatkan seluruh pihak tentang pentingnya kualitas pembangunan pascabencana. Ia menekankan bahwa mempercepat pembangunan tidak boleh mengorbankan ketahanan jangka panjang.

“Tugas utama kita adalah membangun kembali, but don’t just rebuild, build better, build stronger, more resilient, and more sustainable,” ujarnya, Selasa (9/12/2025). Ia menambahkan bahwa kualitas infrastruktur menjadi pertaruhan besar karena bencana besar seperti yang terjadi belakangan ini bisa kembali berulang.

Bencana Menghantam Puluhan Kabupaten

AHY menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah barat Indonesia telah memberikan dampak sangat luas. Sedikitnya 18 kabupaten/kota di Aceh, 18 kabupaten/kota di Sumatera Utara, dan 16 kabupaten/kota di Sumatera Barat masuk dalam kategori terdampak.

Data terbaru hingga Senin, 8 Desember, dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan:

  • 961 jiwa meninggal,
  • 234 jiwa hilang,
  • 5.000 jiwa terluka,
  • 998.800 jiwa mengungsi.

Tidak hanya itu, infrastruktur di 52 kabupaten juga mengalami kerusakan masif. BNPB mencatat:

  • 1.200 fasilitas umum rusak,
  • 199 fasilitas kesehatan terdampak,
  • 534 fasilitas pendidikan rusak,
  • 420 rumah ibadah,
  • 234 gedung/kantor,
  • 435 jembatan rusak,
  • 259 akses terdampak,
  • 163 akses terputus,
  • 101 jalan terputus,
  • 62 jembatan terputus.

Sementara itu, jumlah rumah rusak mencapai 156.500 unit, terdiri dari:

  • 143.427 rumah rusak berat,
  • 2.298 rusak sedang,
  • 10.808 rusak ringan.

Angka-angka tersebut menunjukan skala kerusakan yang sangat besar dan menjadi alasan kuat AHY mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi dengan pendekatan yang lebih kokoh dan berkelanjutan.

Rehabilitasi Harus Dimulai Sekarang

AHY menilai waktu sangat krusial. Walaupun saat ini masih dalam fase tanggap darurat, pemerintah tidak boleh menunda proses pemulihan jangka panjang. Menurutnya, perencanaan rekonstruksi harus dimulai sekarang agar tidak terjadi keterlambatan ketika kondisi sudah masuk ke tahap rehabilitasi.

Saat kunjungannya ke Sumatera Utara pekan lalu, AHY juga memimpin rapat bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan Teuku Faisal Fathani untuk membahas urgensi operasi modifikasi cuaca (OMC). Teknologi ini dinilai krusial untuk mempermudah evakuasi korban dan pengiriman bantuan logistik.

Kalau hujan masih berat, harus dipecah dulu atau digeser ke laut. Ini butuh operasi khusus BNPB bersama dengan BMKG,” ujarnya, menegaskan bahwa cuaca ekstrem menjadi tantangan besar dalam proses penanganan darurat.

Bantuan Logistik & Evakuasi Masih Jadi Prioritas

AHY memastikan bahwa pemerintah terus mengalirkan bantuan logistik ke wilayah yang terisolir. Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tamiang termasuk kawasan yang paling sulit dijangkau karena akses terputus. Banyak warga yang bahkan sudah mengalami kekurangan makanan akibat terjebak tanpa akses keluar.

Selain pengiriman bantuan, AHY turut meninjau kerusakan infrastruktur vital seperti jalan penghubung Sumbar–Riau yang lumpuh akibat bencana. Menurutnya, alat berat harus segera ditempatkan di titik-titik kritis agar perbaikan jalan bisa berlangsung cepat dan efektif.

Dampak Kemanusiaan Tak Bisa Diabaikan

Dalam kunjungannya ke tenda-tenda pengungsian, AHY mengaku melihat langsung bagaimana warga kehilangan rumah, barang-barang penting, bahkan anggota keluarga. Kondisi itu, katanya, membuat proses pemulihan tidak hanya soal beton, jalan, atau jembatan.

Baca Juga: Relokasi Hunian Penyintas Bencana Sumbar Dikebut, Kementerian PKP Siapkan Sejumlah Lokasi Baru

Ini bukan hanya masalah infrastruktur, ini masalah manusia. Jadi, mari kita menggerakkan hati dan ciptaan kita untuk membantu saudara-saudara kita, tegasnya. (GIT)

Share