JAKARTA, LINTAS – Proyek pembangunan Jalan Tol Gilimanuk–Mengwi di Bali yang digadang-gadang bakal menjadi tol terpanjang di Pulau Dewata ternyata belum banyak menarik minat investor. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkapkan, penyebab utamanya terletak pada lokasi tol yang bukan merupakan jalur utama arus kendaraan di Bali.
“Karena yang saya tahu, Gilimanuk–Mengwi itu nggak banyak investor yang tertarik. Lokasinya memang bukan jalur utama traffic kendaraan, jadi masih perlu banyak diskusi dan kajian lebih dalam,” jelas Dody dalam Media Briefing di Kantor Kementerian PU, Jakarta, Jumat (31/10/2025).
Menurut Dody, proyek tol yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) ini masih dalam tahap due diligence atau kajian kelayakan. Pemerintah bersama para calon investor terus membahas berbagai alternatif, termasuk kemungkinan perubahan rute tol.
“Gilimanuk–Mengwi ini masih dalam pembahasan intensif. Apakah ruasnya tetap seperti rencana awal, atau akan menggunakan jalur alternatif lain, semuanya masih dalam diskusi dengan calon investor dan pemerintah daerah setempat,” tambahnya.
Dody juga menyoroti bahwa beberapa proyek jalan tol lain justru menunjukkan progres yang lebih cepat dibandingkan Gilimanuk–Mengwi. Dua di antaranya adalah Tol Sentul Selatan–Karawang Barat dan Tol Gedebage–Tasikmalaya, yang kini tengah dalam tahap penyelesaian.
Rampung Tahun Depan
Menteri PU menargetkan dari empat proyek prioritas yang sedang disiapkan, dua di antaranya bisa rampung tahun depan. Kedua proyek tersebut dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar serta dukungan investor yang lebih kuat.
“Kita sudah lempar ke beberapa investor, dan proyek Tol Sentul Selatan–Karawang Barat serta Gedebage–Tasikmalaya akan lebih maju progresnya. Mudah-mudahan dua dari empat proyek ini bisa kita selesaikan pada 2026,” ujarnya optimistis.
Tol Gilimanuk–Mengwi merupakan salah satu proyek warisan Proyek Strategis Nasional (PSN) era Presiden Jokowi yang kini tetap dilanjutkan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Namun, sama seperti proyek Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci), proyek ini juga telah beberapa kali gagal lelang akibat kurangnya minat investor.

Berdasarkan hasil kajian terakhir, pembangunan tol sepanjang 96,84 kilometer tersebut membutuhkan investasi sekitar Rp25,4 triliun. Hingga kini, proyek masih berada dalam tahap riviu ulang sebelum kembali dilelang secara resmi.
Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PU, Rachman Arief Dienaputra, menyebutkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan skema kerja sama yang lebih menarik agar proyek ini bisa diminati investor.
“Skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) untuk proyek-proyek seperti Getaci dan Gilimanuk–Mengwi sedang kami siapkan ulang. Belum ada yang mau lelang, tapi kami terus memperbaiki agar lebih menarik bagi investor,” kata Rachman di kesempatan terpisah.
Konektivitas Bali
Meski menghadapi tantangan pendanaan, proyek Tol Gilimanuk–Mengwi diyakini tetap penting bagi masa depan konektivitas di Bali. Jalan tol ini diharapkan mampu memperlancar arus logistik dari barat ke timur pulau, sekaligus mendukung sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Senior Manager Representative Office 1 Jasamarga Nusantara Tollroad, Ahmad Fikri, menilai pentingnya proyek ini dalam memperkuat infrastruktur wilayah timur Indonesia. “Peningkatan akses dan konektivitas lewat proyek seperti Gilimanuk–Mengwi akan menjadi kunci dalam mendorong pemerataan ekonomi di luar Jawa,” ujarnya.
Menurut Fikri, keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada kolaborasi kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan investor. “Ketika semua pihak punya visi yang sama, maka pembangunan infrastruktur bisa berjalan lancar dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat,” tambahnya.
Meskipun masih terkendala minat investor, proyek Tol Gilimanuk–Mengwi tetap menjadi salah satu prioritas strategis nasional yang diharapkan mampu mempercepat pemerataan ekonomi dan membuka peluang investasi baru di sektor infrastruktur Bali.
Pemerintah kini fokus menata kembali skema pembiayaan dan memastikan proyek tetap berjalan dengan efisien, tanpa mengorbankan kualitas maupun keberlanjutan lingkungan. Jika berjalan sesuai rencana, tol ini akan menjadi tonggak penting dalam transformasi konektivitas Pulau Dewata di era pemerintahan baru. (GIT)
Baca Juga: Data Pemda Kacau, Menteri PU Harus Kerja Dobel Benahi Jaringan Irigasi































