JAKARTA, LINTAS — Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan memperkuat pengawasan terhadap pelayanan navigasi penerbangan guna memastikan kelancaran operasional angkutan udara pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Pengawasan menyeluruh ini dilakukan untuk menjamin kesiapan fasilitas, informasi cuaca, dan personel, sesuai prinsip keselamatan, keamanan, pelayanan, dan kepatuhan (3S+1C).
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa kesiapan navigasi dan informasi cuaca memiliki peran krusial dalam menjaga keselamatan penerbangan, terutama di tengah potensi cuaca ekstrem.
“Kesiapan navigasi dan informasi cuaca memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan penerbangan, terutama pada periode cuaca ekstrem. Pengawasan ini memastikan seluruh fasilitas dan personel berada dalam kondisi siap operasi,” ujar Lukman dalam keterangan yang dikutip Jumat (21/11/2025).
Puncak Musim Hujan
Dalam dua periode Nataru terakhir, tercatat sejumlah kejadian keselamatan, dengan sekitar 40% terjadi pada fase pendaratan. Dari jumlah tersebut, 55% dipicu kondisi cuaca seperti tail wind, cross wind, wind shear, visibilitas rendah, dan curah hujan tinggi.

Berdasarkan informasi BMKG per 2 Oktober 2025, periode Nataru tahun ini juga diperkirakan bertepatan dengan puncak musim hujan, sehingga faktor cuaca kembali menjadi tantangan utama.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Ditjen Perhubungan Udara memusatkan pengawasan pada tiga aspek utama: Prosedur dan fasilitas operasional penerbangan, bekerja sama dengan AirNav Indonesia, kualitas informasi cuaca, berkoordinasi dengan BMKG dan kesiapan SDM navigasi dan meteorologi.
“Pengawasan berlangsung sejak minggu keempat Oktober hingga minggu pertama Desember 2025, mencakup seluruh bandara dalam wilayah kerja Otoritas Bandar Udara Wilayah I hingga X,” ujar Lukman.
AirNav dan BMKG Diperketat
Pada AirNav Indonesia, pengawasan dilakukan terhadap mekanisme penanganan penumpukan trafik, pengaturan operasi saat cuaca buruk, kesiapan penggunaan runway, prosedur go-around dan holding, hingga ketersediaan fasilitas bantu pendaratan dan surveillance.
Pemeriksaan juga memastikan alur penyampaian pilot report, kualitas informasi cuaca, kesiapan personel, serta tindak lanjut rekomendasi investigasi sebelumnya.
Sementara itu, pengawasan terhadap BMKG diarahkan untuk memastikan komunikasi real-time antara BMKG dan ATS berjalan lancar, data cuaca tersedia cepat dan akurat, peralatan pengamatan berfungsi optimal, serta personel memadai selama masa operasi intensif.
Hingga awal Desember 2025, total 118 kegiatan pengawasan dijadwalkan. Dari jumlah tersebut, 32% telah selesai, 13% masih berlangsung, dan 55% ditargetkan rampung pada awal Desember. Sebanyak 105 inspektur navigasi penerbangan dilibatkan dalam proses ini di seluruh Indonesia.
Dari kegiatan yang telah selesai, 38 lokasi dinyatakan 100% siap mendukung operasional Nataru, sementara lokasi lainnya masih menunggu finalisasi laporan.
Tiga Isu Utama
Tiga isu utama yang muncul dari hasil pengawasan sejauh ini meliputi, ketersediaan dan kesiapan fasilitas navigasi penerbangan, fasilitas pengamatan cuaca yang masih memerlukan perhatian dan kecukupan personel pada jam-jam tertentu.
Sebagai langkah mitigasi, Ditjen Hubud menerapkan pengaturan layanan melalui prosedur alternatif, ground inspection berkala, peningkatan kewaspadaan visual dan komunikasi penerbangan, serta penyesuaian jadwal dinas personel navigasi.
Lukman mengimbau masyarakat untuk memahami bahwa hujan intensitas tinggi, angin kencang, dan jarak pandang rendah dapat memengaruhi jadwal penerbangan. Penumpang disarankan tiba lebih awal di bandara serta memantau informasi resmi dari maskapai.
“Kami berharap masyarakat dapat memahami kemungkinan perubahan jadwal akibat kondisi cuaca. Semua keputusan operasional diambil demi keselamatan bersama. Karena itu koordinasi antara regulator, AirNav Indonesia, BMKG, serta seluruh pemangku kepentingan menjadi sangat penting,” jelasn Lukman. (CHI)
Baca Juga: Kemenhub–Kemendagri Siapkan Strategi Jelang Nataru 2025/2026





