JAKARTA, LINTAS – Akses transportasi masyarakat di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali terbuka setelah Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menuntaskan penanganan 13 titik longsor yang terjadi pascagempa. Pemulihan tersebut memastikan ruas jalan utama kembali fungsional dan memperlancar mobilitas warga serta distribusi bantuan dan kebutuhan dasar.
Hingga Sabtu (22/8) pagi, Kementerian PU telah menyelesaikan penanganan 10 titik longsor di Ruas Jalan Krica-Nitung sepanjang 10,5 kilometer. Sementara itu, tiga titik longsor lainnya di Ruas Jalan Krica-Lidi sepanjang 4,1 kilometer juga telah berhasil ditangani melalui koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sikka.
Dengan selesainya penanganan tersebut, kedua ruas jalan kini kembali dapat dilalui masyarakat. Akses ini memiliki peran penting karena menghubungkan wilayah antardesa sekaligus mendukung aktivitas masyarakat menuju pusat pelayanan, serta kegiatan sosial dan ekonomi sehari-hari.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pemulihan konektivitas menjadi salah satu prioritas dalam penanganan infrastruktur terdampak gempa di Pulau Palue. Menurutnya, keberadaan jalan dan jembatan sangat penting untuk memastikan mobilitas warga sekaligus memperlancar distribusi logistik ke wilayah terdampak.
“Kementerian PU terus berusaha agar akses jalan kembali fungsional secepat mungkin. Jalan dan jembatan merupakan urat nadi pergerakan masyarakat dan distribusi logistik,” kata Dody.




Bersihkan Material Longsor
Percepatan penanganan dilakukan dengan mengerahkan peralatan dari Pulau Flores menuju Pulau Palue. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT memobilisasi dua unit excavator dan satu unit kendaraan pikap L300 melalui Pelabuhan Maumere.
Peralatan tersebut digunakan untuk membuka akses sekaligus membersihkan material longsoran yang menutup badan jalan di sejumlah titik. Langkah tersebut dilakukan agar konektivitas masyarakat dapat segera dipulihkan setelah terdampak gempa.
Terbukanya kembali akses jalan juga diharapkan mempermudah mobilisasi bantuan menuju wilayah terdampak. Selain bantuan kemanusiaan, kelancaran akses darat menjadi penting untuk menjamin distribusi kebutuhan dasar masyarakat serta mendukung aktivitas warga di Pulau Palue.
Pulau Palue merupakan wilayah kepulauan yang berada di sebelah utara Pulau Flores dan secara administratif masuk dalam Kabupaten Sikka, NTT. Pulau seluas sekitar 41 kilometer persegi tersebut terdiri atas delapan desa, yakni Nitunglea, Lidi, Reruwairere, Maluriwu, Kesokoja, Ladolaka, Tuanggeo, dan Rokirole.
Meski ruas jalan utama telah kembali fungsional, Kementerian PU bersama pemerintah daerah masih melakukan pemantauan di sejumlah lokasi. Pemantauan diperlukan untuk mengantisipasi potensi longsor baru maupun gangguan terhadap infrastruktur akibat gempa susulan yang masih dapat terjadi. (CHI)
Baca Juga:












