JAKARTA, LINTAS – Inovasi Adaptive Modular Station (A.M.S.) karya lima mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) meraih juara pertama dalam kompetisi Smart Move Challenge (SMC) 2026: Shaping Future Urban Mobility for 500 Years Jakarta.
Tim yang menamakan diri Mandor Mandir tersebut ditetapkan sebagai pemenang setelah melalui proses penjurian dan pemaparan langsung di hadapan dewan juri pada Selasa (20/10/2026) di Gedung Transport Hub, Dukuh Atas, Jakarta.
Smart Move Challenge 2026 merupakan penyelenggaraan tahun kedua hasil kolaborasi PT MRT Jakarta (Perseroda) bersama Marketeers. Kompetisi ini menjadi wadah bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menyampaikan gagasan dan solusi inovatif dalam mendukung pengembangan transportasi publik serta mobilitas perkotaan, sejalan dengan visi Jakarta sebagai kota global.
Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta (Perseroda) Rendy Primartantyo mengatakan, kompetisi tahun ini diikuti tidak kurang dari 103 pendaftar yang mengirimkan karya inovatif. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan tahun sebelumnya.
Menurutnya, gagasan yang masuk mencakup berbagai bidang, mulai dari sistem konstruksi modular, pengelolaan energi berbasis prediksi, strategi mengurai kepadatan penumpang melalui insentif, hingga pengembangan ekosistem bisnis dan pendapatan nontiket.
“Ini menunjukkan bahwa masih banyak ruang untuk mengembangkan MRT Jakarta, baik dari sisi operasional, infrastruktur, bisnis, maupun keberlanjutan. Kami mengapresiasi upaya para finalis dalam mengidentifikasi tantangan dan merumuskan solusi melalui proposal yang telah disusun,” kata Rendy dikutip Rabu (4/11/2026).
Baca Juga: Hujan Lebat Picu Longsor di Jawa Timur dan Bali, PU Lakukan Penanganan Darurat



Kebutuhan Masyarakat
Ia menambahkan, tantangan berikutnya adalah memastikan setiap gagasan tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga relevan dengan kebutuhan, layak diterapkan, dan mampu memberikan dampak nyata bagi MRT Jakarta maupun masyarakat.
Dalam kompetisi tersebut, lima tim finalis menghadirkan inovasi dengan fokus pengembangan yang berbeda. Tim MRT Sampai UI mengusung One Station, One Identity, yakni konsep Station Corner yang mengintegrasikan ruang layanan dan komersial sesuai karakter setiap stasiun.
Terintegrasi dengan aplikasi MyMRT Life, konsep ini memungkinkan pengguna mengakses kebutuhan harian, layanan pengiriman dan pengambilan barang, produk UMKM, serta program loyalitas. Inovasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan pemanfaatan ruang stasiun dan pendapatan nontiket.
Selanjutnya, tim MRT Lodon Inovasi menghadirkan MRT FLEX, sebuah sistem pengelolaan kepadatan penumpang melalui pemberian insentif Marti Poin kepada pengguna yang bersedia menggeser waktu perjalanan dari jam sibuk ke waktu yang lebih lengang. Sistem ini diharapkan dapat membantu meratakan distribusi penumpang tanpa bergantung pada penambahan kapasitas infrastruktur.
Tim MRT Dukuh Atas Lovers mengajukan JakCool, yaitu sistem manajemen energi cerdas yang memanfaatkan data jumlah penumpang, cuaca, dan operasional kereta untuk memprediksi kebutuhan pendinginan stasiun. Melalui pengaturan HVAC secara adaptif, sistem ini diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan energi sekaligus menjaga kenyamanan pengguna.
Sementara itu, tim Sunibwell memperkenalkan MRT LOOP yang mengembangkan ekosistem Marti Poin melalui integrasi identitas perjalanan, insentif perjalanan di luar jam sibuk, serta pemanfaatan transaksi komersial untuk tenant, sponsor, dan pengiklan. Inovasi ini bertujuan meningkatkan pendapatan nontiket tanpa menaikkan tarif perjalanan.
Pembangunan MRT
Adapun tim Mandor Mandir mengusulkan Adaptive Modular Station (A.M.S.), yakni metode pembangunan stasiun menggunakan komponen modular dan fabrikasi di luar lokasi proyek (off-site).
Pendekatan ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan standardisasi konstruksi, mengurangi pekerjaan di lokasi, menyederhanakan koordinasi antardisiplin, serta mempercepat pembangunan dengan gangguan yang lebih minimal terhadap aktivitas perkotaan.
Dewan juri yang terdiri dari tim MRT Jakarta dan Marketeers menilai Adaptive Modular Station memiliki pendekatan yang relevan untuk menjawab tantangan pembangunan infrastruktur MRT, terutama dalam hal efisiensi konstruksi dan keterbatasan ruang perkotaan.
Pada lingkup pekerjaan mekanikal, elektrikal, dan perpipaan (MEP) serta drainase yang dipilih, proposal tersebut menunjukkan potensi pengurangan durasi pekerjaan dari 195 hari menjadi 135 hari atau 30,77 persen lebih cepat. Inovasi ini juga diperkirakan menghasilkan efisiensi biaya sebesar 4,23 persen dibandingkan metode konvensional.
Penerapan pendekatan modular tersebut diharapkan dapat mempercepat proses konstruksi, mengurangi kebutuhan pekerjaan di lokasi, serta meningkatkan konsistensi desain dan komponen antarstasiun dalam pengembangan jaringan MRT Jakarta.
Sebagai bentuk apresiasi, para pemenang Smart Move Challenge 2026 mendapatkan hadiah berupa uang tunai dan kesempatan mengikuti program magang di MRT Jakarta.


Inovasi
Selain itu, MRT Jakarta akan mengkaji lebih lanjut berbagai inovasi yang dihasilkan melalui kompetisi tersebut. Gagasan yang sesuai dengan kebutuhan dan prioritas pengembangan perusahaan berpotensi diimplementasikan untuk mendukung peningkatan proses bisnis MRT Jakarta.
Tim Mandor Mandir terdiri dari lima mahasiswa, yaitu Radithya Al Fattan Pratomo, Valentino Yesa Hanbyran, Laksyeri Samudera A.H., Albertus Adiwangsa Y, dan Hilarius Veda Daniswara.
Mewakili timnya, Laksyeri Samudera menyampaikan apresiasi kepada MRT Jakarta dan Marketeers atas penyelenggaraan kompetisi serta kesempatan yang diberikan kepada mahasiswa untuk menyampaikan gagasan inovatif.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada PT MRT Jakarta (Perseroda) dan Marketeers atas penyelenggaraan dan kesempatan yang telah diberikan hingga kami dapat mengikuti kompetisi ini. Semoga tahun depan makin banyak lagi peserta yang ikut dengan berbagai macam inovasi yang lebih baik,” pungkas Laksyeri. (CHI)
Baca Juga: Hutama Karya Teken Komitmen Jaga Mutu Konstruksi Jalan Tol












