Home Berita Jawa Barat Hadapi Darurat Sampah, TPST Sentiong Jadi Solusi Inovatif di Kota Cimahi

Jawa Barat Hadapi Darurat Sampah, TPST Sentiong Jadi Solusi Inovatif di Kota Cimahi

Share

CIMAHI, LINTAS – Provinsi Jawa Barat tengah menghadapi darurat sampah. Untuk menanggulangi masalah tersebut, pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sentiong di Kota Cimahi dinilai sebagai langkah strategis dan inovatif.

Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Jawa Barat, Muhammad Reva, mengatakan TPST Sentiong merupakan bagian dari upaya pemerintah mengantisipasi krisis sampah yang terus meningkat di wilayah padat penduduk seperti Jawa Barat.

“Pembangunan TPST ini merupakan inovasi untuk melihat potensi ke depan dan mengantisipasi lebih jauh darurat sampah yang kini sudah terjadi,” ujar Reva dalam kegiatan Press Tour Kementerian Pekerjaan Umum di TPST Sentiong, Cimahi, Kamis (13/11/2024).

Menurut Reva, Jawa Barat termasuk salah satu provinsi dengan produksi sampah terbesar di Indonesia, bersama Jawa Timur dan Jawa Tengah. Melalui TPST Sentiong, pemerintah fokus mengolah sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), yaitu bahan bakar alternatif pengganti batu bara yang lebih ramah lingkungan.

Membantu Menekan Volume Sampah

Bahan bakar RDF ini nantinya akan dimanfaatkan oleh industri semen dan tekstil, sehingga tidak hanya mengurangi ketergantungan pada batu bara, tetapi juga membantu menekan volume sampah yang selama ini langsung dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, menegaskan bahwa Cimahi menargetkan penerapan konsep “zero to TPA” atau tanpa ketergantungan pada TPA.

“Cimahi punya mimpi tidak lagi mengirim sampah ke TPA. Saat ini memang masih ke Sarimukti, tapi ke depan akan bekerja sama dengan pihak ketiga yang mampu mengolah dan membakar sampah,” jelasnya.

Chanifah menjelaskan, TPST Sentiong memiliki kapasitas pengolahan hingga 50 ton sampah per hari, sementara total produksi sampah rumah tangga di Kota Cimahi mencapai 230 hingga 250 ton per hari.

“Kami memiliki enam tempat pengolahan lain, tapi kapasitasnya hanya sekitar 5 sampai 10 ton per hari. Dukungan Kementerian PUPR melalui program Integrated Solid Waste Management (ISWM) sangat membantu mempercepat penanganan sampah di Cimahi,” tambahnya.

Reva menambahkan, pembangunan TPST Sentiong didanai oleh Bank Dunia dengan anggaran sebesar Rp 33,9 miliar. Fasilitas ini berdiri di atas lahan seluas 17.000 meter persegi di Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara.

Bangunan utama berupa hanggar pengolahan seluas 6.500 meter persegi, dilengkapi peralatan modern untuk memilah dan mengolah sampah secara efisien. Dari proses tersebut, TPST Sentiong mampu menghasilkan biomassa (58,6%), fluff (4,2%), dan material daur ulang (8,4%).

“Sebagian besar biomassa dicampur dengan fluff menjadi RDF, yang kemudian digunakan oleh pabrik semen sebagai substitusi batu bara. Sementara sebagian lainnya diolah di TPST Lebaksaat menggunakan teknologi larva Black Soldier Fly untuk menghasilkan pupuk dan pakan ternak,” jelas Reva. (CHI)

Baca Juga: Pastikan Kapal Aman Saat Nataru 2025/2026, Kemenhub Lakukan Uji Petik di 15 Pelabuhan

Oleh:

Share