Home Berita Banjir Aceh Tenggara Rendam 13 Desa, PU Bangun Sabo Dam dan Tanggul Sungai

Banjir Aceh Tenggara Rendam 13 Desa, PU Bangun Sabo Dam dan Tanggul Sungai

Share

JAKARTA, LINTAS – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I menangani dampak banjir di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, setelah hujan berintensitas sedang hingga tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak dini hari.

Banjir dipicu peningkatan debit Sungai Lawe Kisam dan Sungai Lawe Kinga yang menyebabkan tanggul jebol dan air meluap ke permukiman serta lahan pertanian.

Berdasarkan laporan sementara, banjir berdampak pada tujuh kecamatan dan 13 desa, dengan total 52 kepala keluarga (KK) atau 203 jiwa terdampak.

Hingga laporan terakhir, tidak ada korban jiwa maupun pengungsi. Air mulai surut, sementara pemantauan dan penanganan di lapangan masih berlangsung.

Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan, Kementerian PU terus menangani bencana hidrometeorologi melalui langkah tanggap darurat sekaligus menyiapkan penanganan jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir berulang.

“Penanganan banjir harus dilakukan secara cepat dan terukur, terutama untuk melindungi keselamatan masyarakat serta meminimalkan dampak terhadap permukiman. Selain penanganan darurat, kami juga menyiapkan langkah penanganan permanen agar risiko kejadian serupa dapat dikurangi,” ujar Dody dikutip Selasa (27/10/2026.

Lahan Sawah Rusak

Dampak banjir meliputi kerusakan dan ancaman terhadap sekitar 50 hektare lahan sawah, tanggul jebol di sejumlah lokasi, serta pohon tumbang di ruas jalan nasional Kutacane–Blangkejeren.

Sejumlah akses penghubung antarkecamatan dan jembatan juga terdampak.

Beberapa ruas jalan tidak dapat dilalui. Selain itu, oprit Jembatan Mbarung Datuk–Lawe Sikap mengalami amblesan, sedangkan ruas Jalan Pulonas Baru–Lawe Rutung mengalami abrasi sepanjang sekitar 50 meter.

Untuk mendukung penanganan darurat, Kementerian PU memobilisasi alat berat dan material ke sejumlah lokasi terdampak.

Pada 26 Oktober 2026, satu unit excavator dan sandbag dimobilisasi ke Desa Ketambe, dengan dukungan menuju workshop PU Aceh Tenggara.

Selanjutnya, pada 27 Oktober 2026, satu unit excavator dan dua unit dump truck dikerahkan untuk melakukan normalisasi Sungai Lawe Kihing di Desa Kuning.

Membuka Alur Sungai

Kepala BWS Sumatera I Asyari menjelaskan, penanganan darurat dilakukan dengan membuka kembali alur sungai dan menormalisasi segmen yang mengalami penyempitan, pendangkalan, maupun hambatan aliran.

“Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas aliran sungai dan memperlancar aliran air, sehingga genangan serta limpasan banjir di wilayah terdampak dapat segera dikurangi,” kata Asyari.

Menurut dia, penanganan darurat tersebut merupakan langkah awal yang perlu dilanjutkan dengan penanganan permanen secara terpadu, mulai dari hulu hingga muara sungai.

“Penanganan banjir tidak cukup hanya dilakukan pada lokasi yang terdampak. Diperlukan penanganan yang menyeluruh terhadap sistem sungai, mulai dari bagian hulu, sepanjang alur sungai, hingga ke muara,” tuturnya.

Asyari menambahkan, dengan pendekatan terpadu ini, pihaknya berharap kapasitas sungai dalam mengalirkan debit banjir dapat ditingkatkan, pengendalian sedimen dapat dilakukan dengan lebih baik, dan risiko luapan sungai terhadap masyarakat dapat dikurangi.

Penanganan Permanen

BWS Sumatera I merencanakan dimulainya penanganan permanen pada Oktober 2026, dengan target penyelesaian keseluruhan pada Desember 2028.

Program ini mencakup tiga komponen utama, yaitu pembangunan sabo dam di hulu, pembangunan tanggul pengamanan banjir, serta pengerukan dan penataan muara sungai.

Pertama, pembangunan sabo dam di bagian hulu ditujukan untuk mengendalikan material sedimen dan aliran debris, mengurangi material yang terbawa ke hilir, serta menjaga kapasitas dan fungsi alur sungai.

Kedua, pembangunan tanggul pengamanan atau pengendalian banjir akan dilakukan pada segmen sungai yang melintasi kawasan rawan banjir.

Infrastruktur ini diharapkan dapat mengendalikan limpasan sungai dan melindungi permukiman, infrastruktur, fasilitas umum, serta lahan masyarakat dari potensi luapan.

Penataan Muara Sungai

Ketiga, pengerukan dan penataan muara sungai di bagian hilir dilakukan untuk mengurangi pendangkalan dan hambatan aliran.

Langkah ini diharapkan meningkatkan kapasitas dan kelancaran aliran air menuju laut, sehingga debit banjir dari hulu dapat dialirkan dengan lebih baik dan potensi genangan akibat hambatan di muara berkurang.

“Ketiga komponen tersebut saling mendukung dan menjadi bagian dari satu kesatuan penanganan sungai. Pengendalian sedimen di hulu, pengamanan alur sungai melalui pembangunan tanggul, serta pengerukan dan penataan muara perlu dilaksanakan secara terintegrasi agar fungsi sungai dapat berjalan lebih optimal,” tambah Asyari.

BWS Sumatera I berharap penanganan permanen tersebut dapat meningkatkan kapasitas sistem sungai dalam mengalirkan debit banjir, mengurangi risiko luapan, serta memperkuat perlindungan bagi masyarakat dan kawasan di sepanjang sungai.(CHI)

Oleh:

Share