JAKARTA, LINTAS – AirNav Indonesia memastikan kesiapan penuh dalam menghadapi lonjakan pergerakan penerbangan selama periode Angkutan Lebaran (ANGLEB) 2026. Berbagai strategi disiapkan, mulai dari pengaturan ruang udara, kesiapan personel, hingga pemanfaatan teknologi guna menjaga keselamatan dan kelancaran penerbangan.
Direktur Operasi AirNav Indonesia, Setio Anggoro, mengatakan bahwa kesiapan menghadapi angkutan Lebaran merupakan agenda rutin yang terus disempurnakan setiap tahunnya.
“Karena ANGLEB merupakan kegiatan rutin, kami selalu fokus melakukan peningkatan. Salah satu strategi utama yang kami lakukan adalah sentralisasi orkestrasi layanan navigasi penerbangan,” ujar Setio dalam Konferensi Pers Kesiapan Pelayanan Navigasi Penerbangan AirNav Indonesia pada Angkutan Lebaran 2026 di Jakarta, Senin (16/3/2026) malam.
Ia menjelaskan, AirNav mengandalkan Indonesia Network Management Center (INMC) sebagai pusat kendali operasi yang telah beroperasi selama satu tahun terakhir.
Melalui pusat ini, perencanaan dilakukan secara menyeluruh sejak pagi, siang, hingga malam hari untuk memprediksi pergerakan penerbangan serta mengantisipasi potensi gangguan.
“Secara keseluruhan, AirNav telah menyiapkan lebih dari 2.500 fasilitas navigasi penerbangan, didukung sekitar 1.700 personel Air Traffic Controller (ATC) serta 1.000 teknisi (engineer) untuk memastikan operasional berjalan optimal,” ujar Setio.

Antisipasi Delay
Dalam mengantisipasi potensi keterlambatan (delay), Setio menegaskan bahwa faktor cuaca masih menjadi tantangan utama. Namun, berdasarkan koordinasi intensif dengan BMKG, kondisi cuaca khususnya di Pulau Jawa diperkirakan lebih kondusif dibanding periode sebelumnya.
“Curah hujan sudah mulai menurun, terutama di wilayah Jawa. Sejauh ini juga belum ada delay signifikan, artinya kondisi masih terkendali,” jelasnya.
Menurutnya, AirNav juga menerapkan sejumlah strategi untuk meminimalkan dampak delay, salah satunya melalui program pengaturan keberangkatan pesawat atau delay program.
Skema ini dilakukan dengan menahan pesawat di darat agar tidak terlalu lama menunggu di udara (holding), sehingga efisiensi bahan bakar dan keselamatan tetap terjaga.
Peningkatan Bandara Soekarno-Hatta
Di sisi lain, kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang diterapkan pemerintah sejak 13 Maret 2026 turut memengaruhi pola pergerakan penerbangan. Setio mencatat adanya peningkatan trafik di Bandara Soekarno-Hatta sejak akhir pekan lalu.

“Pergerakan di Soekarno-Hatta sudah meningkat sejak Jumat dan Sabtu, bahkan sudah melampaui 1.000 pergerakan per hari. Data terakhir mencapai 1.183 pergerakan, meski masih di bawah kapasitas puncak sebelum pandemi yang bisa mencapai sekitar 1.300 pergerakan,” paparnya.
Baca Juga: AirNav Indonesia Siap Kawal Lonjakan Penerbangan Lebaran 2026
Secara tahunan, AirNav mencatat kenaikan trafik penerbangan sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, angka tersebut masih dalam batas kapasitas operasional bandara.
“Kami sudah siap secara sistem, prosedur, maupun personel. Tantangan utama tetap pada faktor cuaca, namun seluruh mitigasi sudah kami siapkan,” tutur Setio. (CHI)































