JAKARTA, LINTAS – Aktivitas pelanggan di Stasiun Ketapang, Banyuwangi, terus meningkat sepanjang Januari–Agustus 2026. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat sebanyak 553.202 aktivitas pelanggan naik dan turun, meningkat 8,50 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 509.862 aktivitas.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Stasiun Ketapang menjadi bagian dari perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia yang berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.
“Stasiun Ketapang memiliki cerita panjang sejak kereta api mencapai Banyuwangi lebih dari satu abad lalu. Perjalanannya menggambarkan perubahan peran kereta api, dari mendukung aktivitas perdagangan hingga menjadi penghubung perjalanan masyarakat menuju Banyuwangi dan Bali,” kata Anne dikutip Senin (21/9/2026).
Sejarah Stasiun Ketapang bermula dari pembangunan jaringan kereta api menuju Banyuwangi oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api negara Hindia Belanda. Lintas terakhir Mrawan–Banyuwangi sepanjang 58 kilometer selesai dibangun dan dibuka untuk umum pada 2 Februari 1903. Saat itu, Stasiun Banyuwangi menjadi stasiun ujung timur Pulau Jawa.
Stasiun tersebut juga terhubung dengan Pelabuhan Boom di kawasan Mandar yang menjadi salah satu pusat perdagangan. Selain melayani penumpang, kereta api digunakan untuk mengangkut barang yang keluar masuk Banyuwangi melalui jalur laut. Pada 1926, tercatat 12 perjalanan kereta api singgah di Stasiun Banyuwangi, melayani perjalanan pulang-pergi Kalibaru–Banyuwangi dan Kalisat–Banyuwangi.
Seiring perkembangan kawasan, pusat konektivitas Banyuwangi kemudian bergeser ke Ketapang. Aktivitas pelabuhan dipindahkan dari Pelabuhan Boom ke kawasan Ketapang sejak 1 Januari 1974. Perubahan itu mendorong pembangunan jalur baru yang menghubungkan kereta api dengan kawasan penyeberangan menuju Bali.
Jalur Kabat–Banyuwangi Baru resmi dibuka pada 7 September 1985, bersamaan dengan beroperasinya Stasiun Banyuwangi Baru. Lokasinya lebih dekat dengan Pelabuhan Ketapang sehingga pelayanan penumpang secara bertahap dialihkan dari Stasiun Banyuwangi Lama.
Pada 31 Maret 1988, Stasiun Banyuwangi Lama resmi dinonaktifkan. Sementara itu, Stasiun Banyuwangi Baru kemudian berganti nama menjadi Stasiun Ketapang pada 2019.
Tren Kenaikan
Dari sisi jumlah pelanggan, aktivitas di Stasiun Ketapang juga menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari–Agustus 2022 tercatat 277.928 aktivitas, kemudian naik menjadi 388.193 pada 2023, 449.867 pada 2024, 509.862 pada 2025, dan mencapai 553.202 aktivitas pada 2026.
Dengan demikian, dibandingkan periode Januari–Agustus 2022, aktivitas pelanggan Stasiun Ketapang pada 2026 meningkat sekitar 99,05 persen.
Lokasi stasiun yang berdekatan dengan Pelabuhan Ketapang membuat Stasiun Ketapang menjadi salah satu simpul perjalanan masyarakat di kawasan timur Pulau Jawa, termasuk bagi penumpang yang melanjutkan perjalanan menuju Pulau Bali.
“Perjalanan Stasiun Ketapang menjadi bagian dari cerita panjang perkeretaapian Indonesia. Dari stasiun yang dahulu mendukung aktivitas perdagangan melalui Pelabuhan Boom hingga menjadi simpul mobilitas masyarakat saat ini, setiap perkembangan kawasan ikut membentuk perjalanan stasiun ini,” pungkas Anne. (CHI)
Baca Juga: Terhenti karena Sengketa, Pembangunan Gedung MRP Papua Selatan Akan Dilanjutkan












