Home Berita Rel MRT Fase 1–2A Tersambung, Proyek Tembus 59 Persen

Rel MRT Fase 1–2A Tersambung, Proyek Tembus 59 Persen

Share

JAKARTA, LINTAS – Proyek pembangunan MRT Jakarta Fase 2A menunjukkan capaian penting. Rel antara Fase 1 dan Fase 2A resmi tersambung, seiring rampungnya pengecoran track bed atau lapisan dasar rel di terowongan arah utara (northbound) dari Bundaran HI menuju Thamrin.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta (Perseroda), Weni Maulina, mengatakan penyelesaian pengecoran tersebut menjadi tonggak integrasi lintas utara–selatan yang tengah dikembangkan.

“Pengecoran track bed terowongan northbound Bundaran HI–Thamrin telah selesai. Selanjutnya kami memulai pengecoran untuk jalur southbound pada segmen yang sama. Metode ini dilakukan karena kami juga bersiap untuk instalasi pintu tepi peron atau platform screen door,” ujar Weni.

Setelah segmen Bundaran HI–Thamrin, pekerjaan akan dilanjutkan pada terowongan Thamrin–Monas untuk kedua arah. MRT Jakarta menargetkan pengecoran track bed di seluruh segmen tersebut rampung pada akhir 2026.

“Kami optimistis seluruh pekerjaan sipil dapat diselesaikan pada akhir 2027. Setelah itu, tahapan integrating, commissioning, and testing (ICT) segera dilakukan sebelum operasional segmen Bundaran HI–Monas,” tambahnya.

Gunakan Rel Produksi Jepang

Pada Fase 2A ini, rel diproduksi oleh Nippon Steel di Fukuoka, Jepang. Sistem struktur rel yang digunakan adalah direct fixation track dengan bantalan beton prategang (PC Sleeper), yang dirancang memiliki usia teknis hingga 50 tahun.

Struktur ini dinilai unggul dari sisi ketahanan melintang, kemudahan konstruksi, serta kebutuhan perawatan yang lebih rendah. Selain itu, pada bagian wesel dan persilangan digunakan bantalan berbahan sintetis (Synthetic Sleeper Material).

Material sintetis tersebut dibuat dari serat kaca tunggal yang dipadukan dengan busa poliuretan melalui proses pengepresan bertekanan tinggi. Bobotnya setara kayu, tetapi memiliki ketahanan tinggi terhadap air, bahan kimia, minyak, serta memiliki isolasi listrik yang baik.

Dibandingkan bantalan beton prategang konvensional, material sintetis ini lebih ringan sehingga mempercepat waktu konstruksi dan memudahkan perawatan.

Sambungan Rel Lebih Kuat dan Stabil

Dari sisi teknologi penyambungan, proyek ini menerapkan metode Continuous Welded Rail (CWR) dengan teknik flash butt welding dan thermit welding.

Teknik flash butt welding disebut memiliki kekuatan sambungan hampir setara dengan material rel asli, lebih tahan terhadap korosi dan keausan, serta stabil terhadap perubahan suhu ekstrem. Prosesnya juga relatif lebih cepat dan menghasilkan kualitas sambungan yang lebih presisi.

Pada paket kontrak CP205 yang menangani sistem perkeretaapian dan rel, pengelasan dengan metode flash butt welding telah selesai. Hingga 25 Maret 2026, pengecoran second track bed untuk segmen Bundaran HI–Monas telah mencapai 769 meter.

Progres Lampaui Target

Secara keseluruhan, pembangunan Fase 2A hingga Maret 2026 telah mencapai 59,19 persen, melampaui target 57,52 persen. Kemajuan signifikan juga terlihat di setiap paket kontrak:

  • CP201: mencapai 92,3 persen (target 91,99 persen). Ditargetkan 95 persen konstruksi rampung akhir 2026 dan beroperasi akhir 2027.
  • CP202: mencapai 64,13 persen. Paket ini mencakup pembangunan terowongan serta Stasiun Harmoni, Sawah Besar, dan Mangga Besar dengan struktur bawah tanah empat tingkat.
  • CP203: mencapai 83,72 persen (target 82,78 persen), dengan target operasional akhir 2029.
  • CP205: mencapai 42,69 persen (target 34,58 persen).
  • CP206 (pengadaan kereta) telah memasuki tahap inception design, sedangkan CP207 masih dalam proses pengadaan.

Total progres konstruksi ditargetkan mencapai 65,03 persen pada akhir 2026.

Tujuh Stasiun Bawah Tanah

Fase 2A akan menghubungkan Bundaran HI hingga Kota sepanjang 5,8 kilometer dengan tujuh stasiun bawah tanah, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota.

Proyek ini terbagi dalam dua segmen, Bundaran HI–Harmoni, ditargetkan selesai 2027. Harmoni–Kota, ditargetkan selesai 2029

Dengan nilai investasi sekitar Rp 25,3 triliun melalui skema pinjaman kerja sama Pemerintah Indonesia dan Jepang, Fase 2A juga dikembangkan dengan konsep kawasan berorientasi transit (transit-oriented development/TOD).

Konsep ini tidak hanya membangun infrastruktur stasiun, tetapi juga mengintegrasikan kawasan sekitar menjadi ruang publik yang terhubung dengan transportasi massal, guna meningkatkan aksesibilitas dan kapasitas angkut penumpang.

Sementara itu, kelanjutan proyek ke Fase 2B dari Kota hingga Depo Ancol Barat masih dalam tahap studi kelayakan. (CHI)

Baca Juga: Sekolah Rakyat Dikejar Target, Ribuan Pekerja Diterjunkan

Oleh:

Share