Kementerian Pekerjaan Umum Qatar (Ashghal) mengumumkan dimulainya proyek konstruksi menggunakan teknologi pencetakan tiga dimensi (3D printing) pada Juni 2025. Ashghal akan membangun dua gedung sekolah di Doha, Qatar, dengan luas masing-masing 20.000 m².
DOHA, LINTAS— Proyek ini merupakan proyek konstruksi menggunakan 3D printing yang pertama kalinya di Qatar, dan akan menjadi proyek konstruksi 3D Printing yang terbesar di dunia. Eng Rashid Al-Mursel, arsitek proyek Ashghal, dalam sebuah wawancara di televisi lokal mengatakan, penggunaan teknologi 3D printing pada sektor konstruksi dilakukan untuk mempercepat proses pembangunan infrastruktur di Qatar, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
“Teknologi ini memungkinkan kami membangun dengan lebih cepat, mengurangi biaya, dan meminimalkan dampak lingkungan. Campuran beton disiapkan langsung di lokasi konstruksi sehingga mengurangi kebutuhan transportasi dan menurunkan emisi karbon. Hal ini berkontribusi pada tiga pilar utama keberlanjutan, yaitu sosial, lingkungan, dan ekonomi,” ujar Al-Mursel.
Rancangan bangunan
Setiap bangunan sekolah ini akan memiliki dua lantai yang berdiri di atas lahan seluas 100 meter x 100
meter. Bentuk bangunan sekolah akan menampilkan ciri khas gurun pasir Qatar yang unik, unsur arsitektur tradisional akan dipadukan dengan teknologi canggih. Hal ini dimungkinkan dengan penggunaan teknologi 3D printing.
“Keunggulan 3D printing adalah memungkinkan kami menciptakan struktur kompleks yang disesuaikan dengan lingkungan dan budaya setempat. Desainnya tidak hanya fungsional, tetapi juga mencerminkan identitas dan budaya Qatar,” ujar Rashid Al-Mursel.

Teknologi 3D printing mampu menciptakan berbagai bentuk unik yang biasanya sulit diwujudkan atau memakan waktu lama jika dibangun menggunakan metode konvensional.
3D printer yang digunakan
Proyek ini menggunakan dua printer 3D terbesar di dunia yang dinamakan BODXL. Printer buatan COBOD International ini khusus digunakan untuk konstruksi bangunan berskala besar. Ukurannya sebesar hanggar pesawat Boeing 737, yaitu panjang 50 meter, lebar 30 meter, dan tinggi 15 meter.
Printer ini mengekstrusi campuran berbahan dasar beton lapis demi lapis, mengikuti model digital yang sudah diprogram. Selain mampu membuat desain-desain yang kompleks, printer ini juga lebih ramah lingkungan dibandingkan metode konstruksi konvensional karena tidak menghasilkan limbah material yang banyak. Printer ini juga sangat akurat dan dapat dioperasikan secara otomatis.
Setelah dilakukan pengujian berulang, kedua printer ini dirakit di lokasi sekolah. Sebuah tim gabungan dari UCC Holding yang terdiri dari para insinyur, arsitek, ahli material, dan teknisi printer juga telah bekerja sama dengan COBOD guna menyempurnakan material cetak dan menguji ketahanannya terhadap iklim Qatar.
Tim ini juga menjalani pelatihan intensif yang mencakup segala hal mulai dari cara pengoperasian printer hingga pengendalian kualitas langsung di lapangan. Langkah ini mengukuhkan posisi Qatar sebagai pemimpin regional dalam teknologi konstruksi canggih.
Teknologi 3D printing
Teknologi konstruksi dengan 3D printing termasuk dalam metode additive manufacturing, yaitu proses produksi dengan cara menambahkan material secara bertahap, lapis demi lapis, berdasarkan desain digital.
Prosesnya dimulai dengan model rancangan digital tiga dimensi yang dibuat menggunakan perangkat lunak CAD (Computer-Aided Design). 3D printer kemudian membaca data dari rancangan digital dan mengeluarkan lapisan material satu per satu.
Setiap lapisan ditambahkan secara tepat sesuai bentuk obyek yang diinginkan, hingga obyek tiga dimensi terbentuk sepenuhnya. Material yang digunakan biasanya adalah campuran beton.
Materialnya harus cukup tebal untuk mempertahankan bentuknya ketika diekstrusi, tetapi harus cukup lentur sehingga dapat dipompa melalui selang printer. Selain itu, materialnya juga harus cepat mengeras agar lapisan tidak keburu roboh setelah dicetak.
Beberapa proyek menambahkan batang baja, jaring, atau kabel selama atau setelah pencetakan untuk menambahkan kekuatan pada struktur bangunan. Namun, ada juga yang dirancang hanya mengandalkan material cetak.
Setelah proses pencetakan selesai, para pekerja melakukan proses finishing secara manual, seperti menghaluskan dinding, menambahkan lapisan insulasi, pipa air, instalasi listrik, jendela, atap, dan melakukan pengecatan akhir.
Manfaat 3D printing
Teknologi 3D printing telah digunakan untuk membangun jembatan, sekolah, barak militer, bahkan gedung perkantoran di berbagai belahan dunia. Jembatan pertama yang dibangun menggunakan teknologi 3D printing ada di Kota Amsterdam, Belanda, yang dibangun pada 2021. Jembatan ini dilengkapi dengan sensor untuk memonitor tegangan dan penggunaan secara real-time.
Teknologi 3D printing juga dapat digunakan untuk membuat bangunan tempat penampungan darurat dengan cepat pada area yang terkena bencana alam, seperti gempa bumi atau banjir.
Di Meksiko, beberapa organisasi nirlaba juga telah menggunakan teknologi ini untuk membangun perumahan bagi penduduk miskin dengan cepat dan biaya rendah.
Saat ini, NASA dan European Space Agency juga tengah mendalami bagaimana teknologi 3D printing dapat digunakan di luar angkasa, seperti di Bulan atau Mars, dengan menggunakan regolith, yaitu pasir dan bebatuan yang ada di sana.
Baca Juga: Harmoni Tanpa Deru Mesin di Gili Trawangan
Beberapa perusahaan berusaha untuk mengurangi jejak karbon dengan cara mengembangkan material alternatif menggunakan geopolimer atau campuran tanah yang tidak membutuhkan semen konvensional. Beberapa juga menggunakan bahan berbasis tumbuhan, seperti miselium (akar jamur), dan bahkan dari plastik daur ulang.
Teknologi 3D printing bukan sekadar cara baru untuk membangun, tetapi merupakan pola pikir yang benar-benar berbeda. Teknologi ini masih dalam tahap awal, tetapi dapat mengubah cara merancang, membangun, dan tinggal. Terutama jika kecepatan, harga, kustomisasi, atau keberlanjutan menjadi hal yang dipertimbangkan. (LA)































