SUBANG, LINTAS – Pembangunan Jalan Tol Akses Patimban Paket 2 terus menunjukkan progres signifikan. Seluruh struktur jembatan pada ruas tersebut telah selesai dibangun. Namun, proyek masih menghadapi tantangan berupa kebutuhan material timbunan dalam jumlah besar serta proses pembebasan lahan yang belum sepenuhnya rampung.
Hal itu disampaikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Bebas Hambatan (JBH) 4 Provinsi Jawa Barat, Tomy Anitanata, saat ditemui Lintas, Selasa (30/6/2026), di Subang. Tomy menjelaskan, Paket 2 memiliki panjang penanganan sekitar 6,27 kilometer, dengan karakteristik pekerjaan yang didominasi konstruksi timbunan.
“Untuk Paket 2 panjang penanganannya sekitar 6,27 kilometer. Dari total tersebut, sekitar 4,7 kilometer merupakan pekerjaan timbunan, sehingga karakteristiknya hampir sama dengan Paket 1,” kata Tomy.
Menurutnya, besarnya volume timbunan membuat ketersediaan material menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan proyek.
“Sebagian besar pekerjaan kami memang membutuhkan material timbunan. Kendalanya sama seperti di Paket 1, yaitu terkait penyediaan material,” ujar Tomy.

Seluruh Struktur Jembatan Selesai
Namun di luar pekerjaan timbunan, Tomy memastikan seluruh struktur utama jembatan pada Paket 2 telah rampung dikerjakan. Paket 2 sendiri memiliki lima unit jembatan serta satu upper pass.
“Alhamdulillah, seluruh struktur jembatan sudah selesai. Yang tersisa tinggal pekerjaan perkerasan pada sebagian jembatan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pekerjaan yang belum diselesaikan meliputi perkerasan dan pilot slab, yakni struktur penghubung antara oprit timbunan dengan jembatan.
“Pilot slab memang dikerjakan paling akhir setelah timbunannya selesai karena menjadi sambungan antara timbunan dengan struktur jembatan,” jelas Tomy. Pembebasan Lahan Capai 98 Persen Selain persoalan material, proyek juga masih menghadapi kendala pembebasan lahan.
Ia mengatakan, sekitar 98 persen lahan pada Paket 2 telah berhasil dibebaskan. Meski demikian, masih terdapat sekitar 1–2 persen lahan yang belum selesai proses pengadaannya.
“Pembebasan lahannya sebenarnya sudah sekitar 98 persen. Tinggal sedikit lagi, sekitar satu sampai dua persen. Namun, ada satu bidang yang prosesnya cukup kompleks sehingga memerlukan waktu lebih lama,” tutur dia.
Berdasarkan koordinasi dengan pihak pengadaan lahan, penyelesaian bidang tersebut ditargetkan berlangsung pada Oktober 2026. Meski demikian, Tomy mengakui target tersebut masih memiliki potensi bergeser.
“Informasi terakhir dari tim pengadaan lahan ditargetkan Oktober 2026. Namun, kami juga melihat ada kemungkinan prosesnya bisa bergeser hingga 2027. Itu menjadi salah satu tantangan yang masih kami hadapi,” ujarnya.
Meski demikian, Tomy menegaskan bahwa secara teknis pelaksanaan konstruksi tidak mengalami hambatan berarti. “Kalau secara teknis sebenarnya tidak ada masalah. Pekerjaan konstruksi tetap berjalan sesuai tahapan, terutama pada area-area timbunan,” jelasnya.
Perkerasan Menggunakan Aspal dan CTB


Untuk konstruksi jalan, Tomy menjelaskan bahwa seluruh ruas utama Paket 2 menggunakan perkerasan lentur (flexible pavement) atau aspal. Lapisan konstruksi terdiri atas Agregat Kelas A setebal 15 sentimeter, dilanjutkan dengan Cement Treated Base (CTB) setebal 20 sentimeter, kemudian dilapisi perkerasan aspal. Konstruksi jalannya menggunakan aspal di sepanjang ruas utama.
“Susunannya Agregat Kelas A 15 sentimeter, kemudian CTB 20 sentimeter, lalu lapisan aspal,” terang Tomy.
Desain perkerasan tersebut mengacu pada Manual Desain Perkerasan (MDP) 2017. Spesifikasi tersebut diterapkan hampir di seluruh ruas Paket 2, pengecualian hanya terdapat pada area struktur tertentu, seperti gerbang tol (toll gate).
“Pada umumnya seluruh ruas menggunakan konstruksi yang sama. Khusus di area tertentu seperti gerbang tol menggunakan perkerasan kaku atau rigid pavement karena mempertimbangkan beban lalu lintas yang lebih tinggi,” pungkas Tomy. (PAH/CHI)
Baca Juga: Tol Akses Patimban Dipercepat, Distribusi Logistik Jawa Barat Bakal Lebih Cepat















