Buku ”Krisis Batubara PLN 2022: Refleksi bagi Ketahanan Energi” membedah peristiwa kritis di ambang pergantian tahun 2021 menuju 2022, ketika sistem kelistrikan nasional terancam pemadaman massal akibat menipisnya stok batubara di berbagai PLTU. Di tengah lonjakan harga batubara global, para produsen lebih memilih ceruk pasar ekspor yang menggiurkan dan mengabaikan kewajiban mengalokasikan 25 persen produksinya untuk pasokan dalam negeri (DMO) yang dipatok seharga maksimal 70 dolar AS per ton.

| Spesifikasi Buku | Detail |
| Harga | Rp 150.000,- |
| Ukuran | 18 X 25 Cm |
| Isi | 152 Halaman termasuk cover |
| Bahan Cover | Art Carton 260 gr |
| Bahan Isi | book paper 72 gr |
| Cetak Cover | Sparasi Warna 4/0 + Lidah + Doff+Spot UV) |
| Cetak Isi | Sparasi Warna 4/4 |
| Finishing | jilid lem panas + Plastic + Wrapping |
| ISBN | Dalam proses pengajuan |
| Versi Ebook (sampel) | https://www.majalahlintas.com/wp-content/uploads/2026/07/REFLEKSI-BAGI-KETAHANAN-ENERGI.pdf |
| Kategori | Infrastruktur |
| Tahun Terbit | 2026 |
Krisis suplai ini memaksa pemerintah mengambil langkah darurat yang tak terduga dengan melarang total ekspor batubara selama satu bulan penuh pada 1 Januari 2022 guna menyelamatkan nyawa kelistrikan 270 juta rakyat Indonesia. Lebih dari sekadar catatan sejarah, buku ini mengurai kompleksitas tata kelola energi nasional, mulai dari kelemahan sistem pengawasan, ketimpangan insentif harga, hingga masalah logistik perkapalan yang rumit. Peristiwa tersebut menjadi cermin yang membuka mata bahwa mekanisme pasar bebas tidak bisa menjadi sandaran utama bagi sektor strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak.
Sebagai refleksi untuk melangkah ke depan, buku ini menyoroti urgensi pembenahan struktural demi mewujudkan kemandirian dan swasembada energi yang solid. Buku ini juga menawarkan berbagai rekomendasi komprehensif, mulai dari perbaikan sistem logistik transportasi, pembentukan Mitra Instansi Pengelola (MIP) untuk memitigasi disparitas harga, hingga penyelarasan peta jalan hilirisasi, agar Indonesia terhindar dari kutukan sumber daya alam dan menjadikan batubara sebagai jembatan tangguh menuju era transisi energi.









