Home Berita Tol Akses Patimban Dipercepat, Distribusi Logistik Jawa Barat Bakal Lebih Cepat

Tol Akses Patimban Dipercepat, Distribusi Logistik Jawa Barat Bakal Lebih Cepat

Share

SUBANG, LINTAS – Pembangunan Jalan Tol Akses Patimban terus menunjukkan progres signifikan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diproyeksikan menjadi tulang punggung konektivitas logistik di Jawa Barat.

Kehadiran jalan tol sepanjang 37,05 kilometer ini diharapkan mampu memangkas waktu tempuh menuju Pelabuhan Patimban, menekan biaya logistik nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan investasi di kawasan industri Jawa Barat.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jalan Bebas Hambatan (JBH) 2 Provinsi Jawa Barat, Ir. Erwin Herlambang Kuncoro Putra, S.T., M.Sc., menjelaskan Jalan Tol Akses Patimban merupakan jaringan jalan khusus yang menghubungkan Jalan Tol Cipali (Trans Jawa) dengan Pelabuhan Internasional Patimban.

“Jalan Tol Akses Patimban merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang berfungsi sebagai jaringan jalan khusus untuk menghubungkan Jalan Tol Cipali dengan Pelabuhan Internasional Patimban,” ujar Erwin saat ditemui Lintas di kantornya, Subang, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, pembangunan jalan tol tersebut menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Dalam pembagian tugas tersebut, pemerintah bertanggung jawab membangun ruas yang berada di sisi Pelabuhan Patimban, sedangkan koneksi dari Jalan Tol Cipali dikerjakan oleh PT Jasamarga Akses Patimban selaku Badan Usaha Jalan Tol (BUJT).

Erwin menjelaskan, ruas yang dibangun oleh BUJT memiliki panjang sekitar 14,11 kilometer, sedangkan pemerintah membangun ruas sepanjang 22,94 kilometer. Dengan demikian, total panjang Jalan Tol Akses Patimban mencapai sekitar 37,05 kilometer.

Pangkas Waktu Tempuh Jadi 23 Menit

Erwin mengatakan, pembangunan Jalan Tol Akses Patimban memiliki sejumlah manfaat strategis, terutama dalam meningkatkan efisiensi distribusi barang dari kawasan industri menuju pelabuhan.

Ia menyebut, jalan tol tersebut akan memperpendek waktu perjalanan dari kawasan industri menuju pusat logistik di Pelabuhan Patimban. Dengan kecepatan rencana sekitar 100 kilometer per jam, perjalanan diperkirakan hanya memerlukan waktu sekitar 23 menit.

Selain memangkas waktu tempuh, efisiensi perjalanan tersebut diharapkan dapat menurunkan biaya logistik nasional sehingga distribusi barang menjadi lebih kompetitif.

“Harapannya biaya logistik bisa ditekan karena waktu distribusi menjadi lebih singkat dan efisien,” jelasnya.

Kurangi Beban Trafik Logistik Tanjung Priok

Lebih lanjut, Erwin menuturkan keberadaan Jalan Tol Akses Patimban juga akan memperkuat aktivitas ekspor dari kawasan-kawasan industri besar di Jawa Barat seperti Cikarang, Cibitung, dan Karawang.

Selama ini, sebagian besar arus traffic logistik dari kawasan industri masih bergantung pada Pelabuhan Tanjung Priok. Dengan beroperasinya Tol Akses Patimban, distribusi barang diharapkan menjadi lebih merata.

“Ya, salah satu tujuannya untuk pembagian beban traffic logistik. Jadi tidak semuanya bertumpu menuju Tanjung Priok,” kata Erwin saat menjelaskan tujuan pembagian arus logistik.

Menurutnya, distribusi lalu lintas logistik tersebut tidak hanya mengurangi kepadatan di Pelabuhan Tanjung Priok, tetapi juga meningkatkan efisiensi rantai pasok nasional.

Selain itu, pengembangan Pelabuhan Patimban diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Barat sehingga keberadaan jalan tol ini memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas industri dan perdagangan.

“Pelabuhan Patimban nantinya akan menjadi simpul logistik yang sangat penting bagi Jawa Barat,” ujarnya.

Pemerintah Bangun Empat Paket Pekerjaan

Dalam pelaksanaannya, pembangunan Jalan Tol Akses Patimban dibagi menjadi beberapa paket pekerjaan. Untuk ruas yang dikerjakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) terdapat dua paket pekerjaan, sedangkan ruas sepanjang 22,94 kilometer yang menjadi tanggung jawab pemerintah dibagi menjadi empat paket, yaitu Paket 1, Paket 2, Paket 3, dan Paket 4.

Erwin menjelaskan, pembangunan yang dilakukan BUJT dimulai pada Kuartal I Tahun 2026 dan sesuai kontrak ditargetkan selesai pada Kuartal II Tahun 2027.

Sementara itu, pekerjaan pemerintah dimulai pada waktu yang berbeda. Paket 1 sampai Paket 3 mulai dikerjakan pada Kuartal I Tahun 2024, sedangkan Paket 4 telah dimulai lebih awal, yakni Kuartal IV Tahun 2023.

Seluruh paket awalnya memiliki durasi pelaksanaan sekitar 700 hari kalender. Namun, setelah dilakukan amendemen kontrak terakhir berupa Extension of Time (EOT), target penyelesaian mengalami penyesuaian.

“Paket 1 sampai Paket 3 ditargetkan selesai pada Kuartal IV Tahun 2026 atau akhir Desember 2026, sedangkan Paket 4 ditargetkan selesai pada Maret 2027,” terang Erwin.

Ia menjelaskan keterlambatan penyelesaian Paket 4 disebabkan adanya kendala pembebasan lahan di kawasan interchange menuju Pelabuhan Patimban.

“Karena ada kendala pembebasan lahan di area interchange menuju pelabuhan,” ungkap dia.

Meski demikian, Erwin mengakui target tersebut masih terus dievaluasi karena sejumlah faktor seperti pembebasan lahan, ketersediaan material konstruksi, kondisi cuaca, dan dinamika pelaksanaan di lapangan berpotensi memengaruhi jadwal pelaksanaan proyek.

Penyelesaian proyek diperkirakan dapat mengalami penambahan waktu hingga sekitar September 2027 apabila kendala-kendala kritis tersebut belum terselesaikan sesuai rencana.

Fokus Pekerjaan di Lapangan

Untuk ruas yang menjadi tanggung jawab pemerintah sepanjang 22,94 kilometer, progres fisik pembangunan hingga 28 Juni 2026 tercatat telah mencapai 69,131 persen.

Erwin mengatakan, saat ini pelaksanaan pembangunan Jalan Tol Akses Patimban difokuskan pada penyelesaian struktur utama seperti jembatan dan jalan lintas atas (overpass), pekerjaan drainase, serta penyiapan badan jalan termasuk pekerjaan tanah pada sejumlah titik prioritas.

Selain itu, percepatan juga terus dilakukan pada pekerjaan di jalur kritis (critical path), khususnya pekerjaan timbunan dengan metode preloading guna menjaga target penyelesaian konstruksi.

Menurutnya, percepatan dilakukan melalui optimalisasi sumber daya, penambahan alat berat, serta penerapan metode kerja yang lebih adaptif terhadap kondisi lapangan sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan lebih efektif dengan tetap mengutamakan mutu konstruksi dan keselamatan kerja.

Dikerjakan Empat Konsorsium Besar

Adapun pelaksanaan konstruksi masing-masing paket dilakukan oleh sejumlah kontraktor nasional, yaitu:
Paket 1 dikerjakan oleh PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. 
Paket 2 dikerjakan oleh Waskita – Abipraya JO. 
Paket 3 dikerjakan oleh Hutama Karya – Jaya Konstruksi Joint Operation. 
Paket 4 dikerjakan oleh WIKA – Adhi Joint Operation. 

Sementara pengawasan proyek dilakukan melalui kontrak supervisi yang melibatkan konsultan asal Jepang Oriental Consultants Global (OCG) bersama sejumlah konsultan lokal.

Dengan progres pembangunan yang terus berjalan, Jalan Tol Akses Patimban diharapkan segera menjadi koridor utama distribusi logistik nasional, memperkuat daya saing kawasan industri Jawa Barat, sekaligus mendukung optimalisasi operasional Pelabuhan Patimban sebagai salah satu gerbang ekspor-impor baru Indonesia sehingga dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan dunia usaha di Jawa Barat.(PAH/CHI)

Baca Juga: Sekolah Rakyat Cirebon Tampil Beda, Gapuranya Angkat Budaya Kesultanan

Oleh:

Share