Home Berita PJT II Genjot Akurasi Pasokan Air: Pengawasan 24 Jam hingga Penguatan Proyek SPAM Regional

PJT II Genjot Akurasi Pasokan Air: Pengawasan 24 Jam hingga Penguatan Proyek SPAM Regional

Share

KARAWANG, LINTAS – Perum Jasa Tirta (PJT) II terus memperkuat strategi layanan air irigasi di Jawa Barat melalui perencanaan berbasis data terbaru. Setiap tahun, perusahaan melakukan pembaruan data mengenai total lahan sawah yang memerlukan suplai air. Informasi ini digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menentukan luasan area yang akan dialiri.

“Setiap tahun kami selalu melakukan updating berapa luas area yang harus diairi. Data ini menjadi referensi atau input bagi Pak Gubernur Jawa Barat untuk menetapkan berapa luas area yang harus diairi setiap tahunnya,” tegas Herry Rachmadyanto, Kepala Divisi Operasi dan Pemeliharaan SDA&SDL PJT II, dalam kegiatan Media Gathering di Karawang, Jawa Barat, Selasa (25/11/2025).

Perhitungan Kebutuhan Irigasi Lintas Wilayah

Setelah data lahan diperoleh, PJT II langsung menyusun proyeksi kebutuhan air irigasi. Perhitungan ini mencakup sejumlah wilayah seperti Karawang, Bekasi, Subang, dan Indramayu agar distribusi tetap merata.

Herry menambahkan bahwa PJT II selalu mengevaluasi kemampuan dua sumber air utama—aliran sungai dan Bendung Juanda—sebelum menentukan total suplai.
“Kedua sumber ini coba kami hitung kira-kira berapa yang bisa dipenuhi oleh sungai-sungai tersebut, sehingga sisa kebutuhannya kami tambahkan dari Bendung Juanda,” ujarnya.

Untuk menjaga kelancaran suplai air, PJT II menerapkan pola pengawasan 24 jam. Petugas lapangan memantau aliran setiap hari dan mengumpulkan laporan mingguan di tingkat kecamatan. Hasil pemantauan kemudian dibahas dalam rapat rutin dua mingguan untuk mengevaluasi capaian distribusi dan mempercepat penyelesaian kendala.

Selain itu, PJT II juga melakukan koordinasi bulanan dengan BBWS dan sejumlah instansi terkait untuk memprediksi kebutuhan irigasi satu bulan ke depan.
“Ini adalah rangkaian kegiatan baik dari sisi perencanaan, kemudian pelaksanaan 24 jam, dan juga pemantauan untuk mendukung program beliau Pak Presiden,” tutur Herry.

Progres Proyek Bendungan dan Manfaatnya

Sejumlah proyek bendungan kini terus digenjot untuk memperluas kapasitas penyimpanan air. Herry menyebut Bendungan Cibet dan Cijurai sebagai proyek yang sedang dibangun, sementara Bendungan Cipamikis direncanakan mulai konstruksi pada 2026 atau 2027.

Bendungan-bendungan tersebut nantinya memberikan manfaat ganda, baik untuk irigasi, pelayanan air bersih, maupun pengurangan risiko banjir di wilayah layanan PJT II.

PJT II juga terlibat dalam pembangunan SPAM Regional yang masuk kategori proyek strategis nasional. Proyek yang memakai skema KPBU ini disebut sebagai SPAM terbesar di Indonesia dan berada di Wilayah Sungai Citarum.

“Projek ini adalah projek KPBU SPAM terbesar di Indonesia, dan terletak di WS Citarum yang menjadi wilayah kerja PJT II,” jelas Anton Mardiyono, Tenaga Ahli PJT II.

Sesuai aturan kelembagaan, PJT II berperan sebagai pemegang izin sekaligus pihak yang terlibat dalam transaksi pengadaan air bersih. Dalam skema ini, badan usaha memproduksi air bersih, BUMN membelinya, dan PJT II menyalurkan pembayaran sesuai alokasi untuk investor, operator, dan perusahaan.

Anton menegaskan bahwa PJT II juga memastikan suplai air baku dari Tarum Barat tetap aman selama proyek berjalan.
“Keterlibatan PJT II secara langsung yang lain adalah pasok air bakunya. Karena ini ada di Tarum Barat, maka pasok air bakunya menjadi tanggung jawab PJT II,” ungkapnya.(GIT)

Baca Juga: PU Salurkan Bansos untuk Pengungsi Semeru

Share