Home Berita Pengamat INSTRAN: NTT Sangat Membutuhkan Bus Angkutan Perintis

Pengamat INSTRAN: NTT Sangat Membutuhkan Bus Angkutan Perintis

Share

Kepala BPTD NTT, Robert Tall, menyebut kehadiran operator baru ini memberikan peningkatan layanan dengan armada yang lebih baru dan nyaman.

Sebagai ilustrasi, layanan Perum DAMRI untuk rute Kupang–Ayotupas sepanjang 232 km hanya mematok tarif Rp 50.000. Untuk rute Soe–Ayotupas (122 km) tarifnya Rp 30.000, sedangkan Niki-niki–Ayotupas (96 km) dikenakan Rp 25.000.

“Tarif ini sangat meringankan warga, apalagi dengan kondisi jalan yang naik turun dan sering becek. Tanpa subsidi, ongkos seperti ini mustahil terwujud,” kata Darmaningtyas.

Fluktuasi Jumlah Penumpang

Data lima tahun terakhir menunjukkan tingkat keterisian bus angkutan perintis di NTT cenderung fluktuatif dan rendah.
Contohnya, pada rute Kupang–Naimata (20 km), tingkat keterisian hanya 7,54% pada 2020 dan sempat turun drastis menjadi 0,67% di 2023, sebelum naik ke 13,15% di 2024.
Rute Kefamenanu–Naob sempat mencapai keterisian 46,26% pada 2020, namun merosot menjadi 1,95% di 2024.

Pola serupa juga terjadi di Flores dan Sumba. Di rute Waingapu–Tanarara–Kananggar (119 km), tingkat keterisian turun dari 25,31% (2020) menjadi 1,39% (2024), sebelum naik lagi ke 24,92% hingga pertengahan 2025.

Meski demikian, Darmaningtyas menegaskan, turunnya jumlah penumpang tidak boleh dijadikan alasan untuk menghentikan kebijakan angkutan perintis.

“Justru perlu dilakukan kajian untuk mencari penyebab penurunan dan strategi penguatan layanan agar perannya semakin optimal,” katanya.

Kebutuhan Sarana Baru

Salah satu faktor penurunan jumlah penumpang adalah kondisi armada yang sudah tua dan terbatas jumlahnya. Sebagian besar bus berusia lebih dari 10 tahun, dan sering kali hanya satu unit yang melayani satu rute.

“Dengan hanya satu bus di satu rute, layanan tidak bisa maksimal. Misalnya, bus berangkat dari Kupang ke Ayotupas hari Senin, baru bisa kembali melayani arah sebaliknya pada Selasa,” jelasnya.

Selain itu, jenis kendaraan yang digunakan juga belum sesuai dengan kondisi geografis NTT yang berbukit dan jalan rusak. Masyarakat NTT pun membutuhkan kendaraan yang tidak hanya mengangkut orang, tapi juga barang hasil pertanian, hutan, atau laut.

Oleh:

Share