Home Berita Pembangunan Bendungan Bagong di Trenggalek Capai 23 Persen

Pembangunan Bendungan Bagong di Trenggalek Capai 23 Persen

Share

Jakarta, Lintas — Pembangunan Bendungan Bagong di Trenggalek, Jawa Timur, telah mencapai 23,087 persen. Nantinya, bendungan tersebut akan terintegrasi dengan jaringan irigasi.

Bendungan Bagong dibangun oleh PT Brantas Abipraya (Persero). Pembangunan bendungan tersebut dimulai sejak Desember 2018.

Bendungan Bagong terletak di Desa Sumurup dan Sengon yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat Kabupaten Trenggalek.

Sumber air bendungan berasal dari Sungai Bagong dengan luas Daerah Aliran Sungai (DAS) 39,95 kilometer persegi.

Tujuan Pembangunan

Menurut Direktur Operasi I Brantas Abipraya Muhammad Toha Fauzi dalam keterangan tertulis, Senin (3/7/2023), pembangunan bendungan ini bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan Daerah Irigasi (DI) di Trenggalek seluas 857 hektare.

Tak hanya itu, Bendungan Bagong diproyeksikan untuk mendukung kebutuhan air baku di Kecamatan Pogalan, Trenggalek.

Baca juga: Bendungan Bagong Trenggalek Lengkapi Proyek 8 Waduk di Jawa Timur

Bendungan Bagong Trenggalek | Foto: Kementerian PUPR
Bendungan Bagong Trenggalek | Foto: Kementerian PUPR

Hal ini karena Bendungan Bagong berkapasitas tampung 17,40 juta meter kubik.

Bendungan Bagong juga berfungsi untuk mengurangi debit air Sungai Bagong sebesar 78,44 persen sekaligus DAS serta potensi pariwisata.

Singkatnya, Bendungan Bagong merupakan bendungan multiguna yang berfungsi sebagai pengendali banjir, sumber air baku, sumber daerah irigasi, sumber pembangkit listrik, dan juga pariwisata.

Optimis Tepat Waktu

Bendungan Bagong di Trenggalek. | Dokumentasi PUPR
Bendungan Bagong di Trenggalek. | Dokumentasi PUPR

“Bendungan Bagong ini didesain dengan tipe urugan zonal dengan tinggi puncak Inti Tegak 82 meter dan Panjang 678 meter. Kami targetkan bendungan ini rampung tepat waktu sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat sekitar,” ujar Direktur Operasi I Brantas Abipraya Muhammad Toha Fauzi.

Toha menambahkan, pihaknya tetap fokus dalam penyelesaian Bendungan Bagong agar tuntas tepat waktu, tepat biaya, tepat mutu serta kerapihannya tanpa melupakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

“Kami optimis adanya bendungan ini nantinya dapat menjadi solusi persoalan dalam suplai air untuk mendukung ketahanan pangan daerah,” tandasnya. (BAS)

Baca Juga: 7 Waduk Terkeren di Indonesia, Mana Favoritmu?

Share