JAKARTA, LINTAS – Pemulihan layanan air bersih menjadi salah satu prioritas penanganan pascagempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan pemeriksaan dan perbaikan sarana-prasarana air minum di sejumlah wilayah terdampak untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat harus segera diperiksa dan ditangani sesuai kondisi di lapangan. Akses terhadap air bersih dan sanitasi menjadi perhatian utama karena sangat dibutuhkan masyarakat, khususnya di wilayah terdampak bencana dan lokasi pengungsian.
“Yang penting sekarang bagaimana kebutuhan masyarakat bisa segera kita layani. Karena itu, infrastruktur yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar, termasuk sarana air bersih dan sanitasi, harus segera kita cek dan tangani sesuai kondisi di lapangan,” kata Dody dikutip Rabu (19/8/2026).

Periksa Sarana Air Minum di Tiga Kabupaten
Penanganan dilakukan Kementerian PU melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPBPK) NTT dengan memeriksa sarana dan prasarana air minum di sejumlah daerah terdampak, antara lain Kabupaten Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Pemeriksaan meliputi kondisi Instalasi Pengolahan Air (IPA), jaringan perpipaan, sarana distribusi air, hingga tampungan air yang digunakan masyarakat. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan sekaligus menentukan kebutuhan penanganan di setiap lokasi.
Salah satu perbaikan dilakukan pada jaringan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Inpres 2024 IKK Nangaba di Kabupaten Ende. Kerusakan pada jaringan sempat mengganggu distribusi air bersih kepada masyarakat.
Bersama PDAM Kabupaten Ende, Kementerian PU melakukan perbaikan sejak 16 Agustus 2026. Penanganan rampung pada malam 17 Agustus 2026 dan setelah perbaikan selesai, aliran air kembali tersalurkan hingga ke sambungan rumah masyarakat.
Selain pemeriksaan dan perbaikan, Kementerian PU juga melibatkan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas). Tim tersebut membantu mendata kondisi sarana air minum sekaligus melakukan penanganan awal terhadap fasilitas yang mengalami gangguan.
Tambah Personel dan Mobil Tangki Air
Untuk memperkuat penanganan, sebanyak 10 personel tambahan diberangkatkan dari Kupang. Mereka ditugaskan mendukung pemeriksaan dan penanganan sarana air minum di Maumere, Ende, dan Nagekeo.
Tim tambahan tersebut akan mengecek kondisi infrastruktur sekaligus mengidentifikasi kebutuhan dukungan lanjutan di masing-masing wilayah terdampak.
Sementara di Kabupaten Nagekeo, Kementerian PU telah mengerahkan tiga unit Mobil Tangki Air (MTA) untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Dua unit telah berada di lokasi, sedangkan satu unit lainnya merupakan MTA pinjam pakai yang sebelumnya digunakan dalam penanganan banjir di Mauponggo.
Kementerian PU juga menyiapkan 16 unit Hidran Umum (HU), yang terdiri atas delapan unit dukungan yang tersedia saat ini dan delapan unit pinjam pakai.
Dukungan serupa disiapkan di Kupang dengan menyiagakan dua unit mobil tangki air dan satu unit truk tinja untuk mendukung kebutuhan penanganan bencana.
Inventarisasi Pengungsian
Menteri Dody menegaskan, penanganan infrastruktur air minum dilakukan secara bertahap berdasarkan hasil pemeriksaan dan tingkat kebutuhan di setiap wilayah.
“Kita akan terus lakukan pengecekan dan inventarisasi di lapangan supaya penanganannya tepat sasaran. Kalau sumber air dan jaringan masih bisa difungsikan, kita optimalkan. Kalau belum, kita siapkan alternatif agar masyarakat tetap mendapatkan layanan air bersih selama masa tanggap darurat,” ujarnya.
Kementerian PU juga terus melakukan inventarisasi lokasi pengungsian untuk memastikan kebutuhan air bersih dan sanitasi dapat dipenuhi dengan cepat.
Apabila kebutuhan di lapangan meningkat, mobilisasi sarana dan prasarana air minum akan dilakukan dari luar NTT, termasuk dari depo di Surabaya.
Pemenuhan air bersih akan dioptimalkan melalui SPAM maupun PDAM selama jaringan masih tersedia dan dapat berfungsi. Sementara di lokasi yang jaringan perpipaannya mengalami kerusakan atau belum tersedia, dukungan akan diberikan melalui mobil tangki air, hidran umum, tampungan air, serta sarana pendukung lainnya. (CHI)
Baca Juga: Pascagempa NTT, Sumber Air Baru Disiapkan untuk 7.000 Warga Pulau Palue












