JAKARTA, LINTAS – PT MRT Jakarta tengah mempersiapkan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk proyek MRT East–West Line Fase 2 di sisi barat yang mengarah ke wilayah Banten. Proyek ini diharapkan dapat dipercepat melalui skema developer contribution.
Salah satu rencana yang tengah dipersiapkan adalah perpanjangan jalur MRT dari Kembangan Jakarta hingga Balaraja, Tangeran, Banten dengan panjang sekitar 30 kilometer.
Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tuhiyat, menjelaskan bahwa kemacetan di Jakarta tidak terlepas dari tingginya mobilitas masyarakat yang datang dari daerah penyangga seperti Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Bogor, dan Bekasi.
“Setiap hari penumpang yang masuk ke Jakarta berasal dari berbagai wilayah penyangga. Karena itu, MRT Jakarta saat ini aktif mendorong dan menggerakkan pemerintah daerah agar konektivitas transportasi massal bisa diperluas,” ujar Tuhiyat dalam Forum Jurnalis MRT, Selasa (27/1/2026) di Jakarta.

Komunikasi Intensif
Menurut Tuhiyat, untuk pengembangan jalur Kembangan–Balaraja, MRT Jakarta telah menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi Banten, Kabupaten Tangerang, serta Kementerian Perhubungan.
“Kami sudah berkomunikasi dengan Pak Gubernur Jakarta, Gubernur Banten, hingga para bupati. Prinsipnya, semua sepakat untuk melanjutkan ke tahap kajian,” jelasnya.
Kajian tersebut meliputi berbagai aspek, mulai dari pengembangan kawasan perumahan, skema pembiayaan, hingga perencanaan trase dan lokasi stasiun.
Hasil kajian tersebut nantinya akan dituangkan dalam bentuk Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang ditargetkan dapat dilakukan dalam beberapa bulan ke depan.
Tuhiyat menambahkan, dalam pengembangannya, MRT Jakarta juga membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta, khususnya para pengembang kawasan. Tuhiyat menyebutkan, sedikitnya terdapat tujuh pengembang besar atau developer yang siap bekerja sama.
Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad H. Mahfud menambahkan saat ini pihaknya sedang mempersiapkan signing MoU untuk MRT East–West Line Fase 2 di sisi Banten.
“Kami ingin mendorong pengembangan dengan menggunakan skema developer contribution,” sambung Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta, Farchad H. Mahfud.
“Kami mencoba mengusulkan skema yang membuat fiskal negara lebih efisien. Caranya dengan menggandeng para developer di sepanjang koridor jalur tersebut,” kata Tuhiyat.
Skema KPBU
Ia menjelaskan, salah satu skema yang tengah didorong adalah Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), khususnya untuk pembangunan area stasiun dan kawasan sekitarnya.
“Kalau developer bisa membangun stasiun dan area pendukungnya, itu bisa mencapai sekitar 60 persen dari total biaya proyek. Negara nantinya cukup membangun jalurnya saja sekitar 40 persen,” kata Tuhiyat.
Skema tersebut dinilai signifikan dalam menekan biaya pembangunan, sekaligus mendorong integrasi transportasi massal dengan kawasan hunian dan komersial.
“Semangatnya adalah membangun infrastruktur transportasi massal yang modern, terintegrasi, tetapi tetap efisien dari sisi fiskal negara,” pungkasnya. (CHI)
Baca Juga: Besok Rabu, Stasiun Jatake Mulai Beroperasi
























