Gambaran Meikarta sebagai kawasan yang sempat terhenti perlahan mulai berubah. Peninjauan langsung Majalah Lintas pada Kamis (24/9/2026) memperlihatkan aktivitas yang kembali tumbuh di sejumlah bagian kawasan hunian di Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi.
Tower-tower apartemen telah berdiri, sebagian hunian telah ditempati, sementara pusat kuliner, tenant, ruang terbuka, fasilitas olahraga hingga panggung kegiatan mulai digunakan masyarakat.
Peninjauan tersebut dilakukan Lintas untuk melihat secara langsung kondisi Meikarta saat ini, setelah kawasan tersebut selama beberapa tahun lekat dengan pemberitaan mengenai persoalan pembangunan dan terhentinya sejumlah aktivitas proyek.
Dalam kunjungan lapangan itu, tim Lintas berbincang dengan Tesla, sales marketing Meikarta, di kawasan Distrik 2 atau Meikarta West. Dari percakapan tersebut, diperoleh gambaran mengenai perkembangan kawasan, pilihan hunian, fasilitas, akses, serta perbedaan aktivitas antara Distrik 1 dan Distrik 2.
Bagi Lintas, melihat langsung kondisi kawasan menjadi penting untuk memperoleh gambaran faktual mengenai Meikarta pada 2026. Sebab, persepsi masyarakat terhadap kawasan tersebut tidak selalu sejalan dengan kondisi yang terlihat di lapangan.
“Kiranya Meikarta tuh mangkrak,” demikian gambaran yang muncul dalam percakapan ketika membicarakan persepsi masyarakat terhadap Meikarta. Karena itu, tim Lintas memilih melihat langsung kondisi kawasan dan berbincang dengan pihak yang sehari-hari beraktivitas di dalamnya.


Tower Hunian Telah Berdiri
Dari peninjauan di kawasan Distrik 1, tim Lintas melihat deretan tower apartemen yang telah berdiri. Menurut Mas Tesla, Distrik 1 memiliki 28 tower. Beberapa tower menggunakan satu nama untuk dua bangunan, seperti Newton 1 dan Newton 2.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kawasan hunian di Meikarta saat ini telah memiliki struktur bangunan yang cukup besar. Sejumlah tower bukan lagi sekadar bagian dari pembangunan fisik, tetapi telah menjadi lingkungan tempat tinggal bagi penghuni.
Sementara itu, kawasan Distrik 2 atau Meikarta West memiliki karakter bangunan yang berbeda. Mas Tesla menjelaskan, kawasan tersebut memiliki delapan tower high-rise dan sejumlah bangunan low-rise.
Bangunan low-rise memiliki ketinggian sekitar lima lantai, sedangkan bangunan high-rise rata-rata memiliki ketinggian sekitar 30 lantai. Beberapa di antaranya mencapai sekitar 33 hingga 41 lantai.
Perbedaan karakter bangunan tersebut juga diikuti variasi tipe hunian. Pada sejumlah tower high-rise tersedia unit studio dengan luas sekitar 21 hingga 24 meter persegi. Sementara pada bangunan low-rise tersedia tipe satu kamar tidur dengan luasan sekitar 35 hingga 40 meter persegi.
Untuk harga, Tesla menyampaikan bahwa unit studio berada di kisaran Rp 300 jutaan. Sementara unit satu kamar tidur berada pada kisaran menuju Rp 500 juta. Terdapat pula pilihan unit dua kamar tidur dengan luas sekitar 42 meter persegi dengan harga sekitar Rp 450 jutaan.
Adapun tipe tiga kamar tidur dengan luas sekitar 68 meter persegi disebut berada pada kisaran Rp 700 juta sebelum memperhitungkan fasilitas perpajakan yang berlaku dalam penawaran.
Distrik 1 Lebih Aktif
Perbedaan kondisi cukup terlihat ketika tim Lintas membandingkan Distrik 1 dengan Distrik 2.
Distrik 1 saat ini terlihat lebih aktif. Aktivitas warga berlangsung di sejumlah area komersial dan ruang publik. Food court, tenant makanan, panggung outdoor serta ruang kegiatan menjadi bagian dari kehidupan kawasan.
Seorang petugas kebersihan yang ditemui Lintas di kawasan pusat food court dan panggung outdoor Distrik 1 mengatakan dirinya telah bekerja sekitar dua tahun di kawasan tersebut.
Menurutnya, kegiatan di area tersebut cukup ramai, terutama pada akhir pekan. Pertunjukan musik juga digelar pada Jumat, Sabtu dan Minggu. Ia menyebut sejumlah tower di Distrik 1 juga telah ditempati dan terisi.
Keterangan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa aktivitas di Meikarta saat ini tidak hanya berlangsung pada sektor hunian. Sejumlah ruang publik dan komersial telah menjadi tempat masyarakat beraktivitas.
Kondisinya berbeda dengan Distrik 2. Tesla menjelaskan bahwa kawasan tersebut masih memiliki aktivitas tenant yang lebih terbatas sehingga suasananya relatif lebih sepi dibandingkan Distrik 1.
Perbedaan itu memperlihatkan bahwa perkembangan Meikarta belum berlangsung dengan tingkat aktivitas yang sama di seluruh kawasan.
Ada bagian yang telah berkembang menjadi lingkungan dengan aktivitas masyarakat yang cukup terlihat, sementara bagian lainnya masih dalam proses pengembangan.


Central Park Jadi Ruang Terbuka
Salah satu fasilitas yang menjadi bagian penting kawasan adalah Meikarta Central Park.
Menurut Tesla, kawasan tersebut memiliki ruang terbuka sekitar 105 hektar yang dilengkapi danau, jogging track, lapangan olahraga serta wahana bagi anak-anak.
Central Park tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga digunakan untuk kegiatan masyarakat. Kawasan tersebut disebut kerap menjadi lokasi berbagai acara dan kegiatan. Pada malam hari, aktivitas di kawasan juga lebih terasa dibandingkan pada siang hari.
Keberadaan ruang terbuka menjadi salah satu elemen yang mendukung perkembangan kawasan hunian. Penghuni tidak hanya membutuhkan tempat tinggal, tetapi juga ruang untuk berolahraga, berinteraksi, dan melakukan kegiatan bersama keluarga.
Dari sisi fasilitas pendidikan, Tesla menyebut terdapat sejumlah sekolah di sekitar kawasan Lippo Cikarang. Di kawasan tersebut juga telah hadir Universitas Paramadina. Keberadaan fasilitas pendidikan di sekitar kawasan menjadi salah satu pendukung aktivitas penghuni, khususnya keluarga.
Selain hunian dan fasilitas, aksesibilitas menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pengembangan kawasan.
Tesla menyebut kedekatan dengan pintu tol, pusat pemerintahan Kabupaten Bekasi dan kawasan komersial sebagai salah satu daya tarik lokasi Meikarta.
Kawasan juga memiliki layanan shuttle yang menghubungkan kawasan Lippo dengan Meikarta. Menurut Tesla, fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung mobilitas penghuni dan masyarakat di dalam kawasan.
Bagi sebuah kawasan hunian berskala besar, akses transportasi menjadi bagian penting karena mobilitas penghuni tidak hanya berlangsung di dalam kompleks. Penghuni juga membutuhkan konektivitas menuju pusat pekerjaan, pendidikan, pemerintahan, perdagangan dan fasilitas lainnya.
Karena itu, keberadaan akses menuju jaringan jalan utama dan fasilitas transportasi kawasan menjadi bagian dari perkembangan Meikarta sebagai lingkungan hunian.(PAH/SAL/ROY)












