BEKASI, LINTAS – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyampaikan permintaan maaf kepada Supandi, petani di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, setelah melihat langsung kondisi areal persawahan yang mengalami kekeringan selama sekitar tujuh bulan.
“Saya mohon maaf, Pak,” ujar Dody kepada Supandi saat inspeksi mendadak (sidak) yang tanpa didampingi pejabat Kementerian PU.
Dody menemukan areal persawahan yang terdampak kekeringan mencapai lebih dari 1.000 hektare. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena di sekitar lokasi terdapat sungai yang berjarak sekitar 2 kilometer dan disebut tidak pernah mengalami kekeringan.

Minta Jajaran Cek Lapangan
Setelah melihat kondisi tersebut, Dody langsung menghubungi Direktur Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA) Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw melalui sambungan telepon seluler.
Dody menyampaikan kondisi yang ditemukan di lapangan dan meminta jajaran terkait, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, segera mengecek persoalan tersebut.
“Sebagai negara, kita wajib ada di depan petani. Ada sungai 2 kilometer di situ yang tidak pernah kering, gampang saja tinggal tarik airnya pakai pompa ke saluran irigasi. Tapi ini dibiarkan sampai 7 bulan. Berarti anak buah kamu tidur selama ini!” tutur Dody kepada Arnold melalui sambungan telepon seluler.
Dody mempertanyakan kondisi tersebut karena terdapat saluran irigasi tersier di sekitar lahan, tetapi kondisinya sudah lama tidak terawat.
Berdasarkan informasi yang diterimanya dari petani, sawah tersebut sudah sekitar tujuh bulan tidak mendapatkan pasokan air.
Ia meminta Dirjen SDA dan BBWS Citarum segera turun ke lokasi untuk memastikan kondisi saluran serta mencari solusi agar air dari sungai dapat dialirkan ke lahan pertanian.
Memanfaatkan Sumber Air yang Ada
Menurut Dody, penanganan sebenarnya dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber air yang tersedia. Salah satu opsi yang dibahas adalah menggunakan pompa dan selang untuk mengalirkan air menuju saluran irigasi yang ada.
“Di sini ada air, ada irigasi tersier. Tinggal ditarik saja sebetulnya. Beli pompa, beli selang sedikit, kemudian masukkan ke irigasi,” kata Dody.
Ia juga meminta saluran irigasi yang sudah lama tidak dirawat segera diperbaiki. Dody menduga terdapat sedimentasi pada saluran yang menghambat distribusi air ke persawahan.
Dalam percakapan tersebut, Dody meminta PPK dan pejabat teknis terkait segera datang ke lokasi. Ia juga meminta jajaran Ditjen SDA tidak hanya mengandalkan laporan, tetapi melakukan pengecekan langsung bersama P3A dan Gapoktan.
Dody menekankan pentingnya pendataan dan verifikasi satu per satu terhadap lokasi yang mengalami kekeringan. Menurut dia, laporan mengenai kondisi irigasi harus dipastikan melalui pengecekan lapangan agar persoalan yang dialami petani tidak terlewat.
Pejabat Diminta Lebih Aktif
Ia juga meminta jajaran BBWS Citarum dan pejabat teknis lebih aktif berada di lapangan serta mengevaluasi pekerjaan yang belum berjalan sebagaimana mestinya.
Dody mengatakan dirinya sengaja turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi yang diterima dalam laporan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Ia mengaku menemukan sejumlah lokasi kekeringan yang menurutnya masih belum tertangani meski telah berlangsung selama berbulan-bulan.
“Sudah tujuh bulan. Bukan satu atau dua bulan. Tolong dikerjakan dengan benar,” ujar Dody.
Dalam kunjungan tersebut, Dody juga mengingatkan jajaran terkait mengenai target swasembada pangan 2026. Ia meminta persoalan kekeringan segera ditangani agar lahan pertanian dapat kembali memperoleh pasokan air dan tetap produktif.
Dari pembicaraan di lapangan, diketahui terdapat sumber air sekitar 2 kilometer dari persawahan. Selain itu, terdapat saluran di sekitar kampung yang dapat dimanfaatkan setelah dilakukan perbaikan untuk mengalirkan air menuju lahan pertanian.
Dody kemudian meminta jajaran terkait segera menindaklanjuti kondisi tersebut.
“Jangan mudah-mudahan. Kita kerja benar-benar,” pungkas Dody. (CHI)












