JAKARTA, LINTAS – Kepadatan arus kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk mulai terurai. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan, panjang antrean kendaraan yang sebelumnya mencapai lebih dari 20 kilometer kini berkurang signifikan menjadi sekitar 8 kilometer.
Penurunan antrean ini merupakan hasil dari berbagai langkah penanganan yang dilakukan Kementerian Perhubungan bersama Korlantas Polri dan PT ASDP Indonesia Ferry.
“Kita bekerja mencari solusi dan memitigasi kondisi di lapangan. Ini menjadi pembelajaran penting agar ke depan tidak terjadi lagi kepadatan seperti ini. Dalam beberapa hari, antrean yang sempat mencapai 20 kilometer kini sudah turun menjadi sekitar 8 kilometer,” ujar Dudy saat meninjau langsung kondisi di Gilimanuk, Selasa (17/3/2026).


Langkah Penanganan Dipercepat
Menurut Dudy, untuk mengurai kepadatan, pemerintah dan operator penyeberangan mengambil sejumlah langkah strategis. Di antaranya adalah pengoperasian kapal berkapasitas besar, penambahan armada menjadi 35 kapal, serta optimalisasi buffer zone di sekitar pelabuhan.
Selain itu, diterapkan pula sistem tiba-bongkar-berangkat (TBB) pada 25 kapal guna mempercepat proses bongkar muat kendaraan di pelabuhan. Dudy berharap langkah-langkah tersebut dapat memperlancar arus lalu lintas dan menuntaskan kepadatan sebelum Hari Raya Nyepi.
Truk Logistik Jadi Sorotan
Dudy juga menyoroti masih banyaknya kendaraan logistik sumbu tiga ke atas yang beroperasi selama periode angkutan Lebaran. Padahal, pembatasan telah diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB). Menurutnya, pelanggaran aturan ini menjadi salah satu penyebab utama kepadatan panjang di jalur menuju pelabuhan.
“Kami mengimbau para pengusaha angkutan barang untuk mematuhi aturan yang berlaku agar tidak memperparah kondisi di lapangan,” tegasnya.
Baca Juga: 290 Ribu Kendaraan Padati GT Cikampek Utama, Arus Mudik ke Timur Meningkat
Prioritas Kendaraan Penumpang
Dalam skenario penanganan lanjutan, kendaraan kecil dan bus akan diprioritaskan untuk naik kapal, mengingat tingginya jumlah penumpang pada kedua jenis kendaraan tersebut.
Sementara itu, kendaraan besar yang belum dapat menyeberang akan diarahkan ke buffer zone. Para sopir akan diberangkatkan menuju Pelabuhan Ketapang untuk sementara waktu sambil menunggu operasional kembali normal pasca Nyepi.
Menhub memastikan, para sopir tidak akan dikenakan biaya transportasi maupun akomodasi selama proses tersebut, karena seluruh kebutuhan telah disiapkan oleh pihak ASDP.
Dudy menambahkan, dari sisi Pelabuhan Ketapang, pemerintah juga menyiapkan langkah antisipasi agar arus kendaraan yang datang dari Gilimanuk tetap lancar. Salah satunya dengan memanfaatkan ruas tol fungsional dari Besuki serta penyediaan sejumlah buffer zone sebagai titik istirahat dan pengendalian kendaraan. (CHI)































