JAKARTA, LINTAS — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat dukungan penyediaan air bersih dan sanitasi bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.
Salah satu langkah utama yang disiapkan adalah pengeboran sumur air tanah, baik sumur dalam maupun sumur dangkal, di sekitar 48 titik secara bertahap, yang akan dilengkapi dengan fasilitas sanitasi berupa MCK.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan, ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan mendesak pascabencana untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit di tengah masyarakat. Oleh karena itu, setelah penanganan jalan dan jembatan mulai membaik, fokus pemulihan diarahkan pada penyediaan air bersih.
“Kalau sudah tidak ada air, penyakit pasti datang. Setelah urusan jalan dan jembatan mulai membaik, fokus kita berikutnya adalah soal air. Air bersih harus segera tersedia untuk seluruh masyarakat,” ujar Menteri Dody saat kunjungan kerja ke Aceh Tamiang, dikutip Kamis (15/12/2025).


Pengeboran Sumber Air
Menteri Dody menjelaskan, pengeboran sumber air dalam menjadi prioritas mengingat kondisi tanah pascabencana yang dipenuhi lumpur membuat pencarian sumber air dangkal semakin sulit.
“Kalau lumpur seperti ini, agak susah mencari sumber air di bawah 100 meter. Bukan berarti tidak ada, pasti ada, tapi memang lebih sulit. Karena itu saya fokus ke pengeboran sumber air dalam,” katanya.
Selain pengeboran, Kementerian PU juga akan mengombinasikan upaya perbaikan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang terdampak bencana dengan pembangunan sumber air baru. Langkah ini dilakukan agar air yang dihasilkan benar-benar layak dan aman dikonsumsi masyarakat, dengan dukungan personel dari unsur TNI dan Polri.
“Kita kombinasikan perbaikan SPAM yang rusak dengan pengeboran sumber air dalam, supaya air yang keluar benar-benar bisa menjadi air bersih bagi masyarakat,” tutur Menteri Dody.
Upaya percepatan pengeboran air tanah ini diharapkan dapat mendukung pemulihan sejumlah SPAM di Aceh Tamiang yang mengalami gangguan akibat bencana, sekaligus memastikan ketersediaan air bersih secara berkelanjutan bagi warga.
Bantuan Air Bersih dan Sanitasi
Sambil menyiapkan proses pengeboran, Kementerian PU juga terus menyalurkan berbagai bantuan sarana dan prasarana air bersih serta sanitasi.
Di Kabupaten Aceh Tamiang, Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) telah menyalurkan 27 unit tangki air bersih untuk hunian umum (HU) dengan kapasitas 1.000 liter dan 2.000 liter.

Tangki-tangki air tersebut ditempatkan di sejumlah kecamatan sesuai arahan Bupati Aceh Tamiang dan saat ini dilakukan pengisian dua kali setiap hari guna menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat. Untuk mendukung sanitasi, Kementerian PU juga telah memasang 13 unit toilet portable serta 10 set toilet knockdown yang disesuaikan dengan lokasi hunian umum.
Seluruh fasilitas sanitasi tersebut dibersihkan secara rutin dua kali sehari, pagi dan sore. Selain itu, satu unit armada truk tinja juga dioperasikan secara berkeliling untuk melakukan penyedotan tinja, guna menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Dukungan Kementerian PU terus diperkuat melalui pengiriman tambahan sarana dan prasarana dari Jakarta. Saat ini, bantuan tersebut dalam proses pengiriman melalui Pelabuhan Patimban dan Pelabuhan Belawan (Medan) menuju Aceh Tamiang, dan berada di perairan Batam menggunakan Kapal Ostina.
Adapun bantuan yang dikirimkan meliputi dua unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile Setta, satu unit mobil double cabin, satu unit mobil sedot tinja, 40 unit hunian umum berkapasitas 2.000 liter, delapan unit tenda, 20 unit velbed, 10 unit toilet portable, serta 10 unit mobil tangki air. (CHI)
Baca Juga: Jelang Nataru 2025/2026, Menhub Dudy Tinjau Pelabuhan Merak hingga Bojonegara





