Home Berita Kementerian PU Identifikasi Kerusakan Bendung dan Jaringan Irigasi D.I. Pante Lhong Bireuen

Kementerian PU Identifikasi Kerusakan Bendung dan Jaringan Irigasi D.I. Pante Lhong Bireuen

Share

JAKARTA, LINTAS – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan identifikasi menyeluruh terhadap kondisi Bendung dan Jaringan Irigasi Daerah Irigasi (D.I.) Pante Lhong seluas 6.562 hektare di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.

Langkah ini dilakukan sebagai tahap awal penanganan kerusakan infrastruktur irigasi akibat banjir dan limpasan air (overtopping) yang terjadi sebelumnya.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, penanganan pascabencana harus dilakukan secara tepat sasaran dan efisien. Oleh karena itu, identifikasi kondisi eksisting menjadi dasar penting sebelum menentukan desain dan metode penanganan.

“Untuk D.I. ini harus diidentifikasi dan dibuatkan desain penanganannya terlebih dahulu karena sungainya melebar sangat signifikan. Tujuannya agar bendung ini tetap bisa dimanfaatkan. Dalam proses penanganan nanti, kami juga akan melibatkan padat karya untuk normalisasi saluran irigasi agar air kembali mengalir ke sawah-sawah,” tutur Dody.

Sumber Utama

Bendung D.I. Pante Lhong merupakan sumber utama penyediaan air irigasi bagi area persawahan seluas 6.562 hektare melalui intake kiri. Namun, hasil peninjauan awal menunjukkan bendung tidak dapat berfungsi secara optimal akibat endapan sedimen yang menumpuk pada bangunan intake dan apron mercu.

Selain itu, kerusakan juga teridentifikasi pada tanggul kanan di bagian hulu bendung. Endapan sedimen ditemukan pada trashrack, kantong lumpur, serta pembilas kantong lumpur. Kondisi ini diperparah oleh kejadian overtopping yang menyebabkan putusnya tanggul sungai di hulu dan berdampak langsung pada tubuh bendung.

Agar Bendung D.I. Pante Lhong dapat kembali berfungsi, diperlukan sejumlah penanganan, antara lain pembangunan kembali tanggul sungai, normalisasi trashrack, serta normalisasi kantong lumpur.

Tidak hanya bangunan utama bendung, hasil identifikasi juga menunjukkan kerusakan signifikan pada jaringan irigasi dan area persawahan. Sejumlah saluran tertutup mengalami keruntuhan akibat genangan air, sementara beberapa ruas saluran kehilangan tanggul akibat limpasan banjir.

Distribusi Air Irigasi Terganggu

Endapan sedimen juga ditemukan pada saluran sekunder dan area persawahan, dengan luas sawah terdampak mencapai sekitar ±1.282 hektare. Kondisi tersebut menyebabkan terganggunya distribusi air irigasi dan menurunnya fungsi layanan irigasi bagi para petani.

Untuk memulihkan fungsi jaringan irigasi dan area persawahan, diperlukan pekerjaan rehabilitasi saluran yang rusak, normalisasi saluran, serta rehabilitasi lahan pertanian terdampak banjir. Total kebutuhan anggaran penanganan jaringan irigasi dan area persawahan D.I. Pante Lhong diperkirakan mencapai sekitar Rp79 miliar.

Adapun identifikasi teknis dan penyusunan desain penanganan bendung dan jaringan irigasi akan ditangani oleh Direktorat Bina Teknik, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian PU.

“Untuk identifikasi dan desain permasalahan bendung serta jaringan irigasi, nantinya akan melalui Direktorat Bina Teknik Sumber Daya Air. Dengan begitu dapat diketahui skema penanganan yang tepat, sehingga secara bertahap persawahan bisa kembali terairi,” jelas Dody. (*/CHI)

Baca Juga: PU Gerak Cepat Tangani Banjir Bandang Susulan di Agam, Sumatera Barat

Oleh:

Share