Home Berita Jembatan Gantung Sukasari Tuntas, Hubungkan Dua Desa di Purwakarta

Jembatan Gantung Sukasari Tuntas, Hubungkan Dua Desa di Purwakarta

Share

JAKARTA, LINTAS – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) DKI Jakarta–Jawa Barat telah merampungkan pembangunan Jembatan Gantung Sukasari di Kecamatan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Infrastruktur ini menjadi akses baru yang menghubungkan Desa Sukasari dan Desa Ciririp, sekaligus memangkas waktu tempuh masyarakat hingga separuhnya.

Pembangunan jembatan yang dilaksanakan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.1 BBPJN DKI Jakarta–Jawa Barat tersebut telah selesai dan siap dimanfaatkan masyarakat sebagai sarana penyeberangan yang lebih aman, cepat, dan andal.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.1 Satker PJN Wilayah I Jawa Barat, Agung Satrio Utomo, mengatakan pembangunan Jembatan Gantung Sukasari merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah dalam meningkatkan konektivitas wilayah sekaligus mendorong pemerataan pembangunan.

“Pembangunan Jembatan Gantung Sukasari tidak hanya menghadirkan infrastruktur fisik, tetapi juga membuka akses yang lebih baik bagi masyarakat. Dengan konektivitas yang semakin lancar, kami berharap mobilitas warga menjadi lebih aman dan efisien, sekaligus mampu meningkatkan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan dasar masyarakat di Kecamatan Sukasari,” ujar Agung, Selasa (14/7/2026).

Jembatan Gantung Sukasari dibangun selama 210 hari kalender, dimulai pada Desember 2025 hingga selesai pada Juli 2026. Jembatan ini memiliki panjang 60 meter dan lebar 2 meter. Infrastruktur tersebut dirancang untuk melayani pejalan kaki serta kendaraan roda dua ringan, sehingga memudahkan mobilitas masyarakat yang selama ini terkendala bentang alam dan kondisi sungai, terutama saat musim hujan atau ketika debit air meningkat.

Sebelumnya Harus Memutar

Sebelum jembatan dibangun, warga Desa Sukasari dan Desa Ciririp harus memutar melalui jalur alternatif yang lebih jauh untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut tidak hanya memperpanjang perjalanan, tetapi juga menghambat akses menuju sekolah, fasilitas kesehatan, serta distribusi hasil pertanian dan kegiatan ekonomi masyarakat.

Kini, setelah jembatan selesai dibangun, waktu tempuh antarwilayah yang sebelumnya berkisar 20 hingga 30 menit dapat dipersingkat menjadi sekitar 10 menit. Kemudahan akses ini diharapkan memperlancar aktivitas masyarakat, mulai dari anak-anak yang berangkat ke sekolah, warga yang membutuhkan layanan kesehatan, hingga petani dan pelaku usaha lokal dalam mendistribusikan hasil panen maupun komoditas lainnya.

Menurut Agung, pembangunan jembatan ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat konektivitas kawasan pedesaan sebagai fondasi pemerataan pembangunan. Akses yang lebih baik diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, meningkatkan produktivitas masyarakat, serta memperluas jangkauan layanan publik. (CHI)

Baca Juga: Hari Pertama Sekolah Rakyat Sragen Penuh Haru, Pendidikan Gratis Ubah Masa Depan Anak

Oleh:

Share